
...***...
"Hari ini kita akan bertemu desainer, kita akan merancang gaun untuk mu." Ujar Devan membuka pembicaraan di tengah-tengah sarapan yang tenang.
"Kita akan keluar? Males tau, lagi rame ngomongin kita." Kilah Liz dengan wajah sedikit sendu.
"Kita akan bertemu di kantor nantinya, dia yang akan ke kantor. Makanya, pagi ini kau akan ikut aku ke kantor."
Liz mengangguk mengerti. "Wow, suami ku memang yang terbaik. Benar-benar tau apa yang aku inginkan."
"Oh ya Liz, bagaimana kalau besok kita ke dokter? Ntahlah, rasanya aku hanya ingin memerika kesehatan mu." Devan terlihat gugup, tampak wajahnya sedikit memerah.
Waittt, jangan bilang dia mau periksa aku udah hamil atau belum? Anak ini anak IPA kan dulu? Padahal kami ngelakuin itu belum ada seminggu loh, engga, bahkan baru tiga hari. Bisa-bisanya dia mikir gitu.
"Devan, jangan bercanda. Lebih baik kita mengurus pernikahan kita yang gak lama lagi ini."
"Baiklah, kalau itu mau mu. Ya, aku harap anak itu cepat lahir."
"Hamil aja belum, gimana mau lahiran." Sahut Liz enteng.
Dan semoga ga hamil deh, bisa jadi bencana untuk ku dan masa depan ku. Ya Tuhan, aku mohon..., aku belum bisa menerima anugrah mu...
"Yah walaupun yang kemarin gagal, karna mungkin kau tidak sadarkan diri kita masih punya banyak waktu. Bahkan waktu seumur hidup, kita akan bersama selama itu."
Devan yang malang, dia ga tau aja aku bakal pergi tiga hari lagi.
...***...
..."Tik tok tik tok tik tok"...
Gumam Liz menatap jam dinding di atas. Saat ini dia tengah berada di ruangan Devan menanti desainer gaun yang datang.
"Suami ku, kenapa lama sekali? Kau tau? Aku dengar ada orang yang bisa mati karna bosan." Celetuk Liz.
Gapapalah, sekalian gangguin dia kerja. Habis pilih gaun, aku bakal ke tempat Anna. Aku mau liat, seberapa jauh rencana dia buat hancurin karir Devan.
"Kau mau bagaimana? Kita patahkan tulang tangan, punggung, atau lehernya?" Sahut Devan enteng, namun pandangannya masih terpaku pada benda persegi itu. Jarinya tak berhenti mengetik.
"Aku mau kau di sini, di sebelah ku."
Aku mau mengganggu pekerjaan mu tau!
__ADS_1
Jari Devan langsung berhenti, matanya sedikit membesar, dia tidak menyangka akan mendengar itu hari ini. Devan tersenyum miring. Dia menutup laptopnya, dan berjalan ke arah Liz. Namun langkah kakinya berhenti, dia menatap laptopnya sekali lagi.
Akan sangat sulit kalau aku terlambat menyelesaikan itu. Dan proyek ini sangat berpengaruh besar terhadap perusahaan ku, jika aku gagal, maka habis sudah. Tapi...
Devan mengacak rambutnya frustasi, dia berjalan mendekati Liz, tangan Devan dengan lembut mengusap kepala gadis itu, dia dengan hangat duduk di sebelah Liz.
Tapi bagaimana pun juga, dia lebih berharga dari apapun.
"Kau tau, kau sangat berisik."
"Eh- Kau gak kerja? Bukannya kau bilang itu sangat penting ya? Emangnya udah selesai?"
"Berisik." Devan membaringkan badannya, dengan posisi kepala ada di pangkuan Liz. Devan perlahan menutup matanya.
Bahkan aku sampai meminta desainer gaun itu datang 2 jam lebih lama agar aku bisa mengerjakan proyek ini dulu, tapi apa ini? Bahkan aku hanya baringan di sini.
Aneh! Perasaan dia tadi konsen banget, padahal dia bilang itu sangat penting, dan Anna bilang juga, ini benar-benar penting.
Tring!
