Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Gengsi membuat mu lapar~


__ADS_3

...***...


Devan menutup telponnya setelah menghubungi Vin. Dia juga menutup laptopnya.


Vasa ya? Manajer Liz? Jika aku bertemu dengannya, aku harus apa? Memarahinya atau berterima kasih padanya? Karna ulahnya Liz berutang pada ku kan?


Dan ya? Kapan dia akan datang?  Makanan apa yang dia buat? Aku lapar sekali. Kenapa Vin lama sekaliii.


Suara ketukan terdengar dari luar sana. Devan tersenyum miring, dia pikir itu adalah Liz. "Masuk." Katanya senang.


Baguslah, aku sudah lelah, aku membutuhkannya untuk menghilangkan stress. Ah itu memang tugas mainan kan?


Namun kesenangan Devan mendadak hilang, saat ekspetasinya tak sesuai realita. Bukannya Liz malah Grisha yang datang membawa makanan.


"Keluar, aku sedang tidak ingin melihat mu." Kata Devan sinis. Dia menatap tajam Grisha, Grisha sadar pandangan itu adalah bentuk tidak suka Devan.


"Tolong jangan usir aku, bukan kah kau bilang akan memberi ku kesempatan?" Grisha masuk. Devan hanya diam.  Grisha duduk di sebelah Devan. "Aku membawakan mu makanan, jadi ayo makanlah."


"Aku menolak, aku tidak lapar." Bohong Devan, padahal dia saat ini sudah sangat lapar loh.


"Baiklah, satu sendok saja. Cicipi ini dan katakan bagaimana rasanya, aku baru belajar memasak." Grisha menyodorkan satu suapan pada Devan, dengan senyuman yang manis. Namun Devan bahkan tidak membuka mulutnya.


"Justru karna kau yang memasak aku tak ingin memakannya."


"Dev..., Aku mohon, sekali ini saja. Tolong makan yaaa, aku mohon." Grisha bahkan sudah menetes kan air matanya.


"Lebih baik kau pergi seka--"


Pintu ruangan Devan terbuka, ternyata ada Liz yang masuk dengan membawa makanannya. Liz hanya tersenyum gagu dan keluar. Begitu juga Anna dan Vin yang langsung datang.


Mata Devan mendadak tajam, wajahnya tidak suka, aura di sekitarnya menjadi kelam. "Vin tutup pintu itu." Kata Devan dingin.


"Aaa senangnya, artinya kau ingin makan dengan ku kan? Baiklah ayoo Aaaa~"


Devan menepis tangan Grisha, bahkan sampai sendok itu terjatuh. "Diam, dan makan itu, habiskan untuk mu sendiri, lalu keluarlah!" Entah kenapa Devan mendadak marah. Aurnya suram, sejujurnya Grisha sudah takut. Dia tidak berani lagi memaksa Devan untuk makan.

__ADS_1


"Ma-maaf, aku akan makan sendiri. Aku tidak akan memaksa mu." Grisha segera menghabiskan dua porsi itu sendirian.


Devan mengingat lagi, ekspresi Liz yang memasang cengiran polosnya, tanpa ada ekspresi marah atau kesal disana. Liz sama sekali tidak perduli.


Bagaimana dia bisa bersikap seperti itu? Kenapa dia tidak marah, padahal aku harap Liz memarahi Grisha, tapi dia bahkan hanya tersenyum dan pergi? Apa dia sudah berubah? Kemana perginya gadis licik itu? Apa dia tidak sadar kalau aku balikan dengan Grisha, maka sumber uangnya akan hilang. Dia tidak takut? Harga diri ku jatuh!! Bayangan ku salah! Tidak boleh! Perkiraan ku tidak boleh salah! Harga diri ku.


Kepala Devan sudah panas. Dia itu memiliki ego dan gengsi yang sangat tinggi. Dia merasa perlakuan Liz barusan adalah penghinaan untuknya.


Dia meremehkan aku? Apa karna sudah tanda tangan kontrak? Dia menjadi sombong dan merasa bisa mencari uang sendiri? Dia kira itu cukup mebutuhi kebiasaan belanjanya?  Firlizy Defana, aku akan menghukum mu nanti.


Devan menatap Grisha, sepertinya Grisha hampir selesai. Devan bangkit keluar, dia menemui Vin di pintu. "Panggil Liz sekarang, aku ingin menemuinya."


