
...***...
Setelah mengabari keluarga Arkasa, Liz memutuskan untuk tidur di apartemen ibunya malam ini, dengan Tara yang menemaninya.
Hari sudah hampir larut, namun Liz, masih hanya memandangi langit-langit kamarnya. Perasaan hangat yang tengah hari tadi sempat memuncak, masih tersisa di hati Liz.
Liz ingat, setelah pelukan penuh air mata itu, Tara membeli es buah kembali dan mereka makan bersama. Meski agak canggung, namun Tara selalu berusaha mencari topik pembicaraan. Setidaknya suasana makan siang dan makan malam tadi, tidak se-sepi perkiraan Liz. Meski hanya jawaban singkat, tapi Liz tetap menjawab pertanyaan Tara.
Liz terduduk menyandar, dia mengambil foto Deyna yang ada di nakas sebelahnya. "Ma, hari ini Liz tidur di kamar Mama, dan hari ini Liz juga udah berdamai sama Papa. Mama apa kabar? Menurut mama gimana? Apa yang Liz lakuin udah bener?"
"Pasti lebih seru kalau mama ada di sini. Ma, kenapa mama perginya cepet banget. Ayah selama ini nyari kita loh Ma."
Sayang sekali untuk Deyna, dia tidak bisa merasakan kebahagiaan tinggal bahagia dengan orang yang di cintainya. Tapi Liz yakin, dimanapun Deyna berada, dia pasti sedang bahagia melihat Putri dan orang yang dicintainya berdamai.
"Liz kangen banget sama Mama. Andai Papa nemuin kita lebih cepat, pasti Mama juga bakal bahagia di sisa umur Mama. Maafin kami semua ya Ma." Liz memeluk foto sang wanita terhebatnya.
"Oh ya Ma, Vasa hilang, bantuin Devan dan yang lainnya buat temuin Vasa ya Ma."
Liz kembali membaringkan badannya, dia menatap langit-langit kamar dengan sendu.
"Devan, kapan kamu pulang? Aku kangen, banget. Kenapa handphonenya juga gak aktif, benda kecil satu itu bukan cuma buat pajangan loh Devan! Apa Devan dalam bahaya?"
Liz menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Gak, gak mungkin terjadi apa-apa sama Devan! Devan udah janji bakal pulang dalam keadaan sehat. Dia bakal jadi Ayah."
Liz berusaha sekuat tenaga untuk membuang pikiran-pikiran menyebalkan itu.
Pagi hari sudah tiba tanpa Liz sadari, ketukan di luar pintu membangunkannya.
"Sarapan, Nak." Suara Tara begitu segar terdengar di telinga.
__ADS_1
"Iya Ayah. Liz bangun." Tanpa Liz sadari, dia langsung mengenali bahwa itu Ayahnya.
Mata Liz sembab, semalaman dia suntuk memikirkan Devan. Bahkan tidurnya benar-benar tidak nyenyak. Hampir dua minggu tanpa kabar? Ayolah, Liz sudah tidak bisa menunggu lagi.
...***...
Keheningan memenuhi ruangan itu, hanya ada Tara dan Liz yang sarapan bersama. Ada dentingan sendok yang memang sesekali terdengar.
"Ayah, apa udah ada kabar dari Devan? Udah dua minggu Liz sama sekali ga tau keadaan Devan." Ujar Liz, yang untuk pertama kalinya membuka pembicaraan. Sebenarnya Liz juga masih gagu untuk mengatakan itu. Hanya saja, kekhawatirannya soal Devan sangat tinggi. Hati dan jiwanya belum bisa tenang kalau tidak tau bagaimana keadaan Devan.
"Maafin Ayah sayang, Ayah belum dapet kabar apa-apa. Tapi Ayah bakal usaha carii keberadaan Devan. Maafin Ayah yang kurang ini." Tara menunduk sedih. Dia kecewa pada dirinya sendiri.
Padahal..., padahal dia baru aja menerima ku lagi. Bagaimana bisa aku jadi Ayah yang pecundang seperti ini? Padahal aku udah janji bakal lakuin apapun demi membahagian Liz, tapi mencari kabar soal suaminya pun tidak bisa.
