Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Love is gone


__ADS_3

Pada malam setelah kepergian Vasa dari kamarnya, Liz hanya menatap langit-langit kamarnya sendu. Tanpa dia sadari air matanya menetes. Yang selalu terbayang terus menerus adalah Devan, hanya ada Devan di dalam ingatan wanita itu.


"Devan..."


Tanpa Liz inginkan, nama Devan keluar begitu saja dari mulutnya. Mungkinkah rasa rindu itu tak lagi bisa di bendung?


Pagi harinya Liz sudah membuat keputusan yang sangat tidak terduga oleh Anna dan Vasa. Pagi itu saat mereka sarapan bertiga, Liz mengatakan...


"Aku mau balik ke tempat dimana Devan berada, aku masih harus balas dendam ke Tara dan Thifa, rasanya balas dendam ini belum sempurna kalau sampai mereka belum nangis sejadi-jadinya. Aku bakalan buat mereka nenderita, sangat menderita sampai gak ada kebahagiaan setitik pun yang bisa mereka rasakan." Kata Liz dengan penuh keyakinan menatap Anna.


Vasa dan Anna sama-sama terdiam, mereka cukup terkejut, tapi Vasa senang, pada akhirnya Liz akan kembali ke dalam pelukan Devan, tapi Anna? Di luar dugaan, Anna malah bereaksi senang dengan senyuman miringnya.


"Aku pikir kau lupa akan dendam mu, ternyata dendam itu masih membara ya, memang harusnya dari dulu aku bawa kau ke sini biar kau ingat kembali, siksaan apa yang telah mereka layangkan pada bibi Deyna." Anna tersenyum menepuk pundak Liz.


Vasa hanya diam saja, dia benar-benar tidak bisa menebak isi kepala Anna saat ini. Entah apa yang dia pikirkan dan rencanakan.


Sejak dulu Anna dan tante Yuli sangat dekat, sorry An, aku gak mau ngakuin ini tapi rasanya aku curiga pada mu. Semoga kecurigaan ku salah.


Liz terkejut. "Kalian ga melarang? Aneh."


"Kau berharap di larang?" Vasa menaikkan sebelah alisnya.


"Gak akan ada yang melarang, itu kan hak mu untuk balas dendam. Jadi, kapan kau bakal balik?"


"Mungkin sekarang soalnya besok resepsi pernikahan aku sama Devan."


"Oh ya udah, Anna bakal nganterin kamu, biar panti, aku yang jaga kayak biasanya. Kalian berdua kalo ada apa-apa bilang ya."

__ADS_1


"Aku gak bisa ikut Liz ke sana lagi, yang ada aku bakal tertangkap Devan dan orang-orangnya, ogah banget liat Vin marah-marah kesetanan." Celetuk Anna cepat, tentu saja, siapa orang yamg paling Devan benci saat ini? Oh tentu saja Anna yang merampas istri kecilnya. "Aku bakal di sini aja nemenin Vasa, kau bisa kan ke sana sendirian? Semangat oke? Kalau ada apa-apa kabarin kita aja, pasti langsung kesana kok, walau nyawa taruhannya."


"Kalian tenang aja, aku gak bakal kenapa-kenapa, kan ada Devan. Dan oh ya, satu lagi nih. Makasih ya, kalian berdua emang yang terbaik, Aaaaaa rasanya aku juga pengen bawa kalian berdua." Liz tersenyum hangat, memeluk kedua sahabat, ah maksudnya keluarganya. Ketulusan tampak jelas di wajah ketiganya, bahkan Anna juga. Satu-satunya yang tidak bisa di curigai adalah, kasih sayang Anna untuk kedua sahabatnya.


...***...


Setelah mengucapkan salam perpisahan, dan berpelukan rindu, Liz langsung kembali ke kota J, dimana Devan berada. Akhirnya hingga malam tiba, Liz sampai juga, di depan Villa pribadi suaminya itu, tempat yang biasanya dia jaga.


Aa apa aku bisa bilang, aku pulang? Padahal baru tiga hari, tapi rasanya udah kayak tiga belas tahun aja gaj datang ke sini. Di sini gak ada yang berubah ya.


