
Brakkk
Karena sedikit melamun akhirnya Liz menabrak seseorang di depannya.
"Hei nona Liz? Apakah anda baik-baik saja?" Tanya pria itu membantu Liz berdiri.
"Ah? Tuan Ken? Wow, tidak menyangka bisa bertemu dengan artis papan atas seperti anda. Dan yang tidak di sangka, anda malah mengenal saya? Oh ya, ada perlu apa anda kemari? Mungkin Liz ini bisa membantu." Kata Liz dengan senyuman manisnya seperti biasa, yang selalu dia tampilkan di depan semua orang.
Liz menatap orang itu, ia mengenalinya, pria itu adalah Kenza. Artis muda papan atas yang namanya sedang naik akhir-akhir ini. Dia memanah para fansnya dengan wajah dan tatapan pesonanya.
"Ah, kau belum tau? Lawan main mu sebagai pemeran utama pria protagonis adalah aku. Simpelnya, kau adalah putrinya dan aku adalah pangerannya." Katanya mengulurkan tangannya pada Liz.
Ah, pria ular ini adalah lawan main ku? Oh baguslah. Aku dengar aktingnya sangat bagus, aku harap itu benar. Agar tidak melakukan kesalahan dan sering di ulang. Aku sering sekali bertemu dengan lawan main yang tidak begitu bagus, akibatnya banyak kesalahan dan terlalu sering melakukan adegan ulang, ini benar-benar membuang waktu. Aku harap dia bisa menghemat waktu ku.
Liz tersenyum dengan wajahnya yang berseri. "Aaaa, senangnya, akhirnya bisa satu film dengan artis terkenal. Senior, tolong bimbing akuu, oke?" Liz menyambut hangat jabat tangan itu.
"Nona, anda sudah datang. Ayo segera bersiap, bagian anda sudah hampir di mulai. Tuan Kanza, mohon maaf ya, nona Liz harus segera bersiap." Nana menarik tangan Liz cepat.
"Sampai ketemu di bagian kita," Liz melambaikan tangannya.
"Hoo, aku menunggu berakting bersama mu nona Liz."
Dia, Kenzaa melihat telapak tangannya, dia bahkan masih merasakan sentuhan tangan Liz. Kenza tersenyum hangat.
Aku tidak menyangka, aku benar-benar bermain akting bersama mu. Selama ini aku dengan jiwa pengecut ini hanya mampu memperhatikan mu dari jauh, jauh sekali dan hanya bisa melihat mu. Dan takut untuk menyapa mu.
Kau, gadis cantik berwajah polos dengan hati yang murni. Liz..., mungkin selama ini kau tidak menyadarinya. Tapi sejak lama, aku sudah menyukai mu. Di saat..., pertama kali kau menolong ku di tengah hujan, memberikan payung. Haha padahal hanya payung.
__ADS_1
Kenzaa tersenyum geli sendiri mengingat pertemuan pertama mereka.
Setelahnya, aku memperhatikan diri mu. Kau memang orang yang sangat baik, tidak peduli status mu seorang artis, kau sering turun ke jalan untuk memberi makan dan mainan pada anak-anak yang kurang mampu. Kau bahkan tidak pernah terlihat marah pada siapapun. Mungkin satu-satunya orang yang hatinya selalu di penuhi kebaikan adalah kau, tanpa kebencian setitik pun.
Bahkan, waktu itu, artis baru jalur orang dalam itu mencoba menghina mu, tapi kau hanya membalasnya dengan senyuman, bahkan memarahi orang yang merekam perbuatannya. Liz..., kau terlalu baik, harus ada seseorang yang melindungi mu, melindungi kemurnian hati mu.
Tapi, hanya satu yang tidak aku mengerti. Kemana kau tiga bulan terakhir saat dikeluarkan dari film lama mu? Menenangkan diri kah?
Kenza masih diam menatap Liz dari jauh, namun senyumannya terus merekah tanpa pudar.
"Ada apa? Kau merasa deg degan? Bertemu dengan pujaan hati? Ayolah, tidak perlu terlalu terkejut seperti itu. Dan tolong jangan gugup, kau bisa merusak citra mu nanti." Kata pria itu yang menyadarkan lamunan Kenza. Dia adalah Gerry, sahabat Kenza dan juga rekan kerjanya.
