
...***...
Satu minggu sudah berlalu semenjak berita kehamilan Liz. Ya, yang tau hanyalah keluarga Arkasa dan Tara. Jangan tanya bagaimana reaksi Tara. Dia menangis seharian karna terharu, sungguh malang pasiennya saat itu karna dia tidak masuk kerja. Syukurlah tidak ada pasien yang begitu parah, dan masih bisa di tangani oleh beberapa dokter lainnya.
Dan pagi ini, setelah Tara memantapkan hatinya dan begitu banyak percobaan untuk tetap tenang, akhirnya dia berhasil makan pagi bersama Liz dan Devan.
Berkat ajaran Thifa, Liz dan Devan jadi lebih bisa santai. Namun, bukan Devan namanya kalau tidak berlebihan.
"Devan udah mutusin satu hal, kalo Devan bakal kerja dari rumah sambil jagain Liz sampai hari kelahirannya." Celetuk Devan enteng. Entahlah, kadang Alreya juga bingung, anak itu ngomong apa ga pernah di saring pakai otak? Itulah kira-kira penafsiran tatapan dan ekspresinya saat ini.
"Waras Dev, kasihan anak mu yang belum lahir, punya bapak stress." Cukup, Alreya tidak bisa menahan untuk tidak menghujat satu-satunya adiknya ini.
Bukan hanya Alreya, para orang tua setengah baya itu juga tak habis pikir dengan pola pikir presdir arogan satu ini.
"Devan, ya kalo mutusin sesuatu itu dipikirin bener-bener dong." Nasihat Thifa.
"Udah bener ma." Sahut manusia beku satu ini yang tak mau kalah.
"Papa gak setuju."
"Papa mau Liz kenapa-kenapa?"
"Bukan berarti ga ada kamu, Liz bakal kenapa-kenapa. Masih ada Mama sama Alreya yang siap jagain Liz. Ga usah aneh-aneh deh Devan. Separah-parahnya papa dulu, papa tetep kerja waktu Thifa hamil."
"Ya, itu kan Papa, ini Devan. Beda generasi, beda kisah kasih."
Tolong bantu Alreya yang ingin menimpuk adiknya pakai mangkuk sup di depannya. Alreya menarik napasnya, mencoba mengeluarkan segala kestressannya. "Devano Arkasa, bisa ga, ga usah lebay?"
"Apa sih, kau tuh ga tau apa-apa. Jangankan perasaan punya anak, perasaan mencintai dan dicintai lawan jenis kau aja ga tau."
****! Alreya benar-benar ingin menimpuk adiknya sekarang. "Pertama, aku ini kakak mu dan kita kandung. Kedua, bisa-bisanya kamu mengatakan hal semenyeramkan itu di depan kakak mu? Itu mulut atau sambal sih, pedes amat."
"Makanya, jangan ikut campur."
__ADS_1
"Ehm Devan, kayaknya kamu tetep harus kerja deh. Kamu gak mau kalau anak kita lahir dia banyak kekurangan materi kan? Kamu harus kerja lebih giat karna yang bakal kamu nafkahin itu dua orang. Aku ga mau anak kita kurang dalam hal apapun." Baiklah, akhirnya sang pemeran utama angkat bicara juga.
"Oh gitu, bener juga. Oke, aku bakal kerja lebih keras." Sahut Devan dengan anggukannya.
"Luar biasa, kayaknya hidup putri ku bakal baik-baik aja." Sambung Tara.
Bagi Liz, panggilan putri ku yang Tara lontarkan tidak lebih dan tidak kurang karna Tara adalah walinya saat itu.
Alreya dan Arfen sama-sama menarik napas, mencoba mengerti tingkat kebucinan keluarga mereka yang ini.
"Kalau ada apa-apa, langsung kabarin aku aja. Ngerti kan? Kakak, tolong jaga Liz. Jaga dia dengan benar."
Liz sangat bahagia melihat Devan sangat peduli padanya, begitu juga dengan Reya. Dia merasa nyaman dengan kepedulian mereka yang hangat. Bahkan ada saat sesekali dimana Liz melupakan kebenciannya pada Thifa, karna sikap hangat dan sosok ibu pelindung yang selalu Thifa tunjukan.