Bukankah ini ironis? Siapa yang pergi mencari siapa? Dan siapa yang hilang. Sungguh benar-benar membingungkan.
"Ga apa-apa, Devan bentar lagi pasti juga akan balik." Namun, isak tangis terdengar begitu lirih dari wanita berbadan dia di depan Tara. Tidak! Tara tidak bisa lagi melihat putri sematawayangnya bersedih, apalagi menangis frustrasi.
Tara memeluk putrinya dalam kesedihan. Ketakutan akan Devan yang tak pulang membuat badan Liz semakin gemetar. Tara yang menyadari hal itu, semakin dibuat merasa bersalah. Menurut Tara, kesedihan yang Liz tanggung, semua adalah kesalahannya. Padahal kan bukan begitu?
...***...
Beberapa hari sudah berlalu, dan liburan Ayah dan putrinya sudah selesai. Liz kembali ke kediaman Arkasa. Meskipun Tara sangat berat melepaskannya, namun dia tetap harus mengirim putrinya kembali. Mau bagaimana lagi, putri kesayangannya sudah menikah.
Keluarga Arkasa dan Anna yang mendapati kabar perdamaian antara kedua ayah dan anak itu, tampak begitu bahagia. Apalagi Anna, dia yang akhir-akhir ini berusaha cukup keras untuk mendamaikan keduanya, terasa berhasil.
Maafkan dosa-dosa ku yang menghasut mu Liz. Ya, setidaknya sekarang aku udah menebusnya kan? Ah nurani ku.
Begitulah batin tulus dari manusia selicik Anna. Sejujurnya, meskipun memang sifatnya setengah iblis, tapi dia masih punya hati nurani loh. Bersyukur lah Anna yang seperti itu mempunya hati, walau hanya sebesar biji. Kalau tidak, entah sampai kapan ayah dan anak itu akan berdamai.
__ADS_1
"Kalau begitu, Tara, ayo makan malam di sini. Akhirnya, setelah begitu banyak drama. Semuanya selesai dengan baik." Arfen merangkul Tara, membawanya menuju meja makan. Begitu juga dengan Thifa, menggandeng tangan menantunya dengan hangat.
Sejujurnya, Thifa memang sangat merindukan menantu mungil dan janin yang ada di dalam sana. Thifa benar-benar kesepian selama beberapa hari terakhir.
"Masalah udah selesai? Belum Tuan Arfen, masih ada Tuan muda Devan, Vasa, Dan calon suami saya yang belum kembali." Celetuk Anna enteng.
"Tenang aja, Devan adalah anakku, dia pemeran utamanya, pasti bakal baik-baik aja." sahut Arfen enteng, seperti dia tau masa depan aja.
"Kenapa kamu bisa begitu percaya diri?" Thifa memiringkan kepalanya, menatap suaminya yang tak lagi muda, namun tetap tampan.
"Emang gitu, dari zaman Papa Nathan, Aku, dan Devan juga pasti begitu. Semuanya bakal baik-baik aja, dan akhir bahagia menanti kita semua." Enteng sekali mulut orang tua satu ini menjelaskan situasi.
"Semoga aja gitu. Eh--tapi, Anna? Calon suami? Siapa? Kok aku ga tau?" Liz menatap penuh selidik mata sahabatnya itu.
Anna mencoba menghindari tatapan Liz, namun Liz menatapnya semakin tajam. "Ya Vin lah, siapa lagi calon suami lumayan, tampan, mapan, selain Vin? Banyak sih, tapi yang suka sama aku kan cuma Vin. Jadi, kesimpulannya ya VIN." Sahut Anna dengan senyuman penuh maksudnya.
"Jadi kalo Vin nggak ganteng dan gak kaya?"
"Ya maaf-maaf saja."
Tolong, apa ada yang punya panci? Rasanya Liz ingin sekali menggetok sahabatnya ini. Setidaknya berbasa-basilah.
"Belajarlah untuk mencintai Vin kalau kau mau menikahinya."
"Tidak apa-apa selama dia kaya!"
Panci mana panci?!
...***...
__ADS_1
...Makasih yang udah mau nungguin. Eitss, tenang aja. Belum Tamat kok! ...