Satu pesan notifikasi itu membuyarkan lamuna Liz, dia berdecak cukup kesal. Padahal tadi otaknya hampir mencapai sebuah kesimpulan.
Anna:
^^^Devan lagi tidur. Belum, aku belum pilih gaun. ^^^
Apa proyek yang Devan kerjakan telah selesai? Itu sangat penting untuk rencana pelarian kita. Ya, memang lebih baik balas dendamnya sampai di sini saja.
^^^Aku rasa dia belum menyelesaikannya. Iya iya, aku tau, akan beresiko jika sampai melanjutkan lebih dari ini, aku juga udah lelah. Makanya, ayo segera pergi. ^^^
Pr**oyek yang Devan kerjakan dan rencanakan akan aku curi, dan aku jual pada perusahaan pesaing. Jadi setelah proyek rencana itu selesai, kau bantu aku untuk mencurinya. Lebih cepat lebih baik kalau Devan menyelesaikannya. Kita bisa lari dengan banyak uang, toh karir mu menjadi artis juga sepertinya pupus**.
^^^Hmm, aku mengerti. Kalau dia selesaikan pekerjaannya, ntar aku kabarin. ^^^
Liz menutup hp nya, dia menatap wajah Devan yang saat ini ada di pangkuannya. Tangan Liz seolah bergerak sendiri membelai wajah tampan pria itu.
Tok! Tok! Tok!!
Ada yang mengetuk pintu di luar.
Siapa? Anna? Mau nyuri berkas? Kan aku udah bilang, Devan belum menyiapkannya.
__ADS_1
"Nona muda, tuan muda, desainer yang anda minta sudah datang."
Liz kenal suara itu, itu adalah suara Vin dari luar.
"Devan, sayang... Suami ku~" panggil Liz dengan sesekali menggoyang tubuh pria jangkung, yang cukup berat.
"Hmmm?"
"Kayaknya desainer udah datang deh."
"Hmmm Oke, suruh dia masuk." Devan mengusap wajahnya, dia bangkit duduk sebentar.
"Di rapiin dong rambutnya, nanti kalau mereka jadi suka sama suami ku yang kelihatan badas dan keren baru bangun tidur, terus rambut acak-acakan. Aku gak terima ya mereka natap suami aku penuh hasrat, apalagi pandangan ingin memiliki. Aku gak ikhlas." Liz merapikan jas, dasi, bahkan rambut Devan. Dia menyisir rambut Devan dengan jari-jarinya.
"Rapi atau acak-acakan, aku memang akan keren. Karna aku memang orang yang tampan."
"Ntahlah, aku mulai menyesal memuji mu."
Cuppp
Devan mengecup kening Liz. "Buka pintu itu cepat."
"I-iya!" Liz tidak lagi bisa menyembunyikannya. Wajahnya memerah, Liz sadar benar bahwa deguban jantungnya lebih cepat dari biasanya.
Devan tersenyum miring.
Padahal dulu jarang begitu, akhir-akhir ini wajahnya sering memerah ya? Rasanya aku lebih ingin menggodanya. Dan aku sangat pensaran, ekspresi mungil apa yang akan di tampilkannya.
Aku tidak tau, kalau jatuh cinta itu seseru ini. Padahal dulu sepertinya saat bersama Grisha tidak sampai seperti ini.
Liz membukakan pintu itu, namun dia masih memegangi dadanya.
Apa ini? Aku punya sakit jantung kah? Wajah ku juga rasanya panas, apa aku lagi demam?
"Silahkan masuk." Liz menyambut desainer itu dengan senyuman hangat.
Desainer itu masuk dan menunjukkan beberapan gaun berdominan putih yang sangat cantik, benar-benar indah.
"Yang ini, aku suka, istri ku yang pendek sangat cocok memakai ini."
Akhirnya pemilihan itu di tutup dengan pilihan Devan. Seujujurnya Liz juga suka dengan model seperti itu.
__ADS_1
"Tapi, aku ingin bagian depannya sedikit di rubah. Itu terlalu terbuka, pikirkan caranya agar bagian depan lebih tertutup, tanpa harus merubah keindahannya. Oh ya, ini harus siap dalam seminggu."
"Se-seminggu?!" Mata desainer itu membelalak kaget.