Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Resepsinya hari ini!


__ADS_3

...***...


Devan perlahan membuka matanya, hari memang sudah pagi, namun matahari belum bersinar sepenuhnya. Jantungnya kembali berdegub kencang, melihat istrinya ada di pelukannya. Ingatan hangat kemarin malam muncul di kepalanya, membuat pipinya memerah sedikit.


Senyum lembut nan hangat yang tidak pernah ia tunjukan pada siapapun, kini tertampil dengan jelas untuk Liz.


Satu tangan Devan mengelus punggung polos wanita itu, membuat sang pemilik punggung mengerang dan hampir terbangun.


Cup...


Satu kecupan manis di pagi yang masih gelap itu menyadarkan Devan, betapa dia sudah sangat mencintai perempuan ini.


"ehmmm" Erangan Liz sembari perlahan membuka matanya.


"Bangun, hari ini kita resepsi perayaan pernikahan."


Liz diam sebentar, mata yang tadinya sayup terbuka lebar. "Apa? Resepsi? Itu jadi? Ga di batalin?"


"Apa, kenapa dibatalin? Mempelai Wanitanya ada di sini, mempelai prianya juga ada di sini? Masalahnya apa? Kamu gak mau?" Oceh Devan padahal masih pagi.


"Tapi semua orang di villa ini kemana? Bukannya kosong karna di batalin, di sini juga ga ada persiapan tuh."


"Ya emang, kita bakal ngerayainnya di kediaman Arkasa, abis acara itu juga kita bakal tinggal di sana, jadi semuanya persiapan di sana."


Liz menganggguk mengerti, "Eh bentar, kalo misalnya kemarin malam aku ga balik, pasangan kamu siapa?"


"Ya ga ada." Jawab Devan enteng tanpa beban. "Yang presdir hebat ini inginkan, hanya Liz-nya." Devan kembali menghujani wajah polos itu dengan kecupan ringannya.


Debaran hati Liz bagai naik mengubah warna pipinya. "Devan!!!" Dia memeluk Devan dengan erat. Namun sepertinya Liz lupa kondisi tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun, hanya ada Selimut yang dia pakai bersama Devan.


Tubuh polos Liz memeluk tubuh pria yang sedang di mabuk cinta itu?


"Batas ku sudah habis." Bisik Devan di telinga itu. Devan kembali mendekatkan bibirnya pada Liz, sekali lagi mengulang kisah panas kemarin malam. Ayolah, padahal itu udah pagi, dan mereka masih ada acara.


Aku ga bisa nolak,


Liz memejamkan matanya, daerah kekuasaaan Devan mulai turun semakin ke arah yang sensitif, dan Liz masih menunggu dengan mata yang terpejam.


Ah, mungkin bukan karna aku ga bisa nolak, ini... Aku gak mau nolak.


Liz menggigit dada bidang pria itu. Sepertinya mereka berdua akan lupa waktu.


...***...


Acara yang harusnya terjadi di pagi hari, berkat kedua orang yang tidak tau waktu atau tidak tau malu ini, acaranya menjadi sore. Arfen dan Thifa hanya bisa tersenyum nyengir menyambut para tamu.

__ADS_1


Pagi hari itu, dengan rasa nyeri di pinggangnya, Liz mulai bersiap di kediaman Tara. Sesuai kesepakatan waktu itu, Tara akan menjadi walinya Liz.


Pada akhirnya? Ayah kandung ku, yang menjadi wali ku? Yah, walau tidak ada ijab kabul lagi karna kami memang sudah menikah secara sah sih.


Hah, bisa-bisanya dia jadi wali nikah untuk anak yang tidak di kenalnya.


"Luar biasa, penampilan anda tidak ada duanya. Bahkan gaun ini juga bersinar ketika anda memakainya. " Ucap desainer itu, dengan riang gembira.


Omong kosong, ya tapi aku memang cantik sih.


"Apa ini sudah selesai?"


"Hemm, sudah Nona, eh maksudnya Nyonya Devan Arkasa."


Liz tersenyum hangat, dia menggenggam tangan Desainer itu. "Terima kasih ya! Ini semua berkat mu! Aaa aku jadi cantik banget!"


"Itu sih emang wajah anda sudah luar biasa dari sananya!" Sahut nya tak kalah antusias.


"Apa kalian sudah selesai? Ayo kita berangkat. Kita sudah terla-" Ucapan Tara terhenti, dia menatap terpaku pada wanita yang ada di depannya.


