
...***...
Liz diam, dia duduk di sebuah bangku taman. Dia terus menatap beberapa bunga itu, yang dia copotin satu persatu kelopaknya. Tatapannya kosong, dia hanya bisa mengingat wajah Devan dimanapun dia berada.
Apa ini? Apa rasa dendam ku semakin dalam pada Devan? Kenapa rasanya begitu menggebu-gebu.
Apa aku bakal pergi? Yap, sudah ku putuskan hari ini aku akan pergi. Maka dari itu, aku bakal temuin Devan dan Tara, lalu aku bakal bilang semuanya! Kalau aku ini putrinya Deyna! Dan datang buat balas dendam!
Lagipula Devan rasanya sudah hampir gila kalau kehilangan aku kan? Tujuan ku sudah terpenuhi, tinggal meninggalkannya saja, maka dia akan gila. Dan Tara pasti akan putus asa. Baiklah aku bakal temuin Devan. Kira-kira dia rapat ga?
Liz mengambil ponselnya, dia langsung menelpon Devan.
"Devan, aku mau ngomong sesuatu! Ini penting banget, terus bawa Om Tara juga ya? Sekarang? Bisa kan... Sayang?" Liz mencoba setenang mungkin. Meski saat ini jantungnya entah bagaimana degubannya.
"Sekarang? Tidak masalah, aku bakal jemput kamu, ini soal pernikahan kita kan? Gak ada masalah besar kan?" Suara Devan semakin lama semakin hangat, sangat tenang saat mendengarnya seolah memeluk hati Liz yang selama ini kesepian.
"Enggak ada masalah kok, kita ketemunya di rumah aja ya."
Bisa recok kalau ketemunya di luar, dan aku marah-marah. Huh, aku bakal siap. Yap, aku pasti bisa! Foto mama! Ya aku bakal lempar foto mama di depan Tara!
"Ya--"
Brak!
Tiba-tiba ada orang yang menarik Liz dari belakang, hingga membuat ponselnya jatuh. Beberapa orang berpakaian hitam itu memaksa Liz masuk ke dalam mobil mereka.
"Mphh!! Ahhh!! Lepasin! Kalian siapa! Lepasin! Hey le--" Teriakan itu terdengar begitu jelas dari sisi sebrang telepon Devan.
"Liz! Liz! Kenapa? Lizy!!" Devan berteriakan, namun tidak ada jawaban dari Liz. Bahkan ponsel Liz sudah mati.
Brak!!!
Devan menendang mejanya kasar, matanya membesar penuh amarah! Dia langsung bangkit berdiri.
"Vin! Cepat lacak dimana keberadaan Liz! Siapa... Siapa yang berani menyentuh istri Devan Arkasa!!!" Devan dan Vin segera bergegas, Vin mengerahkan semua bawahannya untuk melacak terakhir kali keberadaan Liz.
__ADS_1
Siapa... Siapa, siapa! Siapa orangnya yang berani mengambil Liz dari ku,
Teriakan Liz yang begitu kuat masih terdengar nyaring di telinga Devan. Rasanya sesak sampai dia ingin muntah.
"Lebih cepat lagi Vin! Kau tau, kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku akan..."
Vin bisa merasakan dengan jelas, aura mengerikan itu. Sangat menyeramkan, Vin bisa merasakan ini dulu, saat Reya di tipu mentah-mentah, hingga akhirnya pernikahan nya batal, Devan saat itu rasanya seperti orang gila yang akan memenggal kepala siapapun yang menatap rendah Reya. Lupakan itu! Ini masalah Liz dan Devan.
Badan Devan bergetar penuh amarah, dia menutup matanya, terbayang jelas wajah Liz yang tersenyum manis, senyuman itu yang mampu melelehkan hati Devan. Rasanya, senyuman itu adalah penghilang lelahnya.
Enggak... Aku gak akan bisa kalau sampai kehilangan senyuman itu, dan ucapan selamat paginya. Tidak akan bisa!
Yang bisa melakukan ini, dalang yang ingin memisahkan aku dan Liz adalah... Dia. Pasti Kenza!!
"Tuan muda, menurut lacakan orang-orang anda, nona terakhir kali terlihat di sini, di taman ini." Laporan Vin memecah isi pikiran Devan.
