
...***...
Sudah satu minggu Liz berada di kediaman Arkasa, kerjaannya hanyalah makan, tidur, main, minum teh, dan membantu Thifa sedikit.
"Liz, mau ikut kakak ga belanja?" Tanya Alreya menarik tangan Liz.
"Ehmm, engg--"
"Hari ini kakek Nathan bakal datang, dia bakal gangguin kamu dan aku. Aku gini buat menyelamatkan mu." Bisik Alreya cepat, saat dia tau jawaban apa yang akan adik iparnya keluarkan.
Liz diam sebentar, dia menatap Alreya heran.
"Jangan seret-seret istri ku dalam masalah mu. Kami gak pernah masalah kalau kakek datang, yang masalah itu kan kakak." Potong Devan cepat, menarik Liz ke sisinyaa, merangkulnya erat agar tidak ada yang mengambilnya.
"Masalah? Masalah apa?" Liz menatap Devan intens, matanya meminta jawaban sedetail-detailnya.
"Jadi kakak bakal di jodohin, ga tau sama manusia jenis gimana." Jelas Reya lesu.
Liz menatap Reya iba, kali ini wanita itu sungguh tulus.
"Ja--"
"Ayo belanja kakak ipar!" Liz langsung menarik tangan Reya. Namun saat beberapa langkah Liz berhenti, dia berbalik dan berlari ke arah Devan.
"Suami ku~" Panggil Liz dengan suara khas dan tatapan memelas versinya.
"Hmmm?" Devan menaikkan sebelah alisnya, dia tentu tau apa yang istrinya ini inginkan. Yah, tapi menurutnya pura-pura tidak tau itu seru juga.
Liz mengulurkan tangannya. "Nafkahnya dong~" senyuman manis dia tampilkan.
"Apa menurut mu cukup dengan senyuman?" Devan menyeringai senang.
Liz hanya diam dengan cemberut. Senyumannya hilang seketika.
"Gapapa de, nanti kita beli pake card kakak." Sambung Reya merangkul bahu Liz.
"Cuma buat informasi ya, card mu di blok sampe kau mau bertunangan sama dia." Kata Devan enteng.
Wajah Reya membatu seketika. Dia tau, meski adik kembarnya ini sering usil, tapi kali ini Reya yakin Devan serius.
Reya mengulurkan tangannya pada Devan. "Minta dong, kau kan kaya."
"Apa kita pernah kenal?"
Cupp
__ADS_1
Liz langsung mengecup pipi Devan lembut.
Pertikaian mereka harus di hentikan sebelum Thifa dengar, bisa panjang urusannya kalau Thifa ikut campur.
Devan tersentak halus, sedetik kemudian dia menampilkan senyuman khususnya untuk Liz. "Aku beneran ga bisa menang dari mu." Devan mengeluarkan black cardnya, dia memberikannya pada Liz.
Senyuman merekah dari wajah Liz. "Boleh habisin berapa digit?"
Devan menyeringai. "Itu pertanyaan?"
"Nah artinya kita boleh pakai berapapun. Yo jalan dede ipar kakak." Reya dengan cepat menarik Liz pergi.
...***...
Setelah berbelanja dengan ria dari pagi sampai sore tanpa tau waktu akhirnya mereka berdua pulang. Obrolan ringan nan ceria keluar dari keduanya dengan menenteng begitu banyak belanjaan.
Tepat saat masuk, mereka berpapasan dengan Thifa.
"Loh? Abis darimana? Belanja ya? Kok ngajak mama sih?"
Alreya menatap Thifa datar. "Ga mau, Reya ngambek sama Mama." Reya berjalan meninggalkan Thifa dan liz. Dia dengan cepat melangkahkan kakinya.
Tepat saat suara langkah kaki Reya tak terdengar, suasana menjadi sepi dan canggung. Liz juga ingin segera pergi, namun rasanya tidak sopan kalau dia pergi duluan.
Meskipun seminggu udah berlalu, tapi rasanya ada jarak antara aku dan Liz. Kami jadi sulit akrab? Apa karna hubungan mertua dan menantu? Dia takut aku galak? Tapi, sama Reya dia akrab kok.
Liz masih diam, tatapan Liz hanya menunduk ke bawah.
