
Anna menatap cermin, memandang keindahan dirinya. Ia tak bisa mempercantik diri, karena tak membawa peralatan make Up. Gadis itu hanya merapikan rambut, seraya mengulas senyuman. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu, mempercepat gerakannya.
"Sayang, sudah selesai?" Tanya Zion. Perlahan, ia membuka pintu karena tak ada jawaban dari Anna.
"Udah cantik kok." Zion memeluk Anna dari belakang.
"Andai aku membawa peralatan make Up ku." Bibir Anna mengerucut.
"Gak perlu make up, atau olesan apapun, bagiku kamu cantik apa adanya." Puji Zion. Ia mengecup pipi Anna. Gadis itu bersemu merah.
"Sebentar, sepertinya ada yang kurang." Ujar Zion.
"Benarkah? Mana?"
"Bayangan hati kita di Cermin." Goda Zion.
"Dasar, gombal!" Jantung Anna berdetak kencang.
"Beneran loh, sayang. Sini aku perlihatkan padamu." Zion mempererat pelukannya sambil menggerakkan tangan Anna dan tangan dirinya membentuk love.
"Lihat, kan di Cermin, ada bayangan hati kita berdua!" Ujar Zion. Jantung Anna berdetak semakin kencang. Ia tak sanggup berada didekat pria tersebut, hatinya seakan melompat keluar.
"Su..Sudahlah. Ayo, kita berangkat!" Ucap Anna semakin gugup.
"Imutnya." Batin Zion. Ia tak bisa menyembunyikan senyumannya. Ketika mereka keluar dari kamar, langkah Zion berhenti, saat melihat tangga.
"Kenapa Zion?" Anna tak tahu apa yang dipikirkan Zion. Tiba-tiba Zion menggendong Anna dengan ala bride style.
"Zi..Zion apa yang kamu lakukan?" Anna semakin gugup bersamaan dengan wajahnya yang kian memerah.
"Turun tangga dengan cara romantis." Mata kanan Zion berkedip, sembari menelusuri tangga.
"Aku berat. Turunkan aku!"
"Gak seberat luka ku melihatmu bersama Jay, sayang." Ujar Zion.
"Udah kubilang, aku gak ada hubungan apa-apa dengannya."
"Aku tahu kamu masih hutang penjelasan denganku." Ucap Zion.
"Nah, sekarang kita sudah sele..."
"Ehem..." Suara Wilson mengagetkan keduanya.
"Malu. Turunkan aku, Zion." Pinta Anna. Zion menurunkan Anna secara perlahan. Mereka gugup bersamaan.
"Mau kemana?" Tanya Wilson.
"Minimarket." Jawab Anna.
"Kencan." Jawab Zion.
"Ah, Kakek itu..."
"Sudahlah, pergilah!" Potong Wilson, seakan mengerti apa yang dikatakan Anna.
"Kalau begitu, ayo sayang!" Ucap Zion bersemangat. Ia melewati Wilson begitu saja.
"Kakek, saya permisi dulu." Ucap Anna sopan.
"Zion, apa ini cara kamu berpamitan dengan Kakekmu?" Tanya Anna. Zion bersikap acuh.
"Sudahlah gak apa-apa, Na. Dia memang bocah nakal yang tak ada sopan santunnya."
"Kakek, Zion pamit dulu." Ucap Zion menundukkan kepala dengan asal sambil tersenyum. Senyuman itu berubah tak lama.
__ADS_1
"Zion, pamitan yang benar!" Anna mencubit lengan Zion.
"Sudahlah, sayang, kita akan terlambat." Ujar Zion. Anna merasa bersalah pada Wilson. Wilson memberi kode dengan mengedipkan kedua mata sebagai tanda 'tak masalah'.
Zion membuka pintu mobil untuk Anna, kemudian memasangkan sabuk pengaman untuk gadis tersebut. Anna terlihat pasrah apa yang dilakukan Zion. Pria itu tak sabar untuk duduk disebelah Anna. Tanpa butuh waktu lama, ia duduk disebelah gadis tersebut. Zion mengemudikan mobil dengan baik. Anna memperhatikan wajah Zion tanpa bersuara.
"Kenapa? Ganteng, ya?" Goda Zion.
"Iya, saking gantengnya, aku pengen cubit pipimu." Ujar Anna. Tatapannya beralih ke luar jendela.
"Ada apa, sayang? Ngambek lagi?"
"Gak ada apa-apa."
"Cerita dong, sayang!" Ucap Zion. Ia membawa Anna bersandar pada bahu pria tersebut.
"Terkadang, aku iri melihat Kakekmu yang begitu menyayangimu."
"Kakekku adalah Kakekmu juga, sayang. Tetapi aku suka kesal cara Kakek menyayangiku."
"Dia melakukan itu semua demi kamu." Ucap Anna, ia menyentuh pipi Zion. Lalu, menyandarkan kembali pada bahu Zion.
"Kurangi egomu, kebiasaanmu, dan perhatikan dia lagi."
"Aku rasa, akhir-akhir ini, kesehatan Kakek menurun."
"Kakek sakit? Kok aku gak tahu, ya?"
"Itu karena kamu yang kurang peka." Anna menjewer telinga Zion. Zion tampak menyesal atas apa yang ia lakukan terhadap Kakeknya. Tatapannya redup. Pikirannya teralihkan.
"Sudahlah, fokus saja menyetir. Nanti, pikirkan lagi!" Ujar Anna, mencoba menenangkan Zion.
