
Bentar... Bentar, yang dia bahas dari kemarin uang uang dan uang, wanita bayaran bla bla bla. Jangan-jangan...
"Tuan muda marah karna uang? Ada apa? Kenapa berubah? Padahal dulu waktu awal ketemu, tuan muda tau jelas bagaimana aku menggilai uang."
Devan tersentak, matanya sedikit melebar.
Nah kan... Pasti soal uang. Kok bisa? Dia mau bangkrut ya? Makanya sensian soal uang?
Ha~
Devan menghela napasnya, membuat Liz sendiri kebingungan, itu wajar kan?
Ya itu benar, lagi pula dari dulu aku tau dia adalah penggila uang. Bukan dia yang berubah, kenapa aku marah? Karna aku lah yang berubah.
Devan diam, namun di kepalanya di penuhi oleh ingatan-ingatan dia menghabiskan waktunya bersama Liz, dan bagaimana dia menghenpaskan rapat-rapat penting demi menjemput Liz.
"Akhirnya aku mengerti segalanya...,"
Liz sedikit memiringkan kepalanya. "Mengerti, soal apa?" Harus dia akui, dia juga tidak tau soal ini.
"Kalau aku masih kaya? Kau akan menetap kan?" Devan kini mengganti pandangannya menjadi sedikir, hang-at mungkin?
Liz diam sebentar. "Kalau aku jawab aku tidak tau bagaimana?"
"Ya lagipula itu tidak penting, selama aku tidak melempar mu, maka kau akan tetap di sisi ku. Aku pastikan itu...,"
Cupp...
Devan mencium kening Liz lembut. Sedikit mengusap rambut lembut gadis itu. "Bahkan saat belum mandi juga masih terasa wangi, pakai shampo apa?"
"Kan kita pake shampo yang sama. Jadinya belum mandi juga bi--Ehh!! Belum mandi?!!" Liz melihat pakaiannya, dia bahkan masih memakai piama tidurnya saat ini. Liz baru sadar, saat dia membuka mata, dia hanya mencari Devan tanpa memikirkan dirinya sendiri.
Devan menyentuh pipi Liz yang saat itu di tampar Grisha. "Udah gak berbekas sih, tapi apa mau ke dokter?" sentuhan tangan yang begitu lembut, dengan suara yang begitu hangat. Itu pertama kalinya Liz mendengar Devan begitu.
Liz menarik rambut Devan agak kuat.
"Akh..., apa? Kau marah aku menyentuh mu?" Devan semakin mendekatkan wajahnya pada Liz. Wajah Liz sendiri sudah merona panas, jantungnya berdegub tidak seperti biasanya. Bukan hanya dari Liz, jantung Devan juga sama cepatnya.
Devan semakin mendekat hingga akhirnya dia mencium bibir mungil iti, Liz tidak tau, otaknya sudah memintanya untuk menolak, ta-tapi entah kenapa, tangannya tak bisa mendorong Devan menjauh.
Bukhhh
__ADS_1
Liz memukul kepala Devan kuat.
"Apa-apaan kau ini?! Sudah mulai berani ya?! Begitu kah?! Sepertinya aku terlalu sering mentolelir kesalahan mu."
"Ish tunggu dulu, aku masih mencerna situasi sekarang. Ini mimpi bukan sih?" Liz menarik rambutnya sendiri. "Aww sakit, bukan mimpi ya?"
Devan mengernyitkan dahinya, "Apa itu artinya aku sering menjadi tamu dalam mimpi mu?"
Liz mengangguk dengan cepat, ya itu benar. Mimpi paling indah menurut Liz adalah saat Devan berlutut di depannya, dengan suara yang memohon dan air mata yang mengalir, mengemis untuk meminta Liz tetap bersamanya.
Contoh mimpi indah yang sempurna, ya gitu.
Devan kembali duduk di sebelah Liz. "Ini bukan mimpi, "
Apa-apaan semua yang terjadi. Padahal masih pagi, tapi otak ku harus dia buat terbakar karna terlalu banyak berpikir.
Liz memijit keningnya yang sedikit nyut-nyutan. "Kalau begitu, aku pulang dulu ya. Mau syuting lagi." Liz bangkit berdiri, namun Devan menarik gadis itu dan membuatnya duduk dalam pangkuan Devan.