Deyna...


Tara tidak tau apa yang baru saja di pikirkannya. Namun wajah Liz mengingatkannya akan Deyna. Tatapan mata yang benar-benar sama membuatnya mengulang kembali ingatan kejamnya pada wanita itu.


"Iya, udah siap kok, Pa!"


Mata Tara bergetar, dia menatap Liz lekat. Dia tidak tau kenapa, tapi hatinya bergetar begitu hebat. Air matanya mengalir begitu saja, ini adalah perasaan yang tidak dapat dia jelaskan.


Melihat ada air mata itu, Liz berajalan mendekati pria itu. "Ada apa? Om sakit?"


"Papa! Panggil saya papa! Seperti yang kamu lakukan tadi!" Antusias Tara.


Liz diam sebentar. "Eh... Oh, iya."


"Ya udah, ayo jalan, kita udah telat."


Ini sih bukan telat lagi namanya, ini sudah mengubah jadwal acara. Maafkan kami para tamu-tamu.


...***...


Devan yang dari awal sudah bersiap di kediaman Arkasa, menunggu Liz di depan pintu.


Sebuah mobil putih dengan iring-iringan yang meriah berhenti di depan gerbang rumah bak istana itu.


Tara turun terlebih dulu, dia membukakan pintu untuk Liz. "Nah, biarkan papa ini yang mengiringi langkah putrinya menuju pernikahan yang bahagia." Kata Tara mengulurkan tangannya bak seorang pangeran.

__ADS_1


Deg...


Jantung Liz tiba-tiba berdegub begitu kencang, ada perasaan yang baru saja bangkit setelah di kubur dalam dan rapat. Perasaan mendebarkan juga menyakitkan yang tidak bisa di jelaskan itu, bangkit kembali.


Liz diam, dia masih sibuk mengatur hatinya yang berkecamuk.


Apa ini? Kenapa begini? Sialan!


"Firlizy Defana?" Panggil Tara lagi, saat uluran tangannya tak di sambut hangat oleh putrinya.


"Eh, maafkan aku. Aku gugup sekali," Kilah Liz dengan senyuman gagu yang begitu manis. Dia menerima uluran tangan Tara. Keduanya saling bertatapan penuh senyuman, yup Tara senyuman manis dan Liz senyum kecut, tentu tidak ada yang sadar.


"Kenapa kau gugup?" Tanya Devan mendekat.


"Karna ini lebih meriah dari yang ku bayangkan, tamu-tamunya juga sangat banyak."


"Oh gitu, apa kita usir aja tamunya? Biar kau tenang?" Saran Devan enteng, entah itu dikatakannya saat otaknya ketinggalan di dalam sana.


Cinta buat orang jadi bodoh!


Itulah kira-kira perkataan yang tercermin dari wajah orang-orang yang ada di sana dan mendengarnya, mereka diam membatu tidak berani berkata-kata.


Bukhhh


Liz memukul Devan pelan. "Aku mohon, berkharisma lah suami ku. Ka--" pukulan pelan itu membuat Liz kehilangan keseimbangan nya, hingga Devan akhirnya menangkapnya.


"Ehmm, makasih. " Ucap Liz jelas dengan suaranya, senyumnya tampak sangat tulus hari ini.


Senyuman itu membuat seluruh tubuh Devan membeku, dia mulai melihat Liz dengan sangat jelas.


Wajah cantik dan polos yang selalu menggodanya itu, di rias seadanya karna dia memang sudah cantik, rambut panjang gelombang tertata rapi, gaun putih mewah dengan pola jahitan emas membuatnya bak putri yang ada dalam negri dongeng.


"Sungguh! Kita usir saja semua tamu! Khususnya pria, mau dia anak-anak juga aku tidak perduli. Bahkan Ayah dan Papa juga harus pergi!" Kata Devan tampak serius.


"Kalau kau mengusir semuanya, yang akan menyaksikan kau menggandeng tangannya siapa? Dasar anak ini, masih tetap bodoh." Suara ini, suara indah yang membuat orang-orang diam untuk mendengarkannya, meski suaranya sudah agak berat karna termakan usia, namun Tara masih bisa mengenalinya.


"Wah, ahlinya gombal sudah datang." celetuk Tara.


"Nah, aku Arfenik Arkasa menyambut mu sebagai menantu rumah ini, Firlizy Devano Arkasa."


...***...


...Welcome to S2...


...Happy reading^^...

__ADS_1


...Maaf hehe......


__ADS_2