
Zion dibawa ke kekediaman Wilson. Pria paruh baya tersebut menatap Zion sedih. Tak ada yang bicara selama dalam perjalanan. Zion pun tak ada yang ingin ia katakan. Ia tahu, jika dirinya terlalu gegabah, namun ia melakukan semua itu demi Anna. Ia takut, jika kondisi gadis tersebut kian memburuk. Bukan hanya rasa bersalah, tetapi ia juga tak sanggup menjalankan hidupnya, jika ia kehilangan orang yang ia cintai. Memikirkan itu, tubuhnya gemetar. Hatinya tepecah belah. Pikirannya kacau. Jiwanya tak terkontrol. Seluruh rasa emosi ingin ia keluarkan, tak terasa ia memukul kaca jendela mobil, hingga ada beberapa bagian yang retak.
Wilson tak bicara. Ia membiarkan Zion melepaskan kekesalannya. Saat Zion turun dari mobil, ia menutup pintu mobil dengan keras. Sebenarnya, Zion tak mudah tersulut emosi. Ia hanya takut tak bisa melihat Anna lagi. Dan pertemuannya dengan Anna tempo hari, ia tidak berharap itu adalah pertemuan terakhirnya.
"Ayo, masuklah!" Suara Wilson terdengar serak. Zion masuk dalam keadaan rambut yang berantakan. Nafasnya tidak stabil.
"Duduklah!"Ujar Wilson dengan nada yang lembut.
"Kamu sungguh ingin kabur darisini?" Tanya Wilson.
"Kenapa kau terus mengurungku? Aku hanya ingin menemui pacarku. Kau tahu diaa..." Tak terasa air mata mengalir pada kedua matanya.
"Dia sangat lemah. Dia memiliki penyakit jantung daridulu. Orang tua nya tak pernah menganggapnya, hanya karena kondisi tubuh nya yang lemah. Aku ingin melindungi gadis itu. Tetapi, saat ini kau bahkan melarangku. Gara-gara kau, aku tidak bisa bertemu dengannya saat itu. Kau tahu, dia menungguku lama? Dia bahkan tidak peduli dengan kondisi tubuhnya. Aku tahu dia itu gadis bodoh. Dia lemah, tetapi tidak ingin terlihat lemah. Dia selalu berpura-pura kuat didekatku. Apa aku salah, jika aku ingin menjadi tameng untuknya? Apa aku salah, jika aku terus berada disisinya? Aku bahkan tak peduli kau siapa, tetapi aku tidak akan tinggal diam, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Bahkan kematianmu takkan bisa menebusnya." Zion kesal. Wajahnya merah, penuh dengan amarah.
"Maafkan aku. Tetapi ini yang terbaik buatmu."
"Terbaik? Kau pikir kau siapa bisa mengaturku? Kau tak berhak melakukannya!" Teriak Zion. Beberapa pengawal mendekat, namun Wilson memberikan kode agar membiarkannya.
"Zion, kau masih terlalu muda. Aku juga berharap aku bisa memberikan semua yang kumiliki padamu. Kau tahu kalau aku sudah terlalu tua. Aku butuh pengganti. Jadi, aku memilihmu untu meneruskan semua aset yang aku miliki. Saat itu, kau bisa memutuskan apa yang akan kau lakukan." Wilson berusaha bicara lembut pada Zion.
__ADS_1
"Memutuskan? Aku? Kau ingin memisahkanku dengannya? Kau pikir kau siapa? Kau bahkan gak berhak mengatur hidupku!"
"Hei, bocah, dasar bocah! Aku tahu kalau kau tergila-gila dengannya. Aku bisa memberikan 100 gadis yang lebih cantik daripada gadis itu. Lagian, kau akan terlibat bahaya lebih besar, jika masih berada disisinya. Jangan keras kepala! Seharusnya, kau berterima kasih padaku. Saat itu, segerombolan orang membawa senjata tajam dan siap membunuhmu, jika saat itu aku tidak lewat jalur belakang untuk menyelamatkanmu, lalu siapa yang akan melakukannya? Kau sungguh tidak tahu balas budi!" Wilson merasa lega karena telah mengeluarkan segala isi hati nya, meskipun belum sepenuhnya.
"Aku tidak butuh 100 gadis. Aku hanya butuh dia. Apapun kau lakukan, aku akan melakukan dengan caraku sendiri! Dan untuk balas budi, aku bisa membalasnya suatu saat nanti. Tetapi tidak sekarang. Aku ingin menemuinya."
