
...***...
Devan menatap Liz. "Apa yang dia katakan itu adalah yang sebenarnya?"
Liz menggigit bibir bawahnya, dia diam sebentar. "Iya..., dia mengatakan yang sebenarnya." Suara Liz memelan. Namun diam-diam dia menatap para karyawan yang ada di sana.
Haha, mana mungkin mereka percaya kalau itu yang sebenarnya kan? Dari ekspresi mereka, jelas sekali terlihat kalau mereka tau yang aku katakan itu adalah kebohongan karna aku takut. Ayo ayo, iba lah pada ku, dan bencilah wanita ular ini. Berakting menjadi gadis lemah dan tidak berdaya, menjadi gadis baik adalah peran yang paling ku suka. Aku mahir loh dalam hal berakting, karna ini adalah keseharian ku.
"Lalu, apa yang membuat mu datang kemari?" Devan menatap tak suka pada Grisha.
Grisha sedikit terkejut, pasalnya dia tidak pernah melihat tatapan Devan yang seperti ini. Tatapannya yang dulu lebih hangat dan lembut, sangat nyaman jika di tatap olehnya, tapi sekarang ini?
"A-ada yang ingin aku bicarakan dengan mu, dan ini sangat penting." Grisha memainkan ujung jarinya, pertanda dia gugup?
"Baiklah, kita akan bicara di dalam." Devan menarik tangan Liz.
"Hanya kita berdua. Aku ingin bicara hal penting dengan mu, empat mata. Hanya ada kita," Grisha menatap Devan. Dari ekspresi Devan, Grisha tau pasti Devan menolak
Aku akan gunakan cara lama,
"Aku mohon..., dengarkan aku..., kali ini saja. Itu sangat penting." Grisha menatap Devan dengan tatapan sendu memelasnya, ekspresi memohonnya adalah senjata utama Grisha dahulu, untuk merayu Devan.
Dev, kau tidak akan bisa menolak ku kan? Jika aku berekspresi seperti ini? Jauh di dalam lubuk hati mu kau masih mencintai ku kan? Sayang? Ya, kau hanya memanggilnya sayang di depan ku, untuk membuat ku cemburu.
"Baiklah, kita akan berbicara berdua saja, di dalam. Ikut dengan ku."
Sudah ku duga! Devan tidak akan bisa menolak ku! Mana mungkin dia bisa menolak wajah memelas gadis favoritnya ini, aku tau Devan. Kau masih sangat mencintai ku, dan tenanglah hari ini aku datang padamu, dan tidak akan pergi dari mu.
Devan ingin berjalan masuk, namun tangannya di tahan oleh Liz. Devan menoleh, tampak tatapan aneh Liz, seolah tidak suka? Wajah Liz tampak murung, tapi bibirnya tidak mengatakan apapun.
__ADS_1
"Ada apa? Kau tidak senang?" Tanya Devan.
Liz terperanjak seketika. "E-eh tidak kok, kalau mau bicara, ya bicara saja. Ga masalah, aku akan tunggu di luar." Tambahnya sembari menampilkan senyuman manis itu.
Devan melihat tangan Liz yang masih menggenggamnya. "Ma-maaf!" Liz langsung melepasnya. Devan dan Grisha berjalan masuk, Grisha dengan wajah berseri dan senyuman merekah menutup pintu itu, di saat pintu itu hampir tertutup, Devan bisa melihat ekspresi tak suka Liz, dan kecewa...? Bahkan Liz tidak berkedip sama sekali.
"Nona...? Anda baik-baik saja? Mau saya buatkan kopi?" Tanya pegawai yang masih ada di sana, dia adalah Robin.
Liz langsung tersadar seketika. Dia mendadak tersenyum. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Lagipula mereka hanya bicara, apa yang perlu di takutkan."
Semua pegawai disana diam saja termasuk Anna dan Vin.
"Harusnya jika nona merasa tidak suka katakan saja, saya yakin tuan Devan akan mengerti. Dan lagi, jika wanita itu menyakiti nona muda, katakam saja pada tuan muda. Dia pasti akan membalasnya." Tambah salah satu pegawai, Dia adalah Smith.
