
...***...
Sejak malam itu, usia ku 10 tahun, aku tidak pernah lagi bertanya soal Papa. Lihat, bahkan sampai saat ini, usia ku 14 tahun, dia bahkan tidak datang di ulang tahun ku.
Pada saat itu, malam sepi yang sunyi, aku duduk sendirian di taman. Malam itu juga Tante Yuli datang, dan dia menceritakan semua kebenarannya pada aku yang 10 tahun. Kebenaran bagaimana sikap Tara yang sesungguhnya pada Mama.
"Kau tau, alasan kenapa Papa mu tidak pernah menemui mu? Dan ibu mu? Itu karna dia mencintai Lathifa Kanneira, dia cinta mati pada istrinya Arfenik Arkasa itu." Kata Tante Yuli duduk di sebelah ku.
Aku menatap nya tak percaya. "Mana mungkin dia mencintai istri orang lain, saat dia memiliki istri dan anak sendiri kan?" Meskipun aku membenci Papa, mungkin jika saat itu Papa datang dan memohon, lalu membawa mama dan aku pergi, hingga kami bisa hidup bahagia. Mungkin..., mungkin saja aku akan memaafkannya. Tapi, sejujurnya aku tidak percaya dengan perkataan tante Yuli. Ibu ku tidak begitu kan.
"Tara hanya menganggap ibu mu pelampiasan nafsu, bahkan dia sering memanfaatkan Deyna demi mendapatkan Thifa. Tapi sayang, Thifa dan Arfen tidak bisa dipisahkan, meskipun begitu. Tetap saja Tara sangat mencintai Thifa. Karna Thifa, Tara mencampakkan ibu mu, bahkan saat dia tau ibu mu sedang mengandung anaknya, yaitu kau. Kau dan ibumu, di buang oleh Tara. Kalian tidak ada dalam kehidupannya, itu semua karna cintanya Thifa!" Tante Yuli menceritakannya dengan wajah penuh dendam di sana.
Deg...
Jantung ku seolah berhenti sepersekian detik. Fakta ini, terlalu tidak masuk akal bukan? Aku..., waktu itu aku berusia 14 tahun, hanya 14 tahun.
"Mana mungkin..., dia membuang aku dan ib--"
"Dia memang membuang mu dan ibu mu, dia tidak menginginkan mu, bahkan saat kau belum lahir! Sadari itu Nak, ibu mu bodoh, sejak dulu tante sudah bilang padanya untuk menjauhi Tara. Dia tidak perduli, dia bilang itu semua karna dia mencintai Tara. Cinta cinta cinta! Itu hanya omong kosong, Liz, Cinta itu omong kosong. Tidak ada cinta dari pria yang nyata, mereka hanya menunggu saat dia memanfaatkan. Liz, ingat ini, di dunia ini hanya ibu mu yang mencintai mu lebih dari segalanya, kau tau kan? Betapa ibu mu sangat menyayangi mu?"
__ADS_1
Aku diam, air mata ku mulai mengalir. Tapi itulah memang kebenarannya, cinta dari orang lain itu omong kosong. Cinta yang nyata, aku rasakan hanya dari Mama, Mama yang memberikan semua yang aku butuhkan, kasih sayang melimpah, segalanya. Mama itu segalanya untuk ku.
Aku berterima kasih pada Tuhan, karena hari itu aku bertemu dengan Tante Yuli, Vasa dan Anna.
"Kau tau? Ibu mu sangat cantik kan? Tapi dia tidak menikah lagi, padahal banyak sekali pria yang meminangnya, itu semua karena dia mencintai Tara. Kau tau, cinta sebodoh itu Liz..., ibu mu jadi bodoh...,"
Lalu Tante Yuli menunjukan foto-foto, dimana Ada Papa dan dua orang lainnya, dan ada dua anak kecil juga di foto itu, itu sepertinya foto perayaan ulang tahun. Aku bisa melihat Papa menggendong seorang anak lelaki berusia tiga atau empat tahun.