"Ah, dasar! Kau ini tak punya kekuatan apapun untuk melindunginya. Setidaknya, kamu harus banyak belajar dariku. Jerry saja bisa mati, apalagi orang sepertimu." Wilson keceplosan. Ia tak harus mengatakan hal itu.
"Kamu tahu darimana Jerry mati? Aku belum memberitahumu. Siapa kau sebenarnya? Katakan padaku, siapa kau sebenarnya? Apa kamu berkelompok dengan Jerry? Atau kau ingin menghancurkan Ax Group? Jawab aku, pak tua!" Tanya Zion. Wilson salah bicara. Ia memijat pelipisnya.
"Bocah, kamu ingin menyamakanku dengan orang rendahan seperti Jerry? Dia tidak satu level denganku. Dia orang yang licik dan serakah. Dia pantes mati, walaupun bukan aku yang melakukannya." Ujar Wilson.
"Kalau aku ingin menghancurkan Ax Group, aku dah dari dulu melakukannya. Dengan seluruh kekuasaan yang aku miliki, tak sulit bagiku menjatuhkan Ax Group dengan satu gerakan tanganku. Kamu lupa siapa aku? Semua aset yang dimiliki Ax Group, kurang dari setengah aset yang kumiliki. Mereka tidak ada apa-apanya." Ucapnya kembali.
"Aku ingin menjadikanmu penerusku. Aku ingin mengubah semua kekuatan kecilmu menjadi kekuatan yang sesungguhnya. Bukankah kamu ingin melindungi pacarmu? Dengan statusmu sebagai asisten manager, masih jauh jika bisa mengalahkan mereka. Kamu harus lebih kuat dulu, setelah itu baru kamu membawa pacarmu kesisimu. Bagaimana? Apa kau tertarik dengan penawaran exclusive ku?" Wilson menarik sudut bibir sambil menaikkan salah satu alisnya. Entah apa yang ia rencanakan. Apa itu sebuah anugerah atau jebakan bagi Zion. Yang jelas, ia tahu semua mengenai Zion, Anna, dan orang-orang disekitar mereka. Dan saat ini, Zion tak memiliki cara lain agar bisa melindungi Anna dari segala hal. Demi gadis yang ia cintai, ia bahkan rela menempuh jalur hitam.
"Buatlah aku kuat! Aku ingin melindunginya. Siapa yang berani melukai gadisku, aku tidak akan tinggal diam." Ujar Zion.
"Hahahaha. Ini jawaban yang aku inginkan. Mulai besok, aku akan membawamu kedalam medan pertemuran yang sesungguhnya. Medan yang penuh dengan rudal. Tetapi, kamu harus membiasakan diri untuk memanggilku kakek Wilson. Kamu mengerti?"
__ADS_1
"Aku tahu." Dan setelah semuanya selesai, aku akan menangkapmu dan memasukkanmu kedalam penjara." Batin Zion. Ia menyeringai.
**********************************
Chris membawa informasi terbaru mengenai keberadaan Merry saat ini. Ia memberitahu pada boss nya, Jay. Jay tersenyum. Ia tak sabar ingin mengetahui lebih lanjut.
"Kamu yakin, disini tempat tinggal Merry?" Tanya Jay.
"Saya sangat yakin, Tuan."
"Bagus. Kalau begitu, ayo kita..."
"Tunggu!"Tiba-tiba Jay memberikan kode agar tak bersuara. Ia melihat seorang pria keluar dari rumah Merry. Jay dan Chris bersembunyi agar tak ketahuan. Jay memberi kode pada Chris untuk membawa pria tersebut. Orang itu mudah dibekukan oleh Chris. Chris tersenyum, lalu membawa pria tersebut.
Setelah mereka masuk kedalam gudang milik Jay, pria yang mereka bawa, terlihat pasrah. Jay merasa aneh karena tak ada perlawanan dari pria itu. Jay merasa ada yang tak beres.
"Chris!" Panggil Jay.
"Ya, Tuan?"
__ADS_1
"Cepat kembali ke rumah itu lagi. Lalu, periksa keseluruhan rumah Merry!"
"Baik, Tuan." Chris segera pergi darisana dan menuju rumah Merry. Chris kaget ternyata ia melihat rumah gadis tersebut terbakar. Chris segera melihat kedalam dan tak peduli jika harus melewatkan berapa banyak kobaran api kearahnya. Ia melihat Merry terkulai lemas. Saat Chris memeriksa kondisi gadis tersebut, ia sudah tak bernyawa. Chris mengepal kedua tangannya, kesal. Namun, saat ia kembali, seorang pria bertopi hitam mencoba menusuknya. Chris tak berdaya.