Apalagi saat ini Liz hanya bisa belajar banyak soal pengalaman hamil dan Thifa, membuat keduanya kian dekat. Meskipun begitu, kebahagiaan itu tidak sepenuhnya memenuhi hati Liz yang sempit. Dia masih sangat mengkhawatirkan Vasa dan Anna.
Apalagi kalimat terakhir yang Anna ucapkan adalah makian untuk Yuli dan informasi Vasa dan dirinya dalam bahaya. Bagi Liz, dia juga ingin membagikan berita bahagia ini dengan keluarganya, yaitu Vasa dan Anna. Tak cukup hanya tak bisa saling mengabari, kini mereka dalam bahaya.
Wajah Liz tampak murung, dia yang awalnya cukup menikmati makanannya, mendadak tampak tak berselera.
Tepuk tangan untuk kepekaan Devan yang luar biasa. Liz harus benar-benar mengucapkan syukur karna diberikan suami sepeka Devan. Jarang sekali ada pria yang sepeka itu. Entahlah, biasanya kaum meraka tidak peka. Atau mungkin peka tapi pura-pura tidak peduli?
"Ada apa Nak? Mau ke dokter?" Sambung Thifa tak sabar mendengar jawaban menantunya.
Liz menggeleng. "Ga ada apa-apa kok Ma, Liz cuma kurang berselera aja."
Mendadak suasana di meja makan cukup hening. Reya yang begitu berisik juga tidak berani angkat suara dan melontarkan candaan recehnya. Dia cukup bisa membaca situasi.
...***...
Hari ini berjalan dengan cukup baik, dimana Devan mampu menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya. Semua semangat itu dia dapatkan dari Liz, dia ingin sekali bertemu dengan Liz.
Vin sudah membukakan pintu untuk Devan, keduanya berada di parkiran kantor saat ini.
__ADS_1
"Devan!" Panggil seseorang tak jauh dari mereka. Suara yang cukup familiar, dan yang membuat jengkel, suaranya perempuan itu.
Devan menoleh, dia kenal siapa pemilik suara itu. "Kau?! Mau menyerahkan diri?!" Devan menatap tajam perempuan berambut lurus dengan topi hitam, dan masker yang di lipat di bawah dagu, berpenampilan keren dengan jaket dan jeans warna hitamnya.
Vin dengan cepat langsung mengunci pergerakan wanita itu.
"Anna, kau akan di hukum karna berani menculik nyonya muda Liz."
"Tutup mulut mu Vin sialan, kalau kau ga tau apa-apa, kunci mulut mu rapat-rapat." Sahut Anna santai. Pandangannya lurus ke depan, menatap mata tajam bak elang milik Devan.
"Jadi maksud mu kau tidak menculiknya?" Devan melangkah mendekat.
"Ehmm..., " Anna memutar bola matanya sebentar. Ya, faktanya memang Anna dalang penculikannya tanpa kekerasan. "Okay, bagian itu bener sih. Tapi aku ga pernah niat buat sakitin Lizy."
"Lizy? Cukup lancang ya memanggil istri ku seperti itu? Kau mau mempercepat kematian kah? Katakan saja, mau dengan cara apa?"
"Bukan itu, aku dan Liz sebenarnya adalah teman. Aku menemui mu karna ingin bertemu dengan Liz, ada beberapa hal yang harus aku katakan."
"Berhenti beromong kosong wanita ular!"
"Liz dalam bahaya!"
Khekk!!
Sepersekian detik berikutnya tenggorokan Anna benar-benar sakit. Devan mencekiknya tanpa ampun. Dada Anna mendadak sesak.
"Lepasin Anna tuan muda!" Vin dengan cepat melepaskan tangan Devan.
Uhuk! Uhuk!!!
Anna terbatuk seketika dalam pelukan Vin. Tampak Vin membantunya dengan sungguh-sungguh.
"Oh?" Devan menaikkan sebelah alisnya. "Jadi seperti itu? Kau ingin mengkhianati ku dan melindungi perempuan yang kau cintai? Walau kau tau perempuan ular itu penyebab Liz ku dalam bahaya?"
__ADS_1
Vin menarik napasnya. "Saya tau dia bersalah, tapi tidak bisakah anda membiarkannya menyelesaikan perkataannya?"