"Ah tidak masalah, lagipula mereka hanya berhubungan di masa lalu kan? Ya hanya masa lalu." Gumam Liz dengan pandangan tertunduk.
"Nona muda, jika butuh hal lain bisa katakan pada ku. Aku masih banyak urusan dan berkas yang harus di kerjakan, aku pamit undur diri." Kata Anna berjalan pergi menjauh.
"Ah terima kasih sudah mendukung ku, aku akan berjuang mempertahankan milik ku, tidak akan aku biarkan siapapun merebut kebahagiaan ku, ini janji ku untuk diri sendiri." Kata Liz dengan senyuman hangat di wajahnya, dia menatap dua pegawai itu ceria.
Kedua pegawai itu tersentak kagum. Mereka seolah baru saja melihat dewi dengan cahayanya.
"Kalian juga pergilah, bukan saatnya menggosip. Tugas kalian banyak bukan?" Kata Vin menatap datar mereka.
Nona muda ini hebat juga, dia bisa berakting dengan sangat bagus. Harusnya dengan bakat luar biasa ini dia bisa menjadi artis yang sanyat terkenal. Bahkan Smith dan Robin jadi merasa iba padanya.
"Baiklah kalau begitu, Tuan Vin, Nona muda, kami undur diri. Jika nona muda memerlukan bantuan, cari saja kami." Kata Smith berjalan pergi di ikuti Robin.
"Ya! Terima kasih!" Liz melambaikan tangannya pada mereka.
__ADS_1
"Nona muda, dengan akting yang sebagus ini? Anda menganggur?" Tanya Vin saat hanya ada mereka berdua.
"Awalnya aku mendapat peran utama, tapi aku di tendang dan di gantikan oleh artis yang merupakan keponakan sutradara. Kau tau? Kemampuan orang dalam mengerikan, terkadang orang berbakat seperti ku juga harus menyingkir." Sahut Liz enteng, seolah sudah terbiasa.
"Oh ya ngomong-ngomong Vin? Bagaimana dengan akting ku? Menurut mu dua orang tadi percaya pada kata-kata manis ku?" Tambah Liz lagi.
"Aku rasa ya."
"Peran menjadi gadis baik, lemah lembut polos dan mudah tertindas adalah peran kesukaan ku, aku akan sangat menjiawainya~"
Eh bentar deh..., semua yang barusan adalah akting. Dia ingin membuat mantannya cemburu? Tunggu dulu...., jangan-jangan dia menikahi ku untuk membuat mantanmya menyesal, lalu cemburu, dan ingin balikan? Setelah mereka baikan maka Devan akan menendang ku?
Tidak bisa! Mereka tidak bisa balikan, gak bakal aku biarin Devan mendapatkan cintanya lagi! Dia harus tersiksaaa hingga gila! Itu harus! Jadi artinya aku memang harus menendang Grisha ya? Bagaimana caranya?
Tidak boleh, aku harus tetap berada di sisi Devan. Posisi ku sebagai istrinya tidak boleh tergeser. Penderitaan Mama Deyna harus terbalaskan. Liz..., kau harus memikirkan sesuatu. Aku..., aku sudah mempersiapkan diri dan begitu banyak rencana.
"Nona muda? Tangan anda bergetar? Anda baik-baik saja?" Tanya Vin.
Liz langsung tersenyum, tidak ada yang boleh curiga soal tujuannya yang sebenarnya.
"Aku benar-benar lapar, boleh aku cari makan?"
Vin menggeleng. "Tidak sampai tuan muda yang mengizinkannya sendiri."
Liz menghela napasnya. "Aku tau kau akan memberikan jawaban ini."
Bagaimana cara ku menendang Grisha?
"Aku akan menggunakan mu saat aku membutuhkan mu, seperti payung bukan?"
__ADS_1
Liz masih ingat kata-kata Devan yang itu. Liz akhirnya menyadari satu hal.
Devan sialan, dia sudah memanfaatkan ku untuk balikan dengan mantannya? Semuanya adalah Permainannya, dan aku sudah terjebak di dalamnya. Jika dia sudah mendapatkan Grisha, apa dia akan membuang ku? Seperti payung yang sudah rusak?