Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Kejutan!


__ADS_3

...***...


Waktu sudah cukup lama berlalu, dan hari sudah mulai gelap. Dan luar biasanya, tidak ada yang mengucapkan salam pada Liz, kecuali gadis yang ada di depannya sekarang.


"Selamat atas pernikahan anda Nona! Semoga anda selalu bahagia, dan segera mendapat momongan, hehe." Kata Nana dengan setulus hatinya, menggenggam erat tangan Liz.


Liz terdiam, pipinya memerah sebentar, dia mulai membayangkan kehidupan bahagia, yang sederhana, beranggotakan dia, Devan, dan beberapa anak mereka yang bermain di lapangan.


Apa yang kau pikirkan Liz? Hentikan pemikiran tidak berguna itu, fokus pada tujuan utama mu.


"Kau benar, mungkin kami akan langsung melakukan program hamil, ah ngomong-ngomong, dia sudah menjadi Nyonya Devano Arkasa loh, perhatikan panggilan mu lagi." Koreksi Devan yang mendengar itu.


Glek, Nana menelan salivanya dengan susah payah, tatkala melihat wajah pria dingin itu dari dekat. Apalagi, suara yang baru dia keluarkan itu terdengar dingin dan seperti mengancam.


"Gapapa Nana, Devan cuma bilang makasih, emang caranya gitu." Tambah Liz menenangkan asisten mungilnya.


"Ehm, memang wajah saya terlihat bagaimana Nona?"


"Sebelas duabelas deh sama tikus yang dikejar macan."


"Separah itu nona?"


Liz mengangguk mantap.


"Oh ya Non-eh Nyonya, tadi Nana liat ada mobil Tuan Ken di depan gerbang, emang agak jauh sih. Tapi kok dia ga masuk-masuk sih?"


Devan langsung terperanjat seketika. "Apalagi yang dia rencanakan. Padahal, aku harap dia sedih sampai stress dan ga bakal datang."


"Wah, bisa-bisanya kau bilang hal semengerikan itu, dengan wajah begitu. Oh ya Nana, makasih, silahkan nikmati makanannya."


Nana mengangguk, dia langsung undur diri. Nana sadar, lebih lama mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Devan itu tidak baik untuk kesehatan telinga dan jantungnya.

__ADS_1


"Cih, akhirnya masuk juga. Mau apa orang itu ke sini?" Devan menatap sinis orang itu, dia adalah Artis terkenal Kenzaa, yang merupakan senior Liz.


Liz hanya diam menatap Devan aneh.


"Ada apa? Kau ingin marah? Berkata aku berlebihan."


Liz menggeleng pelan. "Suamiku ini sangat tampan, dan aku yang bak peri ini sedang menyelamatkan banyak orang, dengan tidak mengalihkan perhatian ku, dari suami keren ku ini."


Devan tersenyum, dia menarik tubuh istrinya semakin dekat. "Benar, memang begitu seharusnya, kedepannya juga gitu, jangan liat kemana-mana, karna aku ada di sini, disamping mu apapun yang terjadi."


Kenzaa terus saja melirik Liz, namun Liz bahkan tak sekalipun menatap Kenzaa. Padahal pertanda yang Liz berikan sudah cukup kuat sebagai penolakan. Tapi Kenzaa masih saja terus mengejarnya, apa itu yang di sebut cinta? Atau itu adalah obsesi semata, yang beralibikan cinta?


"Liz, dia sangat cantik, dia memang akan terlihat sangat cantik dengan pakaian apapun, bahkan tanpa pakaian juga. Harusnya, aku yang ada di sana saat ini." Gumam Ken meminum wine di tangannya.


"Ya, itu bisa menjadi posisi mu, jika saja seseorang yang bernama Devano itu menghilang, maka posisi yang kosong disana, ataupun di hatinya hanyalah milik mu." Sahut Gerry dengan lidah ularnya, entah belajar dimana dia selama ini, tapi lidahnya semakin lama semakin tajam.


"Itu benar, harusnya aku yang duduk di sebelah Liz!" Mungkin karna sedikit mabuk, dia hampir saja mengacaukan pesta pernikahan itu. Untungnya ada Gerry yang cepat menghentikan tindakan cerobohnya itu.


