Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Bekerja


__ADS_3

...***...


"Pagi nona Liz," Sapa seseorang tepat saat Liz baru saja memasuki lokasi syuting.


"Pagi senior Ken. Anda benar-benar profesional ya, datangnya benar-benar tepat waktu." Sapa Liz kembali, dengan Nana yang ada di sebelahnya. "Nana, tolong ambilkan skrip ku,"


"Baik Nona." Angguk Nana patuh dan pergi.


"Liz, tidak usah terlalu formal begitu. Panggil aja Ken, seperti manggil temen kan?"


"Kalo gitu, Ken juga ya, haha."


Ken memberikan secangkir kopi pada Liz. "Ini, ambil lah, kau kelihatan lelah. Ya kira-kira sebagai tanda terima kasih kemarin."


"Yaa~ padahal pengen di traktir es krim siang ini, ya udah deh, kopi juga ga masalah." Kata Liz menerima kopi itu, dan berjalan pergi.


Bersikap friendly lah Liz, mungkin saja dia bisa dimanfaatkan di masa depan.


Kenzaa hanya menatap Liz dengan senyuman.


Adegan-adegan syuting itu berjalan dengan baik. Hanya sedikit masalah pada pengulangan adegan.


Nana sedang mengipasi Liz, soalnya hari ini benar-benar panas. Entah ada apa dengan mataharinya saat ini.


Tiba-tiba sebuah tangan sudah menyodorkan Liz es krim, sayang sekali tapi es krim itu rasa stroberi. Yang Liz suka itu coklat.


Liz menerima es krimnya, tanpa melihat orang yang memberinya.


Pas bangett, panas-panas gini~


"Sepertinya Liz benar-benar suka es krim ya." Kata Kenza yang sudah memunculkan wajahnya, dengan Gerry di sebelahnya.


"Ya Nona Liz memang suka sekali es krim." Sahut Nana dengan tersenyum.


Liz berhenti makan. "Senior Ken, apa engga membelikan sesuatu untuk Nana?"

__ADS_1


Ken terdiam, dia benar-benar lupa kalau Liz sangat menyayangi asisten kecil nya ini.


"Nona Liz tenang saja, Nana ini untuk mu, tapi bukan es krim, kau mau?" Gerry memberi es kopi pada Nana.


Kenza menatap Gerry, tatapan matanya seolah mengatakan terima kasih. Kenza benar-benar lega.


Syukurlah Ger, aku tidak tau apa yang Liz pikirkan tentang aku saat aku mengabaikan asisten kecilnya.


"Terima kasih Senior Ken, padahal tadi pagi hanya bercanda, eh malah di beliin beneran. Haha."


"Ga masalah, setiap hari minta es krim juga ga masalah. Untuk Liz apa yang engga."


Keempatnya mengisi waktu istirahat dengan mengobrol ringan. Kenza pikir dengan begitu dia sudah semakin dekat dengan Liz, tapi sayang tak ada satu pun dari mereka yang tau, pribadi Liz yang sebenarnya.


Tanpa mereka sadari sudah ada seseorang yang mengamati mereka dari jauh, ya dia adalah Maya yang perannya tergeser menjadi peran pengganti karna Liz.


"Liz sialan! Harusnya aku yang mendapat posisi itu, harusnya akulah pemeran utamanya. Kak Ken..., akulah yang harus menjadi kekasih kak Ken, baik di dunia nyata maupun di dalam film. Tidak bisa! Liz tidak boleh merebut tempat ku lagi. Bahkan dia tidak boleh berperan bersama Kak Ken." Gumam Maya sembari terus menggigit kukunya, tatapan benci dan amarah itu dua tujukan jelas pada Liz.


"Liz..., kau harus terganti. Tapi bagaimana caranya. Oh ya! Celaka! Jika Liz sampai cedera maka dia tidak akan bisa main film kan, dan tentu saja jika dia luka, akulah yang akan menggantikannya. Tapi, bagaimana membuatnya luka?"


...***...


"Nona Liz, sejauh ini akting mu sangat bagus, dan kita bisa mempersingkat waktu. Aku harap tetap pertahankan itu walau di tengah panas ini, kau berbakat." Kata sutradara itu sebelum Liz mulai syuting lagi.


Liz menyambutnya dengan senyuman. "Terima kasih."


