
...***...
Liz melambaikan tangannya pada Devan yang sudah berangkat ke kantor. Dia kembali ke kamarnya, menatap dirinya di cermin, sembari terus memegangi dagunya.
Duh duh sakit bangett, seriusam sakit. Mana harus senyum dan buat ngomong. Orang itu apa ga punya otak kah? Bisa-bisanya nyakitin anak orang gitu, oh iya dia kan putra kandung Arfen dan Thifa, juga didikan dari Tara sialan, wajar tidak punya hati. Turunan soalnya, kalau mereka punya hati, mama Deyna gak akan hidup begitu dan aku juga gak bakal hidup semenderita dulu. Penderitaan yang kami rasakan....
Aaaww sakit. Kayaknya mesti ke rumah sakit sih ini. Oiya, Vasa atau An ga ada yang boleh tau. Kalau mereka sampai tau mereka bakal halangin aku dan minta aku buat berhenti juga lupain dendam ini! Gak bisa! Ke rumah sakit deh buat periksa.
Liz mengambil tasnya dia bersiap turun.
Liz sudah memakirkan mobilnya di halaman rumah sakit, dia turun dengan tergesa, soalnya itu benar-benar sakit. Oh ya, Liz juga memakai maskernya, dia tidak bisa berhadapan dengan orang lain tanpa senyuman, itu bisa merusak image artis Liz yang ramah dan polos.
"Ga bisa..., aku ga bisa senyum sekarang, sakit bangett, seriusan patah kah rahang aku? Masa iya? Tenaga dia sekuat apa emang?"
Yang Liz tidak tau ialah, sejak dia keluar rumah, sudah ada orang-orang Devan yang mengikutinya.
Liz masuk ke ruangan dokter itu, dokter itu langsung menanyai keluhan Liz sebelum akhirnya memeriksanya.
"Nona, apa kau pernah mengalami kecelakaan yang membuat kerusakan pada rahang mu sebelumnya? Maksud ku, sebelum hari ini?" Tanya dokter itu, dia masih melihat hasil pemeriksaannya.
Mendadak badan Liz gemetar, namun dia mencoba untuk tetap tenang. Meski tangannya bisa diam, tapi tidak dengan kakinya. Meski wajahnya biasa saja tapi tidak dengan hatinya, otaknya menampilkan kilasan-kilasan ingatan yang selalu ingin Liz lupakan. Kejadian paling mengerikan sepanjang dia hidup, yang dia lalui sendiri.
"Eh iya beberapa tahun yang lalu, karna suatu tragedi itu membuat saya mengalami beberapa cedera, seperti di tulang pipi, rahang, dan pelipis." Sahut Liz semampunya. Dia tidak ingin mengingat kejadian malang itu lebih lama.
"Memang sudah beberapa tahun, tapi cedera yang waktu itu belum sepenuhnya sembuh, di tambah hari ini rahang anda mendapat tekanan yang sangat kuat, membuat cederanya kembali kambuh. Baiklah, kala--"
Brakkk!!
Belum selesai dokter itu berbicara, sudah ada orang yang menerobos pintu. Liz melihat orang itu dan dia mengenalinya. Bukan hanya Liz, dokter itu juga kenal dengan Devan. Wajar sih, sudah jelas, dia CEO paling berjaya masa ini.
"Tuan muda? Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tidak ke kantor? Ehh--atau kau sakit?" Liz bangkit berdiri, namun rahangnya mendadak kambuh.
"Shhh."
__ADS_1
Devan dengan cepat mendekatinya, dia mendekap Liz sembari memperhatikan wajah gadis itu. Tak sengaja pandangan mereka bertemu, waktu seolah berhenti sesaat sebelum keduanya saling mengalihkan pandangan.
"Diamlah, urusan kita nanti. Sekarang, urusan ku dengan dokter ini. Jadi dokter, apa sakit gadis ini?" Devan menatap dokter itu dingin.
