Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Angkuh nya dia


__ADS_3

...***...


"Suami ku, kalau ngomong itu nyelekit juga ya, untungnya aku udah terbiasa. Tuan muda lupa, aku adalah seorang artis, tidak memiliki kekasih. Jika aku punya pacar para penggemar pria ku bisa pergi nanti. Dan ya, itu ciuman pertama ku loh, aku bersumpah. Tapi jahatnya~ aku di katai begitu. Dan ya, aku tidak pernah tidur dengan siapapun. Jika aku sudah tidur dengan banyak produser dan sutradara, aku mungkin tidak akan di sini sekarang."


Devan masih mengingat kata-kata Liz itu. Wajah Liz yang sendu selalu saja terbayang di kepala Devan. Devan diam, tatapannya kosong.


Apa peduli ku? Biarkan saja, faktanya memang dia adalah gadis yang sangat mencintai uang.


Devan diam, dia membuka laptopnya, tapi dia menutupnya lagi. Hatinya tak tenang, dia benar-benar tak bisa fokus saat ini.


"Ehmm... Anu, Tuan muda. Aku rasa aku akan langsung pergi syuting, kau tidak perlu menemani ku belanja." Kata Liz sembari menampilkan cengiran manisnya, dia berjalan duduk di depan meja riasnya. Liz mengeringkan rambutnya.


Devan menatap Liz, wajah Liz yang mulus dan bersih tanpa riasan. Bibirnya pink merona tanpa ada lipstick di sana. Devan mendekati Liz, dia menarik tangan Liz. "Aku akan menemani mu belanja."


"Tidak per--"


Devan langsung mencium bibir Liz lagi. Liz sesungguhnya sangat tidak ingin melakukan ini, tapi dia juga tidak bisa menolak atau Devan akan curiga. Liz hanya bisa pasrah mengikuti segala keinginan Devan.


Yang aku butuhkan adalah kesabaran.


"Bersiaplah, aku akan mandi. Dan ya, aku percaya bahwa aku adalah yang pertama, aku hanya ingin aku satu-satunya, jika sampai ada orang lain yang menyentuh mainan ku ini. Kau tau bagaimana aku akan menghukum mu kan??" Devan berjalan pergi mandi.


Liz langsung mengusap bibirnya kasar, dia mengambil tisu dan mengusapnya.


Menjijikan, ini benar-benar menjijikan. Astaga Liz, aku harus memikirkan banyak cara agar menghindari kejadian ini lagi. Masih ini, aku harus menghindari kejadian yang lebih buruk lagi.


Anna! Jika sampai kau gagal! Akulah yang rugi besar.


...***...

__ADS_1


Saat ini Liz, Devan dan Vin sudah di dalam mobil. Mereka segera menuju ke pusat perbelanjaan. Tapi sesungguhnya Liz benar-benar sudah kehilangan semangatnya. Bahkan sejak masuk mobil, Liz hanya diam saja, tanpa mengatakan apapun atau tersenyum sedikit pun.


Ada apa? Apa yang terjadi? Tidak heran melihat tuan Devan diam sepanjang perjalanan, tapi Nona Liz? Nona muda yang terlalu berisik ini mendadak diam, apa yang sudah terjadi?


Batin Vin, dia hanya mampu memperhatikan tanpa mengatakan apapun.


Aku benar-benar tidak bisa ke sana, aku harus terus tersenyum. Tapi aku sedang tidak ingin tersenyum. Perkataan orang ini selalu saja mengulang di kepala ku. Seolah ini bukan hanya penghinaan untuk ku, tapi juga untuk Almarhuma mama.


Liz hanya diam, dia bahkan tidak menatap Devan. Dia hanya fokus melihat pantulan dirinya di cermin.


Aku muak, aku ingin ini berakhir..., kenapa harus selama ini? Devan cepat jatuh cinta lah, maka aku akan meninggalkan mu!! Tapi, kenapa dia mencium ku? Ah ya, sudah jelas, karna aku mainan pemuas nafsu sesaatnya kan? Dia sendiri yang bilang aku mainan..., ya mainan yang tidak ada harganya. Seperti Tara yang begitu mudahnya membuang Mama Deyna.


"Nona muda, kita sudah sampai di pusat perbelanjaan termewah di sini." Kata Vin memarkirkan mobilnya.


