Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 53 Penyamaran


__ADS_3

Langit mulai redup, tatkala malam tiba dengan cepat. Sosok gadis cantik bernama Anna bergegas ke Rumahnya untuk memeriksa sepatu olahraga yang menjadi ingatan dimasa lalunya. Merlyn sendiri berpisah dengan Anna dan telah pulang.


Anna berjalan kekamar Jonathan. Langkahnya tak berisik, tak mengundang satu orang untuk mengikuti gerak-geriknya. Gadis itu membuka pintu dengan hati-hati. Tatapannya beralih pada lemari putih Jonathan. Gadis itu memeriksa dengan teliti disekitar lemari pakaian Jonathan. Namun, ia tak menemukan apa yang ia cari.


Anna tak menyerah. Pencariannya berlanjut, ia meraba dibawah tempat tidur Jonathan. Mungkin ia menemukan sesuatu disana. Tetapi kosong. Gadis itu menghela nafas. Langkah selanjutnya, ia memeriksa bagian tempat-tempat tersembunyi lainnya yang tak mudah dilihat. Akan tetapi, rasa frustasinya kembali merenggut hatinya. Gadis itu merebahkan diri sejenak pada kasur yang empuk.


Perlahan, ia menutup mata. Bukan karena mengantuk, melainkan mengingat kembali akan sepatu olahraga dan seorang bocah laki-laki. Ia berpikir, tatapan bocah itu dengan Jonathan mirip. Semakin lama, ia mendekati titik terang, walau ia melewati banyak rintangan yang tak mudah ia hadapi. Anna memaksakan sedikit dirinya untuk mengingat kembali.


Flashback


Waktu itu Anna terbaring lemah usai terjatuh dari jurang yang cukup dalam. Dokter mengatakan sulit kemungkinan untuk gadis itu kembali sadar, mengingat penyakit bawaan yang ia derita. Namun, Tuhan berkata lain. Sebuah mukjizat terjadi, gadis itu bangun. Dokter tak percaya akan apa yang dilihatnya. Semenjak Anna sadar saat itu, segala hal telah berubah.


Gadis itu melihat sosok bocah laki-laki yang menatapnya sedih. Anna tersenyum kaku melihatnya. Bocah laki-laki itu mengusap rambut Anna lembut dan mengucap syukur karena Anna telah sadar. Ketika itu, panggilan pertama dari mulut Anna, ialah 'kakak'. Robert dan Evelline tak tahu harus berbuat apa. Untuk memikirkan kondisi Anna agar tak semakin memburuk, dokter menyarankan mereka agar tak memberitahu yang sebenarnya terjadi pada Anna.


Akhirnya, mereka menuruti dan beranggapan bahwa Jonathan adalah kakak Anna. Sepasang suami istri itu mengadopsi Jonathan yang berasal dari anak yatim piatu. Awalnya, kehadiran Jonathan tak membuat mereka senang. Akan tetapi, bocah itu mampu membius mereka seketika. Ditambah posisi Anna yang tak berarti apa-apa, membuat mereka mengagungkan Jonathan dan bersikap tak peduli pada putri semata wayang mereka.


Flashback end


Tanpa disadari, Anna menghabiskan waktu dua jam di kamar Jonathan. Suara knop pintu terdengar ditelinga gadis itu. Jonathan melihat Anna terbaring dengan kerutan didahinya. Pria itu tersenyum, Anna bersikap manis seakan tak terjadi apa-apa.


"Kak Joe sudah pulang dari Kantor?"


"Daritadi. Aku habis diajak makan oleh rekan-rekan kerja."


"Oh pantes lebih lama dari biasanya."


"Ada apa tiba-tiba kesini?"


"Tidak ada, Kak. Aku hanga kangen kamar ini."

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Jonathan yang mulai curiga.


"Kakak ingat tidak, kalau dari kecil, aku sering ke kamar Kakak untuk mengajak kak Joe bermain?"


"Mana mungkin aku lupa," ucap Jonathan mengulas senyuman manis.


"Kenangan itu susah untuk dilupakan, ya, kan?" ucap Anna.


"Tergantung seperti apa kenangan itu."


"Tetapi, bagaimana kalau ingatan yang buruk akan terbuka kembali?"


"Kamu ingat sesuatu?" terka Jonathan.


"Aku hanya berpikir soal bocah laki-laki yang mendorongku ke jurang," Anna tersenyum sinis.


"Kamu yakin itu laki-laki? Gimana kalau itu perempuan?"


"Apa dia curiga?" batin Jonathan.