"Tapi aku tidak tahan, Devan selalu mencuri kesempatan untuk menyentuh Liz. Liz ku yang malang, dia begitu polos dan tak tau apa-apa. Pernikahan ini juga terjadi pasti karna pria itu yang merayunya."


"Tentu saja begitu, mana mungkin Liz yang imut mau menikah dengan orang semenyeramkan itu. Tapi Ken, sebesar apapun amarah mu saat ini, sekesal apapun kau, bersabarlah, jika kau tidak ingin dibenci oleh Liz seumur hidup, tenangkan dirimu." Gerry menepuk pundak sahabatnya itu, dia memberikan sokongan yang tidak akan Ken dapatkan dari siapapun.


Kena menghela napasnya, dia mulai bisa mengendalikan dirinya menjadi lebih tenang.


"Tapi, bukankah ini kelewatan, bisa-bisanya dia tidak mengizinkan kita memberikan selamat pada Liz."


"Apa kau benar-benar ingin memberinya selamat Ken?"


Ken menggeleng pelan. "Aku hanya ingin menatap matanya, dan menggenggam tangannya."


"Gapapa, bahkan suatu saat bukan hanya sekedar tatapan atau genggaman tangan, kau pasti akan mendapat yang lebih dari itu, percayalah pada diri mu sendiri, penilaian mu."

__ADS_1


Ken mengangguk mengerti, dia tau dia hanya perlu bersabar, karna rencana besar yang keduanya jalankan masih dalam proses persiapan.


Suatu hari nanti, akulah yang akan bersanding dengan mu, Liz.


Ken sedikit menggeser pandangannya, pada akhirnya matanya bertatapan intens dengan Devan, namun tampak Devan tersenyum menyeringai, dan dia sesekali mencium pipi Liz. Membuat hati yang mulanya panas kian terbakar.


...***...


Hari sudah tengah malam, dan pesta perayaan itu pun berakhir, Tara yang tidak enak dengan Arfen dan Thifa, memutuskan pulang ke rumahnya sendiri, tapi dia tidak tau mengapa, hatinya tidak tenang, ada yang tidak beres.


Hujan malam itu semakin lama semakin deras, membuat Tara memelankan laju mobilnya demi keamanan, namun betapa terkejutnya dia saat di depan gerbangnya, tampak anak perempuan berdiri di sana.


Tara mengambil payung dan turun dari mobilnya, menghanpiri gadis itu yang sudah basah kuyup, tampak badannya sudah menggigil.


"Siapa kamu? Kenapa kamu di sini? Kamu mau neduh?" Tanya Tara sedikit khawatir.


Gadis itu menggeleng. "Saya Vasa Pak, saya memang mau menemui anda, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan." Vasa terus melanjutkan ucapannya, walau suara itu masih bergetar.


Tara diam, dia menaikkan kewaspadaannya sedikit. Dia yang mulanya kasihan, kini tampak curiga. "Apa maksud mu?"


"I-ini soal bibi Deyna dan putrinya, sa-saya tau dimana keberadaan mereka!"


Cuaca hari itu memang sangat buruk, tapi tak di sangka hari itu secercah cahaya harapan menghampiri Tara lagi. Tidak ada yang tau betapa senangnya dia dengan beberapa kalimat yang di ucapkan gadis asing ini. Rasanya, ada suatu yang kembali hidup.


"Dimana Deyna?! Cepat katakan dimana Deyna!" Tara bagai orang kesetanan mencengkram erat baju Vasa. Membuat Vasa sedikit ketakutan, rasa sakitnya sedikir perih tertimpa air hujan. Namun Vasa tau, Tara melakukan itu karna dia sangat merindukan Deyna.


Betapa putus asanya dia selama ini?


Tiba-tiba Vasa menangis menatap Tara, membuat Tara sedikit bingung.


"Ah maaf, saya sudah kelewatan, cengkramannya begitu kuat kan? Maafkan saya, akan saya obati di dalam."

__ADS_1


Vasa menggeleng pelan, dia menunjuk ke arah langit. "Bibi Deyna ada di sana, di sisi sang pencipta, Dia mengambil kembali bibi Deyna."


__ADS_2