Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Tak Menyerah


__ADS_3

Jay menatap tajam, namun tatapannya beralih pada Merlyn yang terkulai lemas. Ia mengepalkan kedua tangannya. Marinka menodongkan pistol. Wanita itu mengarahkannya pada kepala Jay.


"Karena kamu ada disini, kamu juga harus mati." Ujar Marinka. Jay tertawa keras, Marinka mengkerutkan kening.


"Tuan!" Panggil Chris yang tiba-tiba datang. Ia datang tak sendirian, namun bersama dengan sekelompok pria berotot.


"Menurutmu, siapa yang menang kali ini? Kau hanya sendirian." Ucap Jay.


"Kalian urus ini. Aku akan membawa Merlyn ke Rumah Sakit."


"Baik, Tuan."


"Siapa yang menyuruhmu boleh pergi? Tak ada satupun dari kalian yang akan pergi darisini. " Ujar Marinka.


"Tempat ini sudah dipasang bom. Jadi, kalian tidak bisa keluar."


"Apa? Tidak mungkin." Seru Chris.


"Kenapa kalian tidak cek pintu nya saja? Menurut kalian, kalian bisa keluar lewat pintu itu?" Marinka menyeringai. Chris membuka pintu tersebut, namun pintu itu tak bisa dibuka.


"Tuan, pintu ini tak bisa dibuka." Ucap Chris.


"Apa?"


"Pintu itu hanya bisa dibuka dari luar. Dan sekarang, kalian terjebak disini."


"Tu..Tuan, sepertinya tak ada yang bisa kita lakukan lagi. Kita semua akan mati." Ucap Chris dengan nada sedih. Jay mengepalkan tangan.


"Sekarang, bunuhlah aku! Aku sudah siap untuk itu." Marinka tersenyum.


"Tetapi, asalkan kalian bisa mengalahkanku." Marinka melesat dengan cepat mengendalikan pistol dengan lincah. Gerakannya tak terlihat. Dor.. Dor.. Dor.. Tanpa waktu lama, ia berhasil menumbangkan belasan orang sekaligus.


"Kalian terlalu kecil untukku." Marinka tersenyum puas. Lalu, ia menodongkan pistol kearah Chris, namun Chris menghindar. Pria itu mengambil pisau dari balik pakaiannya.


"Aku mahir dalam menggunakan pisau. Menurutmu siapa yang paling cepat?" Ejek Chris.


"Hanya pisau buntut." Marinka tersenyum licik.


"Ini bukan sembarang pisau. Kamu tidak sadar, kalau kamu sudah terluka dari pisau ini?" Ucap Chris.


"Sejak kapan dia.." Gumam Marinka. Ia melihat lengan kirinya terluka akibat pisau.


"Sudah lihat, kan, kalau pisau yang kau anggap buntut ini bisa melukaimu diam diam?"


"Aku terlalu meremehkanmu." Marinka menatap tajam.


"Tetapi, terima kasih karena goresan kecil ini menyadarkanku sesaat, kalau kamu bukanlah lawanku." Ujar Marinka. Ia tiba-tiba menghilang dari hadapan Chris. Chris kebingungan mencari wanita tersebut.


"Apa dia punya kekuatan khusus, bisa menghilang begitu?" Lirih Chris. Akan tetapi, tiba-tiba sebuah pistol mendarat pada kepala bagian belakang Chris.


"Sekarang, tamatlah riwayatmu!" Ujar Marinka, seraya menekan pelatuk. Dor.. Dor.. Bukan Chris yang terkena tembakan, tetapi dada Marinka yang terkena tembakan. Marinka tak mengira, dirinya lengah dan melupakan kehadiran Jay. Beruntung, peluru tersebut tak menembus jantungnya, ia mengenakan rompi anti peluru yang telah ia prediksi sebelumnya.


"Sekarang!" Seru Jay. Chris mengarahkan pisau miliknya, namun Marinka berhasil menghindar.


"Sial!" Seru Chris. Jay menodongkan pistol kearah Marinka, namun wanita itu terlihat santai.

__ADS_1


"Sampai jumpa semuanya!" Marinka mendekati salah satu tembok, ia membuka lubang tembok tersebut yang tertutupi dengan sesuatu. Lalu, ia kabur. Jay tak mengira, ada lubang tersembunyi. Saat ia mengejar Marinka, wanita itu sudah pergi.


"Kalian benar-benar bodoh." Ucap Marinka, ia tersenyum licik. Kemudian, ia mengambil sebuah alat dari balik pakaiannya.


"Sayangnya.. Kalian semua harus pergi dari dunia ini." Marinka menekan tombol melalui alat yang ia pegang. Duarr... Dalam sekejab, Gedung itu terhanyut dalam ledakan bom. Marinka tersenyum puas. Lalu, ia meninggalkan tempat tersebut.


***********************************


Jonathan senang melihat Marinka berhasil melenyapkan Jay dan Merlyn sekaligus. Ia memonitori mereka dibalik layar laptopnya. Mereka tak menyadari, ada CCTV yang terpasang gedung tersebut. Jonathan memejamkan mata sambil tersenyum. Alunan musik memecahkan keheningan sesaat. Jonathan menatap layar ponselnya, lalu menjawab panggilan.


"Halo!"


"Halo, Boss!"


"Misi clear, Boss" Marinka tersenyum.


"Kerja bagus, Marinka!" Sambungan telepon terputus.