"Kau memang sangat berbakat, tapi bakat saja tidak cukup untuk naik ke puncak. Kau butuh dukungan..., cuma memberi tahu saja, aku bisa menjadi pendukung mu loh..., mendapat semua peran utama." Tambah Sutradara yang umurnya kira-kira sudah 40-an tahun. Dia semakin mendekat ke arah Liz, pandangannya aneh tapi menjijikan, seolah penuh nafsu, dia ingin menyentuh tangan Liz, namun Liz dengan cepat menyembunyikannya.


"Jika maksud anda saya bisa terkenal dengan mudah jika saya menjadi simpanan anda? Jangan bermimpi. Lebih baik aku tetap di posisi ku daripada aku berada di puncak karna jalur menjijikan itu." Tatapan mata Liz santai, senyum masih merekah, dia meninggalkan sutradara itu sendirian.


Ya ampun, hanya dia saja? Sudah sesombong itu, beraninya dia, kira-kira dia masih berani bicara seperti itu pada ku atau tidak ya, saat dia tau aku istri sah CEO terhebat masa ini, Devan Arkasa. Sekali Devan mengedipkan matanya, aku yakin karir yang dia bangun puluhan tahun akan hancur.


Puk


Tiba-tiba ada yang memegang bahu Liz dari belakang.

__ADS_1


"Pak tua sialan, jangan sampai aku mematahkan setiap senti tulang mu. Aku sudah bilang tidak ingin menjadi simpanan mu, aku tidak butuh cara itu untuk sampai ke puncak." Liz tidak menoleh, dia tidak ingin menatap pria tua menjijikan itu. Liz hanya menghempaskan tangan pria itu.


"Jadi benar dugaan ku, dia memang menawarkan hal seperti itu pada mu." Kata pria di belakang Liz.


Liz sedikit familiar dengan suara itu. Liz menoleh. "Ken?! Itu kau? Maafkan aku, aku pikir itu...,"


Ken mengusap kepala Liz lembut, dengan senyuman manis di wajahnya. "Sudah sudah tidak perlu di bahas. Sutradara itu, biar aku yang urus, agar dia tidak mengganggu mu lagi."


. "Ah kalau begitu aku mengandalkan mu, Ken." Liz tersenyum dengan wajah berseri


Ken sedikit terkejut,


sutradara sialan, beraninya dia menawarkan hal seperti itu pada Liz ku yang manis, kau mencoba merenggut kepolosan Liz ku. Maka kau akan tau akibatnya.


...***...


Hari sudah gelap, semuanya sudah bersiap untuk kembali, begitu juga dengan Liz. Liz sudah meminta Nana untuk kembali lebih dulu karna ibunya sakit. Kenza sudah menawarkan untuk mengantarnya pulang. Tapi, mana mungkin Liz akan terima. Kenza bisa tau nantinya kalau dia tinggal di Vila pribadi yang sedang di tinggali Devan Arkasa.


Naik taksi ga ya? Atau minta jemput Devan? Taksi aja deh.


Liz ingin memesan taksi online, namum hpnya sudah di rampas seseorang. Dengan cepat Liz melakukan tendangan pertama di bagian leher orang itu, namun orang itu bisa menghindarinya. Sepersekian detiknya Liz sadar, kalau orang yang hampir dia tendang itu adalah suaminya sendiri.


"Suami ku~" Liz langsung memeluk Devan. "Ah aku takut sekali, aku pikir itu adalah preman-preman yang ingin merampokku dan membunuh ku." Katanya dengan nada manja spesial untuk di hadapan Devan.


"Bagaimana bisa kau takut hanya pada preman saat kau bisa bela diri sebagus itu." Devan melihat ponsel Liz, Devan tau Liz baru saja ingin memesam taksi online. "Kenapa taksi? Ada aku yang akan menjemput mu, tidak aku masih ada Vin."


"Boleh minta jemput suami ku yang keren ini? Seriusan?" Mata Liz berseri menatap Devan.


"Diamlah, jangan di ungkit atau aku tak ingin menjemput mu lagi."


"Sayanggg, kita beli sate yaa, tapi yang di pinggir jalan. Makannya di rumah."


Devan hanya tersenyum miring dan terus berjalan ke arah mobil, dengan lengannya yang di pegang erat oleh Liz.


...***...

__ADS_1


__ADS_2