Liz hanya diam saja, dia termenung. "Kalau kalian ingin membeli sesuatu, beli lah. Aku lagi gak minat buat belanja."


Tring!!


"Tuan muda, dimana anda? Bukan kah sudah saya bilang dari tadi kalau kita ada rapat penting, anda tau? Klien kita sudah menunggu anda lebih dari satu jam. Dan mereka sedang marah-marah saat ini. Saya mohon segeralah kembali ke kantor." Kata Anna tegas dari telepon sana. Meskipun Anna menginginkan kebangkrutan Devan. Tapi Anna tidak boleh di curigai, dia harus tetap melaporkan situasi kantor.


"Katakan, kalau rapat hari ini di batalkan. Persilahkan mereka untuk pulang." sahut Devan dingin, dia langsung mematikan ponselnya.


Devan keluar dari mobil, dia membuka kan pintu mobil Liz sendiri. "Ayo, pilih semua barang yang kau inginkan. Kalau kau memang ingin, aku akan membeli pusat perbelanjaannya sekalian." Devan mengulurkan tangannya.


"Bukan kah tuan muda ada rapat penting? Pergilah, aku baik-baik saja. Aku akan naik taxi untuk pergi syuting nanti." Liz tidak menyambut uluran tangan itu. Dia hanya tersenyum dengan paksa.


Devan menatap Liz tajam, dia tau. Liz tidak niat tersenyum, senyuman yang ia paksakan itu membuat Devan jijik. "Kau yakin tidak ingin berbelanja? Atau kau butuh uang lagi? Aku bisa memberikannya? Kalau kau tak enak badan, pulang dan istirahatlah tidak perlu ikut syuting."


Liz menggeleng pelan. "Tidak, aku sudah memutuskan untuk syuting hari ini. Tuan muda antar saya ke lokasi syuting saja."

__ADS_1


"Baiklah." Devan kembali masuk ke dalam mobil.


Hahaha Angkuh sekali, padahal statusnya masih sama-sama manusia. Sudah tau bersalah tapi tidak meminta maaf. Malah lebih mengutamakan memamerkan uang. Baguslah, kau membuat ku tidak ragu untuk menghancurkan mu.


Ponsel Liz bergetar, dia sengaja mematikan nadanya saat berjalan bersama dengan Devan.


An:


Nice Liz, bagus banget. Sekarang rapatnya hancur, perusahaan rugi miliyaran rupiah, dan kau benar-benar berhasil mengulur waktunya. Ini jarang sekali terjadi loh, Tuan Devan tidak datang walau ini rapat penting. Dia seperti bukan dirinya lagi. Trik apa yang kau lakukan? Ceritakan pada ku.


^^^Aku akan menceritakan nanti, Ada Devan di sebelah ku. Syukurlah, aku benar-benar bahagia mendengar keberhasilan mu. Aku harap balas dendam ini segera berakhir, dan mereka segera tersiksa.^^^


Devan melirik Liz dari ekor matanya. Liz sadar akan hal itu. Gadis itu langsung memyimpan ponselnya.


Ada apa? Apa dia benar-benar terluka karna kata-kata ku? Jarang sekali dia menolak uang, apalagi jumlahnya banyak. Devan tidak mengerti situasi saat ini.


...***...


Liz sudah sampai di tempat syuting, dia keluar dari mobil. "Terima kasih, aku akan bekerja keras hingga tidak bergantung pada siapapun lagi." Liz menampilkan senyuman manisnya.


Liz pergi menjauh, Vin bisa melihat raut wajah tidak senang pada Devan. Vin melanjutkan jalannya.


Brakkk


Karena sedikit melamun akhirnya Liz menabrak seseorang di depannya.


"Hei nona Liz? Apakah anda baik-baik saja?" Tanya pria itu membantu Liz berdiri.


"Ah? Tuan Ken? Wow,  tidak menyangka bisa bertemu dengan artis papan atas seperti anda. Dan yang tidak di sangka, anda malah mengenal saya? Oh ya, ada perlu apa anda kemari? Mungkin Liz ini bisa membantu." Kata Liz dengan senyuman manisnya seperti biasa, yang selalu dia tampilkan di depan semua orang.

__ADS_1


"Ah, kau belum tau? Lawan main mu sebagai pemeran utama pria protagonis adalah aku. Simpelnya, kau adalah putrinya dan aku adalah pangerannya."


...***...


__ADS_2