"Hahaha...." Jonathan tertawa keras, ia meneriaki kemenangan yang ia rasakan. Ia mengira, musuhnya telah berkurang dua.


"Zion! Sekarang, tinggal giliranmu. Aku tidak sabar menunggu kematianmu." Jonathan menyeringai.


Sementara itu, pada kediaman Wilson....


"Haciim..." Hidung Zion terasa gatal.


"Siapa yang membicarakan aku?" Batin Zion. Ia menggaruk hidungnya.


"Maaf, Tuan Muda, diluar ada nona Terra kemari." Ucap salah seorang Asisten Rumah Tangga.


"Siapa Terra?" Anna tampak tak suka mendengar nama tersebut.


"Bukan siapa siapa, Sayang. Cemburu, ya?"


"Apaan sih? Gak tuh." Anna membuang muka.


"Bilang saja, sayangku ini cemburu." Zion membawa Anna kedalam pangkuannya. Kepalanya, ia sandarkan pada leher Anna. Gadis itu diam membeku.


"Sayaaang..!" Panggil Zion.


"Hmm?"


"Ayo kita menikah!"


"Heh? Kenapa tiba tiba?"


"Yah, karena aku tidak mau pria lain merebutmu dari sisiku." Zion memasukkan rambut Anna kebelakang telinga gadis tersebut. Pipi Anna memerah. Ia tak tahu harus berkata apa. Jantungnya berdegub kencang.


"Tidak sekarang!" Seru Terra, ia tiba-tiba datang. Zion melupakan Terra sesaat. Ia tertegun.


"Terra?"


"Aku hanya ingin menikahinya. Itu bukan urusanmu." Ucap Zion kesal. Anna mengamati Terra dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia tak menyangka, Terra gadis yang cantik.


"Terra benar." Sahut Wilson.

__ADS_1


"Kakek, bukannya sudah merestui aku dengan Anna?" Zion menarik nafas. Sedangkan, Anna melepaskan diri dari Zion. Ia tampak malu didepan Wilson.


"Aku merestui kalian, tetapi bukan saatnya untuk menikah. Banyak hal yang harus kalian lakukan dulu."


"Lihatlah, orang ini!" Wilson melempar foto seorang pria didepan Zion.


"Jonathan? Ada apa dengannya, Kek?"


"Apa menurut Kakek, aku akan takut melawannya?"


"Kakek tahu kan, kalau aku bisa beladiri?"


"Dia bukan lawan yang mudah." Jawab Wilson.


"Dan aku juga mendapatkan kabar kalau dia menyuruh seorang wanita Rusia melumpuhkan Jay dan Merlyn."


"Apa? Jay? Bagaimana mungkin?" Zion terkejut, ia tak menyangka secepat itu, pria tersebut dilumpuhkan. Anna juga tak menyangka, sesosok pria seperti Jay dikalahkan oleh seorang wanita.


"Bagaimana mungkin Jay dilumpuhkan oleh seorang wanita?" Zion tak percaya, ia mencerna kembali apa yang ia dengar.


"Wanita itu pembunuh bayaran. Dia juga sering membunuh orang dan terlibat dalam misi rahasia." Terang Wilson.


"Kalau begitu, ini tidak aman." Gumam Zion. Ia melirik Anna, gadis itu tahu, Zion mencemaskannya.


"Jangan khawatir! Aku bukanlah Anna dulu lagi yang terlihat lemah." Anna tersenyum, meyakinkan Zion.


"Aku akan menjadi kuat!" Tegas Anna.


"Baguslah kalau begitu." Ucap Wilson.


"Aku ingin gadis yang mendampingi cucuku, memiliki keberanian dan tekad yang kuat. Jadi, kalau kamu ingin terus berada disisi Zion, aku tidak ingin kamu menjadi gadis yang lemah, yang hanya bisa dilindungi tanpa memiliki pelindungan diri."


"Kakek, saya mengerti. Karena itu, saya akan buktikan kalau saya bukan gadis yang lemah." Tegas Anna. Wilson menyukai ketegasan Anna. Ia merasa yakin kalau dirinya merupakan gadis yang tepat untuk Zion.


"Baiklah, kalau begitu, tunjukkan aku tentang segala kemampuanmu! Aku butuh bukti bukan hanya omongan saja."


"Kakek, aku rasa Kakek sudah keterlaluan. Bagaimana tangan selembut ini harus belajar kasar?" Ucap Zion, ia memegang tangan Anna.


"Aku hanya tidak ingin, dia jadi beban bagimu." Ucap Wilson.


"Dia tidak pernah jadi beban bagiku, Kek. Dia adalah segalanya bagiku."


"Karena aku adalah segalanya untukmu, aku tidak bisa hanya melihatmu berdiri untuk melindungiku, sementara aku tak bisa berbuat apa-apa, selain melihatmu terluka." Ujar Anna.


"Zion, aku bukanlah wanita yang lemah."


"Aku tahu itu."


"Kalau begitu, mulai sekarang, Terra akan mempelajarimu beladiri dari tingkat dasar hingga tingkat profesional."


"Baik, Kakek." Jawab Anna.


"Dan untuk anak nakal sepertimu, jangan harap bisa kabur dariku!" Ujar Wilson.


"Maaf, Tuan, saya datang terlambat." Ucap Darion, ia tiba-tiba datang. Entah kenapa, Zion memiliki firasat buruk.

__ADS_1


__ADS_2