"Iya, kapan-kapan." jawab Liz gagu. Entah kenapa tapi rasanya sangat sulit akting di depan Thifa. Liz tidak tau, mungkin karna dia sangat membenci Thifa jadi aktingnya gagu sekali.
Thifa diam sebentat, namun wajahnya kembali menampilkan senyuman hangat.
"Ah iya, apa Alreya ada cerita apapun? Kakeknya dan Mama berfikir untuk menjodohkan Reya dengan salah satu kenalan kami, orangnya baik, sangat cocok dengan Reya." lanjut Thifa mencoba membuka kembali pembicaraan.
"Kakak ipar ga ada bahas soal itu, mungkin dia kesal soal perjodohan, makanya dia tidak suka di bahas."
"Begitu ya, sayang sekali tadi kalian pergi. Kakek Nathan datang bersama orang tua calonnya." Thifa menarik Liz untuk duduk. Akhirnya keduanya duduk bersebelahan.
Siapa juga yang ingin menikah dengan orang yang ga dia kenal, dan ga dia cintai.
"Ma, Liz cape boleh izin ke kamar? Liz mau istirahat."
"Oh ya ampun, maafin Mama, Mama ga tau Liz cape. Ya udah, istirahat sana. Mau jus Nak?"
"Ga usah Ma, Liz istirahat aja." Liz bangkit berdiri. Dia berjalan sebentar, namun terhenti seketika. Dia berbalik dan berjalan ke arah Thifa.
__ADS_1
"Ini buat Mama," Liz memberikan satu totabag pada Thifa. Thifa diam, dia tidak tau perasaan apa ini, namun dia sangat senang.
"Maka--"
"Dari kak Reya." Sambung Liz cepat. Setelah itu Liz berbalik dan berjalan pergi.
"Liz!" Panggil seseorang, suara berat pria itu membuat Liz harus menghentikan langkahnya sekali lagi. Liz berbalik, tampak Tara masih mengenakan jas dokternya.
"Oh? Paman Tara? Ada apa?" Tatapan Liz tampak tidak suka.
Ah, kenapa rasanya kemampuan akting ku semakin payah? Kenapa sekarang rasanya terlalu sulit untuk menutupi perasaan ku yang sebenarnya. Aku sadar, akhir-akhir ini aku semakin terbawa perasaan.
"Tara? Ada apa?"
Oh?
Liz menaikkan sebelah alisnya.
Padahal sudah tau Thifa sudah menikah dan bahkan punya dua anak, tapi dia masih saja terus menemuinya seperti ini. Cintanya mengerikan, pantas saja sampai sekarang dia tidak pernah menikah.
Liz tersenyum kecut, dia sadar ada ruang di sudut hatinya yang berdenyut perih.
"Liz? Apa punya waktu? Mau nemenin Papa makan ga?" Tara tersenyum dengan hangat. Pandangannya tak lepas dari Liz, entah kenapa tatapan itu sedikit menggoyahkan hatinya.
"A-apa?!"
"Ada apa Nak? Kenapa kamu teriak, kayak kaget? Bukannya kamu udah sering ketemu Tara?" Thifa menatap heran.
"Bu-bukan gitu Ma, Agak aneh aja Paman Tara tiba-tiba ngajak makan."
Paman? Padahal terakhir kali Papa. Kenapa tiba-tiba berubah? Kebenciannya semakin membara?
Hati Tara sakit, telinganya bergetar mendengar panggilan itu.
Yah, mau bagaimanapun aku ga bisa nuntut. Dia membenci ku memang karna aku pantas di benci, Liz ga salah. Putri ku...,
Tara ingin sekali berlari dan memeluk perempuan itu, namun dia tidak berani melakukannya.
Aku tau, aku takut di dorong pergi, aku takut mendengar dia membenci ku langsung dari mulutnya.
"Maaf paman, Liz cape, mau istirahat. Baru pulang belanja sama kak Reya. Jadi Liz permisi pamit ke kamar." Liz berbalik melanjutkan langkahnya.
Omong kosong, dasar tidak tau malu, padahal mau bertemu Thifa malah menjadikan ku dalih, dasar sampah. Nikmatilah waktu kalian berdua, dan biarkan aku berfikir mulai darimana aku akan membalas dendam di rumah ini. .
...***...
__ADS_1