"Baiklah."
"Kamu bilang kalau kita pergi kencan di Taman, tetapi kok ke arah sini? Kayak pernah tahu."
"Ini lebih dari sekadar Taman. Bukan Taman biasa." Ucap Zion, Anna semakin penasaran.
"Sayang!" Panggil Zion.
"Apa, Zion?"
"Kok panggil Zion sih? Padahal aku suka, kamu panggil aku sayang."
"I..Itu..."
"Kamu sering panggil aku Zion. Aku ingin panggilan berbeda darimu."
"Lalu.. Kamu ingin aku panggil apa?"
"Sayang, honey atau baby juga boleh." Ucap Zion terkekeh.
"Memangnya kamu bayi, dibilang baby?"
"Baby spesial dihatimu, sayang." Ucap Zion.
"Atau..."
"Atau apa?"
"Panggil suami juga gak masalah." Ucap Zion sambil menggoda Anna.
"Apaan sih? Nikah aja belum." Pipi Anna merona.
"Ya udah, kita putar aja mobilnya."
__ADS_1
"Kemana? Gak jadi kencannya?"
"Kencannya di KUA, yuuk!" Goda Zion.
"U..Udah. Jangan ledekin terus-menerus! Fokus saja menyetir, sayang." Anna menutup wajahnya karena panggilannya untuk Zion. Ia tampak malu.
"Aku suka panggilan itu."
"Aku semangat untuk menyetir sekarang!" Seru Zion, seraya melirik Anna yang masih tak berani melihat Zion karena malu.
**********************************
Robert duduk menikmati secangkir kopi hangat. Ia memijat pelipisnya. Akhir-akhir ini banyak masalah terjadi pada Keluarga atau Perusahaannya. Evelyn duduk disebelah suaminya, karena melihat kegelisahan pria tersebut.
"Maaf, Tuan dan Nyonya." Ujar Lisa, ia memecah keheningan sesaat.
"Ada apa?"Tanya Evelyn.
"Nona Anna telah pulang." Ucap Lisa.
"Anak itu sudah mengenal Rumah, ya, sekarang." Sindir Evelyn.
"Ayah! Ibu!" Panggil Anna.
"Setelah apa yang kamu lakukan, kamu masih berani pulang ke Rumah?" Seru Evelyn. Ia melempar cangkir kopi Robert. Namun, cangkir tersebut ditangkap Zion.
"Maaf nyonya Robert. Itu bukan murni kesalahannya. Saya yang menyebabkan kekacauan ini." Ujar Zion dengan nada tegas.
"Jadi, ini kehormatan dan kesopanan yang diajarkan keluarga Wilson?" Sindir Evelyn.
"Sudah cukup! Kalian duduklah!" Tegas Robert.. Zion duduk disebelah Anna.
"Ayah.. Ibu.. Aku tahu kalian kecewa. Tetapi.. Kami saling mencintai. Aku tidak pernah mencintai Jay." Terang Anna.
"Lalu, kenapa kamu mau menikah dengan Jay, jika menikah karena terpaksa?" Tanya Robert.
"Itu semua karena kesalahpahaman. Aku mengira Jay menculik Zion. Aku tidak tahu ternyata dia menipuku. Dia memanfaatkan kelemahanku, dan mengatakan kalau dia akan melepaskan Zion dengan syarat aku harus menikah dengannya." Ujar Anna. Robert terbalut dalam pemikirannya.
"Lalu, apa selama ini kalian tinggal bersama?" Tanya Evelyn.
"Benar, Nyonya Robert." Jawab Zion.
"Kalian berdua tinggal satu atap yang sama, aku tak mengira kamu serendah itu, Anna." Ujar Evelyn. Anna menggenggam kedua tangan.
"Ibu, aku tidak serendah itu! Aku masih punya harga diri dan kehormatan yang aku agungkan." Tegas Anna. Ia kesal.
"Tenanglah. Percayalah padaku, sayang!" Bisik Zion. ia menggenggam tangan Anna dengan lembut. Anna sedikit tenang.
"Tuan Robert dan Nyonya Robert, saya sangat mencintai Anna. Saya tak mungkin melakukan sesuatu buruk terhadapnya. Bagi saya, Anna adalah nafas yang saya perjuangkan. Dan saya akan selalu melindunginya." Ujar Zion, ia melirik Anna.
"Melindunginya saja? Lalu, bagaimana dengan nasib kami berdua dan Perusahaan? Perusahaan memiliki citra yang buruk gara-gara Anna."
"Tenang saja. Saya akan melindungi Tuan, Nyonya Robert, dan Ax Group dengan kekuasaan yang saya miliki."
"Bukankah tak ada yang tak bisa dilakukan oleh keluarga Wilson?" Zion menyeringai. Evelyn tersenyum mendengarnya.
"Lalu, bagaimana cara kamu memulihkannya?" Tanya Robert. Ia tampak tertarik.
"Dengan bisnis." Ucap Zion.
"Saya berencana memberikan sejumlah saham terhadap Ax Group dan menjalankan proyek bersama Ax Group." Zion menyeringai.
"Bagaimana aku bisa menolak?" Ujar Robert. Evelyn tersenyum. Anna menghela nafas, ia mengerti akan apa rencana Zion, namun ia tak menyukai cara pria tersebut. Zion menatap Anna, ia mengerti apa yang dipikirkan kekasihnya.
"Percayalah, sayang. Ini semua demi masa depan kita berdua." Batin Zion sambil menatap Anna.
__ADS_1