Dokter itu sedikit kaget, tingkahnya agak kaku, ya wajar, dia pasti ketakutan berhadapan langsung dengan Devan Arkasa. "Begini tuan muda, menurut hasil pemeriksaan saya, Nona ini mengalami cedera rahang. Saya sudah menjelaskan pada nona ini, dan ya setidaknya dia tidak terlalu boleh banyak tersenyum dan berbicara, makan-makanan yang lembut, usahakan rahangnya tidak terlalu banyak gerak."
Devan menatap Liz sinis, namun Liz malah mengalihkan pandangannya. "Vin, urus masalah biaya dan tebus obatnya."
...***...
Eh apa salah ku? Kenapa dia menatap ku seolah aku maling ayam? Padahal aku cuma maling jambu sama mangga dulu loh.
Batin Liz, dia merasa tidak nyaman di dalam mobil yang sudah berjalan itu. Devan menatapnya serius, namun dia tidak berbicara apa-apa.
"Kenapa kau pergi ke rumah sakit sendirian? Kenapa kau tidak mengaku kalau itu sakit, bukan kah aku sudah menawarkan untuk mengantar mu ke rumah sakit?" Akhirnya Devan berbicara juga. Liz menghela napas lega.
Ku kira apaan, ternyata masalah rumah sakit doang.
Liz tersenyum manis. "Kan a--"
Kan tadi nanya, ini udah mau di jawab malah di marahin. Gimana sih, sarap kayaknya dia.
"Nona muda bisa menggunakan pesan di ponsel untuk berkomunikasi dengan Tuan muda." Sambung Vin, nyamber aja tuh anak.
"Jangan pernah tersenyum pada siapapun dan berbicara pada siapapun tanpa izin ku, selama kau sakit. Kau akan ada di bawah pengawasan ku."
Liz mengambil ponselnya, dia menuliskan sesuatu di sana.
Itu sulit sekali, bagaimana bisa aku tidak tersenyum saat melihat wajah tampan mu. Aku bisa mati kalau tidak berbicara pada mu Huhu T-T
Liz menunjukkan pesannya pada Devan. Devan hanya melirik Liz.
Howerkkk, malahan bagus ga usah senyum dan ngomong sama dia. Seenggaknya, sakit ini ga gitu merugikan. Udah muak soalnya selalu senyum depan dia. Batin Liz yang berbicara.
__ADS_1
"Diamlah, ini perintah ku. Jika kau melanggar, aku akan mencampakkan mu, dan kau akan hidup miskin. Kau mau?"
ENGGAK! JANGAN! iya ya janji ga bakal ngomong atau senyum sama siapapun.
"Lagipula, saat kau ke rumah sakit, kenapa tidak mengatakannya pada ku? Dan tadi pagi, saat aku tanya sakit, kenapa kau bilang tidak? Ingatlah jangan berakting di depan ku."
Aku pikir suami ku yang keren ini sedang sibuk~ jadi aku pergi sendiri ~ aku pikir juga hanya luka kecil. Ngomong-ngomong kalau tuan di sini, itu artinya tidak sibuk dan tidak ada rapat penting. Makanya, ayo jalan-jalan~
"Tidak, kita akan pulang dan kau akan beristirahat."
...***...
Liz hanya memainkan ponselnya, sejak tadi sore Devan sudah kembali dari kantor. Mendadak hari ini dia pulang cepat, sebagai gantinya dia bekerja dari rumah.
Sudah beberapa jam berlalu Liz hanya duduk di atas kasur berkutat pada hpnya.
Aku bosan,
Liz melihat Devan yang tengah fokus pada laptopnya.
Sejak kami kembali dari rumah sakit, dia memerintahkan semua orang untuk tidak berbicara pada ku, bahkan tidak boleh menemui ku kecuali memberi makanan atau minuman. Dan ya, makanan itu hanya bubur dan sejenisnya.
Aku tarik kata-kata ku, lebih baik aku tersenyum palsu di depan Devan dan mengatakan hal-hal menjijikan yang membuat ku ingin muntah, di banding harus diam di kamar sendirian seharian.
Liz menghela napasnya.
"Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Devan saat dia sadar gadis itu menghela napasnya.
Liz menggeleng dan tersenyum manis. "Ti--"
Baru saja dia ingin berbicara, namun tatapan Devan itu memberi tekanan besar.
Lah? Aku lupa!
__ADS_1
...***...