
...***...
Adegan di mulai lagi, Kenza sudah meyakinkan dirinya untuk tidak gugup. Tapi sayang, kegugupan itu mendadak hadir, dan percobaan pertama gagal lagi.
"Tidak perlu gugup oke? Jika senior gugup karna banyak kamera. Tatap saja mata ku, dan lupakan hal itu. Aku akan selalu mendukung senior, jadi berjuanglah." Kata Liz dengan wajah berseri dan senyuman hangatnya.
Kenzaa tersentak halus, mendadak rasa gugupnya hilang begitu saja.
"Aaa terima kasih, mohon dukungannya." Sahutnya.
Akhirnya adegan di mulai lagi, dan semuanya menjadi lancar. Bukan hanya satu adegan itu. Pada akhirnya, banyak adegan yang bisa berjalan dengan lancar. Hari sudah malam, dan Liz harus pulang.
Sialan! Karna adegan awal dan banyak artis lain yang sering gugup. Aku jadi pulang malam, Devan..., dia pasti akan ngamuk. Heh hadeh.
"Nona Liz!" Panggil seseorang. Liz menoleh.
"Eh, senior Ken, ada apa? Apa ada masalah?"
Ken menggeleng. "Tidak ada, kau ingin pulang bukan? Biae aku yang mengantar mu, atau kita bisa makan sebentar demi mengucapkan rasa terima kasih ku." Dia mengulurkan tangannya.
"Duh..., hari ini aku ga bisa. Aku harus cepat pulang, senior maafkan aku oke? Mungkin lain kali aku bisa makan dengan mu." Tolak Liz dengan lembut.
"Ah tidak masalah. Kalau begitu, biar aku aja yang nganter pulang."
Tring!
Liz melihat sebuah pesan dari ponselnya.
Devan:
Aku sedang dalam perjalanan ke lokasi mu, tunggu di sana, sebentar lagi aku sampai.
^^^Aku tunggu di halte di sebelahnya. ^^^
"Aku sudah di jemput, senior pulang duluan saja. Oh, kalau tidak keberatan, bisa tolong antarkan Nana? Setahu ku kalian satu arah bukan?"
"Baiklah, jika kau berubah pikiran, hubungi aku oke. Kalau begitu aku pulang lebiy dulu."
...***...
Liz duduk sendirian di halte, dia menatap jamnya. Sudah 15 menit dia menunggu Devan, tapi Devan belum juga datang.
Petir sudah menggelegar di atas sana, suara gemuruhnya benar-benar memekakkan telinga. Hujan turun dengab derasnya.
__ADS_1
Sudah hampir setengah jam berlalu, namun tanda-tanda kemunculannya masih belum bisa Liz lihat.
Apa aku akan memesan taksi?
Tiba-tiba sudah ada dua orang pria yang berlari menembus hujan berteduh di halte. Liz langsung memakai maskernya, akan sangat merepotkan nantinya.
Liz sadar, diam-diam mereka menatap Liz dengan aneh. Wajah penuh nafsu itu, Liz sangat tidak nyaman.
Berani mendekat, akan ku hajar kalian. Aku bisa bela diri loh.
"Hey nona cantik, sendirian aja nih? Ga mau main-main sama kita dulu?" Kata salah seorang pria mendekat. Liz hanya diam, tidak menggubris adalah jalan terbaik yang dipilihnya.
Devan, ini semua karna mu! Kalau tidak niat jemput itu bilang! Aku bisa bersama senior Ken tadinya! Apalagi dia akan mengajak ku makan, hujan-hujan gini, bakso oh bakso~
"Ya ampun, sombong sekali~ tidak masalah, cantik dan sombong, sedikit angkuh. Sebentar lagi juga keangkuhanmya akan menghilang terlena dengan nikmat dunia." Tambah satunya yang mencoba menyentuh wajah Liz. Liz sudah membuka sepatunya, bersiap menendang orang itu.
Namun ada orang yang menahan tangan pria itu, Liz melihatnya. "Tuan muda!" Kata Liz.
"Tetap di belakang ku, para b*jingan ini, biar aku yang tangani." Devan semakin menekan kuat cengkramannya.
Tanpa mu juga aku bisa mengatasi orang dua ini.