"Diamlah, suara mu terlalu kuat." Kata Kenza dengan sedikit tawa di sana.
"Lagipula bukankah ini keinginan mu?"
Kenza menaikkan sebelah alisnya meminta sahabatnya untuk memperjelas perkataannya.
Kenza mengedikkan bahunya, dia berjalan dengan senyuman, bagian nya dan pujaan hatinya hampir di mulai.
Saat ini adalah bagian dimana mereka akan bertabrakan, lalu terjadi sedikit pertengkaran. Namun adegan itu sudah dua kali di ulang, tapi masih saja salah. Kesalahannya ada pada Kenza.
Gerry menghela napasnya. "Aku sudah tau, sekeren apapun dia bergaya, dia akan tetap gugup. Soalnya, cintanya benar-benar nyata, bukan hanya skenario belaka." Syukurlah Gerry hanya berdiri sendiri, atau akan ada gosip hangat nantinya.
"Cut!!!" Teriak sutradara itu. "Kenza beristirahat lah lima menit. Gunakan waktu mu untuk fokus dan menjiwai peran mu, dan jangan sampai lupa akan dialog mu. Dan Liz, akting mu sudah bagus. Pertahankan itu, apa kau bisa berakting seperti tadi lagi nanti?"
"Ya, aku rasa aku bisa. Bukan masalah, terima kasih sudah mengingatkan." Kata Liz ramah berjalan ke kursinya. Sudah ada Nana yang menyambutnya dengan minuman disana.
__ADS_1
Sialan..., dia benar-benar membuang waktu ku. Apanya yang jago akting, hanya adegan dasar seperti itu saja masih gugup.
"Nona aku tidak tau kalau ternyata tuan Kenza aslinya payah dalam berakting." Bisik Nana polos.
"Mungkin saja dia banyak masalah, biarkan saja dia." Sahut Liz.
"Aaa nona adalah orang paling baik yang Nana kenal~"
Liz tersenyum hangat.
Apa tidak masalah menipu Nana yang polos ini? Dia terlalu polos sih.
Sementara itu Gerry memberikan minuman pada Kenza. "Sudah ku duga, kau akan gagal. Kalau akting mu semakin jelek, bukan hanya Liz yang menjauh. Para peoduser juga tidak akan memandang mu."
Kenza meminum air itu. "Sial, Aku benar-benar tidak tau kalau aku akan segugup itu saat berdekatan dengannya. Aku tidak bisa mengontrol seluruh gerakan ku."
"Tapi, Liz ya? Dia luar biasa, dia baru pertama kali akting dengan mu, tapi seolah sudah sangat menjiwai perannya. Artis berbakat seperti dia, kenapa masih ada di tahap menengah, harusnya dia sudah terkenal sekarang. "
"Ya, aktingnya masih luar biasa bagus, bahkan saat tiga bulan libur."
"Oh ya, drama kalian adalah drama romantis bukan? Dan akhirnya kalian akan menikah? Kau menyukainya? Cobalah menjiwai peran mu, bukannya malah semakin mudah kalau lawan mainnya adalah orang yang kau sukai? Benih-benih itu lebih mudah muncul."
Kenza menatap Gerry. "Yang kau katakan ada benarnya. Aku hanya perlu membayangkan semua skenario itu adalah nyata, kejadian antara aku dan dia."
"Baiklah semua bersiap, kita akan mulai lagi syutingnya. Nona Liz, tuan Kenza silahkan."
Adegan di mulai lagi, Kenza sudah meyakinkan dirinya untuk tidak gugup. Tapi sayang, kegugupan itu mendadak hadir, dan percobaan pertama gagal lagi.
__ADS_1
"Tidak perlu gugup oke? Jika senior gugup karna banyak kamera. Tatap saja mata ku, dan lupakan hal itu. Aku akan selalu mendukung senior, jadi berjuanglah." Kata Liz dengan wajah berseri dan senyuman hangatnya.
Kenzaa tersentak halus, mendadak rasa gugupnya hilang begitu saja.