Liz untuk sepersekian detik benar-benar memperhatikan Devan.
Bulu matanya lentik, rambutnya acak, hidungnya masih baik-baik aja bibir nya. Eh bi-...
Wajah Liz langsung memerah.
"Gak perlu pulang, mandi di sini aja. Di ruangan ini semua lengkap."
"Tapi baju, aku ga punya baju di sini."
-
-
-
Dan..., beginilah pada akhirnya. Liz saat ini sedang memakai kemeja Devan, putih dan kebesaran!
Wajah Devan memerah! Ini untuk pertama kalinya ekspresinya bisa terbaca seperti itu.
Waitt... Bentar, itu Devan? Seriusan? Udah mulai ada rasa kan? Ya kan? Iya sih... Tapi lucu juga liat dia yang biasa pasang ekspresi dingin kayak es, terus merah gitu, hahah.
Liz tersenyum, Usaha ku ga akan sia-sia, sedikit lagi... Semangat Liz!
__ADS_1
"Apa aku harus keluar dan membeli baju dengan penampilan begini?" Tanya Liz mencoba seperti biasa. Padahal saat ini niatnya adalah
Menggoda Devan sampai dia malu, saking malunya sampai mau bersembunyi di sebuah lubang pekat yang dalam.
"Ya kalau gitu setiap jalan yang telah kau lalui, selalu ada jasad nantinya."
"Aihh, aku baru tau suami ku sangat kejam dan ekstrim seperti ini~"
Tok tok
Ketukan itu mengalihkan perhatian keduanya.
"Aku akan membukanya." Kata Liz melangkah dengan ceria.
"Satu langkah lagi, kupastikan kaki kecil mu akan patah." Devan bangkit berdiri, dia keluar dari pintu, lalu tidak berapa lama datang membawa beberapa baju yang indah.
"Mana yang kau sukai?"
Aneh, dia rasanya lebih sering ngancem. Dan anehnya aku sama sekali gak takut? Oiya, ngapain takut, yang harusnya takut tuh Devan. Kan targetnya dia, aku yang buru kan?
"Boleh ku bawa pulang semua? Boleh ya? Ya? Ya?"
Devan mengabaikan Liz, dia mengambilkan sebuah dress berwarna kuning tua. "Ambil ini dan pakailah." Devan melempar gaun itu.
Saat ini Liz sedang berganti pakaian. Devan duduk menyandar di kursi kebanggaannya.
Aku sadar, aku mulai menyadarinya, aku mulai menyukainya. Entah sejak kapan, entah lah, aku juga tidak tau... Sejak kapan ya?
Sejak kapan mainan yang aku pungut kini mulai mempermainkan perasaan ku? Sejak kapan? Sejak dia memanggilku dengan panggilan manis? Sejak dia selalu ada saat aku membuka mata di pagi hari? Atau sejak saat aku pertama kali bertemu dengannya?
"Suami ku~ Bagaimana penampilan ku? Katakan aku cantik atau aku akan meminta pendapat pria lain."
Suara yang selalu di rindukan telinga Devan itu mulai bersuara lagi dengan hangatnya. "Kalau begitu, biarlah pujian untuk mu darinya adalah wasiat terakhir nya."
Devan menatap Liz, dia tersentak sedikit, namun senyum itu dia tunjukkan, tanpa sembunyikan seperti biasanya. "Kalau ada orang yang bilang kau cantik, katakan pada ku, minimal matanya buta deh."
"Kejam sekali, maksudnya aku jelek gitu?"
Devan hanya diam, dia menatap Liz sebentar. "Tunggu sarapannya sebentar lagi, aku akan mengantar mu ke tempat syuting."
"Jadi aku benar-benar jelek ya? Bahkan tuan muda menghindari pertanyaan ini?"
__ADS_1
Tapi entahlah, aku sekarang merasa benar-benar yakin, setidaknya dia menaruh rasa pada ku, walau hanya sedikit. Tugas ku hanya perlu mengembangkannya, meski harus mengorbankan kening dan bibir ini, aku baik-baik saja..