Devan langsung keluar dari mobil, dia melihat bangku itu, juga ada bunga yang jatuh. Devan perlahan mengambil bunga itu. Ada perasaan hangat yang mengalir di sana.
"Periksa Cctv di dekat sini! Cari semuanya!"
"Tu-tuan! A-apa anda sedang mencari nona yang di culik di sini?!" Tiba-tiba seorang pria yang berlari dari toko roti sekitar langsung menghampiri Devan.
"Kau tau dia dimana?!" Suara Devan begitu keras hingga membuat sang penjual kaget.
"Aku tidak tau dia ada dimana, ta-tapi tadi aku melihatnya di bawa paksa oleh orang-orang berpakaian hitam! No-nona itu berteriak keras!"
"Saat itu.... Saat itu apa yang kau lakukan?"
Penjual roti yang usianya kira-kira 30an tahun itu hanya diam. Dia termenung tidak mengerti.
"Saat itu! Saat istri ku di culik! Apa yang kau lakukan? Kau hanya diam saja dan bersembunyi di balik toko mu melihat istri ku di bawa paksa! Apa tidak ada terbesit di hati mu untuk membantunya?!" Amukan Devan semakin membara. Entah, ada rasa marah yang meluap-luap di dalam hatinya. Dia butuh... Dia butuh seseorang untuk pelampiasannya! Agar dia bisa melampiaskan seluruh amarahnya, begitu kah?
Penjual itu terkejut, nyut! Ada rasa menusuk di hatinya. Pandangannya langsung menunduk kebawah. "Anda benar tuan, saya terlalu takut untuk menyelamatkan nona itu. Sa-saya memang seorang pecundang. Saya pengecut!"
"Terima kasih atas informasinya, silahkan kembali, kami akan memberikan hadiah nanti. Saat ini, kondisi tuan muda sedang sangat buruk, ma--" Vin coba melerai suasana. Dia tau jelas, Devan tidak berniat mengatakannya.
__ADS_1
"Tapi saya sudah mencatat plat nomor mobilnya! Mobil yang membawa nona itu!" Sang penjual langsung memotong ucapan Vin, dia memberikan sebuah kertas berisikan angka-angka itu.
"Dengan ini kita bisa menemukan nona lebih mudah tuan, terima kasih!" Vin langsung masuk dalam mobil, Devan ingin masuk ke dalam mobilnya, namun dia melirik sang penjual itu.
"Siapa nama mu?"
"Andreas Akades."
"Tenang saja, aku adalah orang yang tau untuk balas budi."
Devan tersenyum miring lalu masuk ke dalam mobilnya.
Tring!
Devan melihat ponselnya, ada sebuah kiriman video, yap itu adalah video cctv.
Meski tidak begitu jelas, tapi Devan bisa melihatnya dengan jelas. Betapa kasarnya para penculik itu menggenggam tangan Liz. Tangan hangat yang selalu menyapa pipinya di pagi hari.
Orang-orang ini benar-benar akan mengalami penyesalan seumur hidupnya, kuku itu harus tercabut semua, nantinya.
"Tuan, saya sudah dapat dimana keberadaan mobil itu, sepertinya berhenti di sebuah gedung tua, mungkin... Saya juga kurang tau."
"Lebih cepat!"
"Baik!"
Sementara itu di sisi lain, Liz yang kepalanya di tutup oleh karung hitam dan mulutnya di rekat dengan erat di turunkan dari mobil.
Salah satu dari mereka membuka penutup kepala liz dan juga penutup mulutnya.
"Lepasin ban*sad! Berani-beraninya kalian nyantuh aku!"
Sialan! Kalo bukan pengaruh obat parfum gila itu, pasti gampang buat lumpuhin mereka semua. Cih cih cih!! Oh iya, tadi kan aku lagi telponan sama Devan, Devan pasti denger kan? Dan dia pasti bakal cari aku kan? pasti bakal di temuin kan?
"Lepasin, kalau sampai Devan tau! Habis kalian semua!!"
__ADS_1
"Ha? Apa? Devan? Aku ga salah denger nih?" Tiba-tiba ada seseorang yang menyahuti perkataan Liz.