Liz berjalan perlahan, masuk, dia membuka pagar, tapi tidak terkunci, dia melihat pos jaga, itu juga kosong. Dia menatap rumah megah nan mewah yang beridiri kokoh, ah itu sangat gelap.


Liz masuk ke dalam rumah itu, tidak ada siapapun di sana. Bahkan tidak ada seorang pelayan pun. Keadaan rumahnya sangat gelap, memaksa Liz menyalakan lampu di hp nya.


Kemana semua orang pergi? Satpam gak ada? Pelayan juga gak ada? Rumah gelap gulita? Apa jangan-jangan rumah ini udah mau di jual? Devan dimana? Apa dia balik ke kediaman Arkasa? Arghhh pesta resepsinya juga bagaimana? Apa bakal di batalin?


Pikiran itu bagai merambat cepat memenuhi kepala Liz, dia setengah berlari naik ke atas, menuju kamarnya, untuk melihat apakah pakaian Devan masih ada atau tidak? Liz ingin menghubungi Devan, Tapi dia lupa, ponselnya kehabisan baterai.


Liz membuka kasar pintu itu, awalnya dia hanya ingin mengecek lemari untuk melihat barang-barang Devan, tapi siapa sangka Liz malah melihat pemandangan yang tidak ia duga, dia menatap pria yang duduk bersandar di kasur itu, sudah bagai orang gila dengan rambut yang acak.


Devan... Di-a? Aku gak nyangka bakal segila ini?


"Kalau cuma bayangan juga tidak masalah, asal jangan menghilang, walau bayangan juga tak apa asal bertahan selamanya. Aku tau, ini hanya halusinasi." Lirih Devan.


Tanpa Liz sadari air matanya mengalir, kakinya bergerak sendiri mendekati Devan. Semakin di dekati, semakin menyayat hati kondisi pria ini.


Devan menatap Liz, "Jangan pergi, walau kau cuma halusinasi."

__ADS_1


Liz duduk di dekat Devan, dia memegang pipi pria itu.


Cup...


Satu kecupan singkat yang Liz berikan, membantu Devan sadar bahwa ini bukan cuma halusinasi semata.


"Kau...!"


"Iya ini aku, aku rindu tau. Kenapa kau malah duduk tenang di sini dan gak mencari ku, kau tau gak, betapa takutnya aku membayangkan kalau gak bisa ketemu kau lagi! Presdir angkuh nan arogan, walau begitu aku mencintai mu!" Liz memeluk Devan dengan sangat erat. Air matanya hangat mengalir di dada Devan. Entah apakah yang dia katakan barusan itu tulus, atau hanya akting semata.


"Liz!!! Kau?!! A-aku... Ternyata yang ini bukan halusinasi." Devan memeluk Liz dengan sangat erat, bahkan sampai membuat Liz sesak napas.


"Duh, gak bisa napas tau!"


"Itu semua salah mu, kau yang membuat ku seperti ini, kau pergi dan mendadak kembali, rasanya sepertinya aku benar-benar harus menghukum mu..."


"Hukuman? Hey tuan muda! Istri mu ini baru saja di culik dan dengan susah payah melarikan diri dan kau malah mau menghukum ku? Jahatnya~"


"Iya, aku akan menghukum mu." Devan memegang leher Liz lembut, dia mendekatkan bibirnya sampai keduanya bertautan.


Ciuman di leher yang Devan berikan membuat Liz tak bisa menolak kenikmatan duniawi yang di suguhkan. Perlahan tapi pasti, Devan mulai membuka pakaian istrinya itu, Liz tidak tau apa yang dia rasakan sekarang. Dia hanya diam saja, tidak menolak, mungkinkah itu memang yang dia inginkan sekarang?


"Oh? Sekarang kau melakukan nya secara sadar kan?" Bisik Devan sembari menggigit lembut telinga mungil itu.


"Devan!!!!"


Malam itu adalah malam yang panjang bagi keduanya, rasa rindu yang menumpuk hilang dengan sentuhan-sentuhan lembut, yang keduanya inginkan.

__ADS_1


...***...


...Semoga kedepannya lebih sering up yaaa...


__ADS_2