Tapi Liz tetap mundur sesuai arahan Devan.
Brakhh!!! Bukhh!! Tukhh!!!
Tanpa banyak bicara Devan menghajar mereka berdua. Hanya dalam waktu beberapa menit, kedua orang itu sudah tumbang. Harus di akui kehebatan Devan Arkasa dalam bela diri, entah darimana dia mendapat bakat hebat paket komplit ini.
"Kau terluka? Aku rasa tidak." Kata Devan melihat Liz.
"Karna salah siapa aku menunggu lama di sini dan akhirnya di ganggu preman?" Liz mengembungkan pipinya.
"Kau tidak takut? Harusnya seorang artis akan sa--"
Liz langsung memeluk Devan. "Aku takutttt~ Takut banget~ Untungnya Suami ku yang hebat ini datang tepat waktu."
Devan tau Liz hanya berakting, yang tidak Devan mengerti adalah, dia menikmatinya. Devan membalas pelukan Liz.
"Eh? Oh ya? Kenapa tuan muda sendiri yang menghajarnya? Dimana Vin? Mobil tuan muda mana? Sampai aku ga bisa menyadari kedatangan tuan muda."
"Mobilnya mogok, Vin sedang memperbaikinya. Kita akan jalan ke tempat Vin." Devan mengambil payung yang sedari tadi ia bawa saat berjalan ke sini.
Liz mengikuti langkah Devan, keduanya bersama menembus hujan dengan payung seadanya itu. "Lalu kenapa harus anda yang datang sendiri menjemput aku? Aku bisa jalan ke sana, atau mungkin Vin bisa menjemputku, tuan muda hanya perlu duduk di mobil kan? Tidak perlu hujan-hujanan begini."
__ADS_1
"Ini soal harga diri untuk diri sendiri. Aku yang bilang akan menjemput mu, maka akulah yang akan melakukannya, apapun yang terjadi."
Liz menghela napasnya. "Jadi karna harga diri, aku pikir karna tuan muda mulai menyukai aku. Kata orang cinta tumbuh karna terbiasa~ Sepertinya perjuangan ku masih panjang untuk menjadi cinderella~"
Devan tersenyum miring.
"Tuan muda, ngomong-ngomong soal payung, aku jadi ingat kalau aku ini payung bukan? Saat ini kita akhirnya benar-benar melihat payung dengan kegunaan aslinya. Walau kau bilang kau tidak membutuhkan payung karna kau punya mobil sih." Celetuk Liz enteng.
Devan melirik Liz. "Diamlah."
"Harga diri oh harga diri~ ada yang sedang menelan kembali ludahnya~" ledek Liz, emang ahli banget buat sindir menyindir.
Satu tangan Devan mencengkram erat lengan Liz.
"Aww sakitt, duh duh sakitt. Iya iya janji ga di singgung lagi, ih lepasinnn."
Devan tersadar, dia melepasnya. Tapi Devan bisa melihat bekas merah di sana, dan dia sedikit merasa bersalah, mungkin. 5 menit sudah berlalu mereka berjalan, dan suasanya hening.
Sakit bangett tangan akuuuu!! Devan sialan!!!
"Suami ku~" panggil Liz dengan manja.
Devan hanya diam.
"Kau marah? Aku kan udah minta maaf."
Devan masih diam.
"Sayang dingin~ aku pakai baju lengan pendek loh."
Devan meminta Liz memegang payungnya, dia membuka jasnya dan di pakaikan pada Liz.
"Terima kasih~"
Tapi Devan hanya diam, bahkan sampai mereka sudah ada di mobil. Vin membuka kan mereka pintu.
"Tuan dan Nona silahkan tunggu di dalam. Saya akan melanjutkan perbaikan nya, hanya tinggal 7 menit lagi." Kata Vin.
Saat ini Liz dan Devan sudah masuk di dalam mobil, tapi Devan hanya diam, dia menatap di luar jendela. Liz pikir Devan benar-benar marah atas perkataannya.
Liz menyandar di bahu Devan. "Aku mengantuk, ingin tidur."
Devan mengusap kepala Liz lembut, dengan senyuman terukir di wajahnya.
__ADS_1
...***...