"Kau tau pasti mana Tara, papa mu kan? Hanya satu perempuan dewasa disana, itulah Lathifa, dan satu pria lagi, itulah Arfen. Dan dua anak-anak itu? Itulah anak Arfen dan Thifa. Sudah tante bilang, cinta itu buat bodoh. Tara sangat mencintai putra Thifa dan Arfen, dia adalah Devan Arkasa. Devan adalah anak angkat Tara. Haha, lihat, bahkan Tara membuang mu dan ibu mu, biar dia bisa mengurus anak dari Thi--"
"Cukup!!! Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi!! Aku mau tidur, terima kasih Tante Yuli udah mau nemenin waktu Liz." Aku kembali masuk ke dalam panti asuhan, namun sepanjang jalan air mata ku terus mengalir.
Aku berjalan menuju kamar mama, namun aku berhenti saat mendengar tangisan mama di tengah malam, aku sedikit membuka pintunya, aku berjalan perlahan. Mama hanya menangis di balik selimutnya. "Seandainya..., seandainya wanita yang begitu kau cintai adalah aku, dan bukan Thifa. Mungkin kita akan hidup bahagia saat ini..., hidup sebagai keluarga harmonis dengan putri kita yang cantik. Tara..., aku mencintai mu sampai saat ini meski kau masih mencintai Thifa..., selamanya. Tidak apa, memiliki anak dengan darah mu adalah keberuntungan untuk ku."
Deg...
Air mata ku tidak bisa berhenti mengalir. Tenggorokan ku sakit, bibir ku berat untuk berbicara, kesedihan sudah merayapi tubuh ku.
Mama menanggung semua beban ini.
__ADS_1
Aku yang tidak tau apa-apa itu saat itu juga mulai mencari tahu segalanya. Apa yang Tante Yuli katakan benar adanya, aku mengetahui segalanya dari internet, bagaimana baiknya hubungan mereka.
Hanya beberapa minggu berselang dari hari itu, aku tau lagi kalau yang Tante Yuli katakan itu benar. Mama..., menolak semua pria yang melamarnya, karna dia masih mencintai pria sialan itu.
Sejak aku kecil, dan sampai saat itu aku mengingat semuanya, dalam ingatan itu aku hanya bisa mengingat, kesedihan Mama. Bahkan aku tidak ingat, kapan terakhir dia bahagia? Ah bukan, dia bahkan tidak pernah bahagia setulus hati sejak aku lahir.
Mama, seperti sudah kehilangan segalanya, kebahagiaannya, hatinya, jiwanya, bahkan dirinya sendiri.
Mulai hari itu, aku sudah bertekad dan memutuskan segalanya, segalanya yang akan menjadi tujuan hidup ku. Air mata yang entah sudah berapa mama keluarkan, aku akan membalasnya. Balas dendam ku bangun saat itu.
Aku ingin menunjukkan pada mama balasan yang sesuai untuk mereka yang menyakiti mama. Tapi, sayang sekali, saat usia ku 19 tahun. Mama sudah meninggal, karna dia sakit. Wajar..., dia... Ah sudahlah.
Aku sudah berjanji di depan makam mama, untuk membalaskan dendam membara itu, kepada Tara Mahendra, Lathifa Kanneira, Arfenik Arkasa. Melalui putra mereka Devan Arkasa. Kebencian ini tak kan padam begitu saja. Kalian akan menderita.
Saat itu aku di didik oleh Tante Yuli, balas dendam ku juga di dukung oleh Vasa dan Anna. Tapi sayang, di saat usia ku 21 tahun. Tante Yuli juga meninggal dunia....
...Liz POV Selesai...
"Liz!!" Panggil Devan dari luar, panggilan beserta ketukan di pintu itu menyadarkan Liz dari lamunannya.
__ADS_1
Liz menatap dirinya di cermin. Tanpa sadar, bajunya sudah basah karna air mata itu mengalir dengan derasnya.