"Kak!"


"Ah, iya?"


"Kak Joe memikirkan apa? Kakak terlihat tak fokus."


"Aku hanya memikirkanmu, Anna," Jonathan menatap gadis itu perlahan. "Anna, aku..."


"Kak, aku ingin lihat foto kita berdua dulu. Kak Joe menyimpannya?" potong gadis itu.

__ADS_1


"Baiklah. Ayo kemari!" seru Jonathan. Anna mengumbar senyuman palsu.


°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°


Lantai putih bergesekan dengan sepatu menghasilkan suara yang cukup keras. Berbalut dengan aroma obat yang menusuk hidung. Menambah kesan dramatis, ketika tak banyak orang ditempat itu. Seorang wanita berpakaian suster berhenti disalah satu kamar Rumah Sakit. Sadar atau tidak dirinya, seorang pria menatap kamar tersebut dengan tatapan jahat.


Pria itu cukup lama memantau, ia menunggu waktu yang tepat untuk melakukan aksinya. Dalam hitungan menit, suster itu keluar dari tempat tersebut. Senyuman jahat tak lepas dari bibirnya. Karena merasa aman, pria itu masuk. Didalam, pria itu mengambil benda yang akan digunakan untuk kejahatan. Sosok pria yang terbaring di kasur yang ia duga adalah Jay, tatapannya tak beralih sedikitpun.


Pria itu mengambil korek api, lalu menyalakannya. Tanpa berpikir dua kali, ia melempar korek api mengenai tubuh pria tersebut. Ia tersenyum, saat api itu menjalar ke seluruh badan. Setelah itu, ia meninggalkan kamar Rumah Sakit dengan hati-hati. Ketika ia telah sampai pada lobby Rumah Sakit, pria itu mengirim pesan lewat WhatsApp, 'misi telah selesai'.


Marinka tersenyum membaca tulisan yang ditulis rekannya. Dia lega karena Jay mati. Kini, gilirannya untuk menjalankan misi. Marinka tersenyum lebar mengingat satu nama korban. Dia tahu lawannya susah untuk ia hadapi. Akan tetapi, ia telah menyusun strategi agar tak terjebak.


Wanita itu mengganti pakaian di mobilnya menggunakan setelan tak mencolok. Ia sengaja membiarkan rambutnya terurai serta agak sedikit lusuh. Wanita itu juga mengganti sepatu ket yang ia pakai dengan sandal jepit. Ia hampir lupa tak memakai kacamata untuk menyempurnakan penampilannya yang culun. Marinka memandang dirinya jauh berbeda dari biasanya, terlebih lagi, wanita itu tak memakai make up.


Serasa cukup puas, ia menjalankan mobil hitam yang berukuran kecil. Angin melambai lembut, seolah menyambut kedatangan Marinka. Mobil yang ia kendarai berhenti, sengaja memarkirkan jauh dari target. Marinka melihat sekitarnya kebetulan sepi. Ia berjalan dengan nafas stabil. Wanita itu terbiasa menyamar untuk melakukan aksi kejahatan. Tak aneh kalau Marinka tidak nervous.


Marinka melihat Rumah megah dengan desain yang berkelas. Ia tersenyum lebar. Ini kali ke tujuh ia berhadapan dengan orang kaya. Namun, itu tak mengurangi semangatnya. Wanita itu berjalan santai. Tiga bodyguard menahan langkah Marinka. Wanita itu pura-pura gugup.


"Siapa kamu?" tanya salah seorang bodyguard. Lelaki itu memiliki kumis tebal.


"Sa..saya adalah pembantu baru di rumah ini," ucap Marinka. Para bodyguard berdiskusi hingga salah satu diantara mereka menelepon majikan.


"Baiklah. Kamu masuklah!" ujar bodyguard yang paling muda, namun tatapannya tegas.


Marinka masuk dan disana ia melihat para asisten rumah tangga yang sibuk dengan berbagai kerjaan. Deheman pria tua mengalihkan fokus Marinka. Wanita itu bersikap sopan melihat Tuannya. Lelaki itu menyipitkan mata. Ia memeriksa penampilan Marinka. Benar yang dikatakan Jonathan, pria tua itu teliti. Marinka berharap, rencananya tak gagal.


"Kamu asisten rumah tangga yang baru?" tanya pria tersebut.


"Benar, Tuan."

__ADS_1


"Kakek!" panggil seseorang.


"Akhirnya, aku bertemu targetku, Zion." batin Marinka.


__ADS_2