Vin langsung berjalan ke ruangan Anna, Devan kembali masuk. "Cepat bereskan tempat makan itu dan pergilah. Aku tidak ingin melihat mu."


"Tuan muda memanggil ku? Ah, ada nona Grisha juga di sini? Apa kalian sudah makan?" Tanya Liz dengan senyuman yang tak memudar, dengan Vin dan Anna di sebelahnya.


"Ya, makanannya sangat enak." Sahut Devan tersenyum miring.


Grisha bangkit berdiri. "Kalau begitu, karna aku ada urusan, aku pamit lebih dulu." Dia langsung berjalan pergi, sebelum dia keluar dari pintu, Grisha menatap Devan dengan senyuman hangat andalannya. "Aku akan membawakan mu makanan lainnya, karna kelihatannya kamu sangat suka, dan lahap sekali makannya."


Grisha berjalan keluar. Sebenarnya? Apa maksud Devan? Kenapa dia berbohong di depan Wanita itu?


Devan bangkit berdiri, dia mengambil bekal yang Liz bawa. "Oh ya? Ini makanan yang kau buatkan untuk ku kan? Meskipun aku sudah kenyang, karna aku orang yang baik, aku menghargainya. Aku akan memakannya di depan mu." Devan duduk dan membuka bekal makan itu.


Ko-song?!


"Oh iya tuan, karna anda sudah makan dengan nona Grisha, jadi aku dan Nona Anna sudah memakannya. Aku pikir sayang kalau tidak di makan kan?" Kata Liz mengingat lagi.


"Terima kasih atas makanannya tuan muda. Anda kenyang saya juga kenyang." Sahut Anna tanpa dosa.


Devan mengepalkan tangannya kuat, dia merapatkan giginya menahan amarah. Auranya mendadak kelam.


"Anna! Sekarang pergi ke proyek, kau harus turun tangan langsung ke sana. Aku mau hasil dalam dua jam, itu harus selesai tanpa kesusahan!" Titah Devan pendangannya masih menunduk, namun suaranya terdengar mengerikan.


"Tapi tuan muda, menyelesaikan itu butuh dua hari." Bantah Anna cepat.

__ADS_1


"Makanya untuk menghemat waktu, pergi sana dan kerjakan! Dan kau Liz, tetap tinggal."


Anna segera pergi, dia tidak tau tuannya sedang kesetanan atau apa. Lebih baik dia langsung mengerjakan proyeknya.


"Liz tetap berdiri, termasuk juga Vin, jangan bergerak sampai aku memerintahkan!" Devan kembali ke kursi kebanggaannya. Dengan perut nya yang sedang mendemo, dia benar-benar lapar sekarang.


Liz bodoh! Kenapa dia malah makan dengan Anna! Anna sialan!  Kenapa kau juga menerimanya.


"Tuan muda, aku baru selesai makan loh, masa iya berdiri gini. Ga baik tau." Pinta Liz dengan wajah memohon ala dirinya.


Tidak boleh goyah!  Itu salahnya sendiri! Siapa suruh menghabiskan makanan itu dan membuat aku kelaparan.


"Diam dan berdiri, sebelum aku menendang mu." Kata Devan dingin.


"Tuan Alien, ada apa dengan tuan mu? Dia yang selingkuh kenapa aku yang di hukum? Apa karna dia baru saja di tolak oleh Grisha?" Bisik Liz, namun itu tentu saja terdengar oleh Devan.


Devan menggebrak mejanya, dia bangkit berdiri, berjalan mendekat ke arah Liz. Tampak pandangan Devan begitu tajam dan menusuk.


"Ku mohon jangan dagu lagi, rahang ku benar-benar tidak bisa di perbaiki nanti." Kata Liz dengan ekspresi menyedihkannya.


Devan tersentak halus. Dia mendadak ingat kejadian itu. Devan menarik tangan Liz kuat.


"Vin, siapkan mobil dan cari tempat makan terdekat."


Vin mengangguk, dia akhirnya mengerti alasan segala sikap tuan mudanya.


Jadi karna itu, Tuan muda belum makan apapun, dia pasti lapar. Nona Liz, dia benar-benar tidak peka.


"Ha? Makan? Buat apa? Kita baru aja selesai makan loh, perut ku aja hampir meledak karna kekenyangan."


Devan melirik Liz dingin. "Diam dan ikuti aku."


...***...


Hari ini 2 eps yaaa~

__ADS_1


__ADS_2