Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Kehilangan Hal yang berharga


__ADS_3

...***...


Pagi ini Devan sudah bangun sebenarnya, tapi dia masih menatap Liz yang ada di dalam pelukannya. Pagi ini jarak mereka benar-benar dekat, Devan bahkan bisa mendengar deruan napas Liz.


Devan menatap gadis berwajah polos yang dekat sekali dengannya, Devan bisa perhatikan betapa cantiknya gadis ini.


Cup...


Tanpa Devan sadari, dirinya bergerak sendiri mengecup kening gadis itu. Devan tersadar, untungnya Liz belum bangun, Devan menghela napasnya lega.


Dia tidak boleh tau aku melakukan itu barusan! Jika dia tau, dia akan berisik dan berfikir yang tidak-tidak.


Devan menatap jam di dinding, ini sudah pukul 7 pagi dan Liz belum bangun juga.


Kapan gadis ini akan bangun? Aku harus ke kantor sekarang.


Padahal Devan bisa saja bangun dan pergi, tapi untuk apa dia malah menunggu  Liz?


Cepat bangun dan katakan selamat pagi!


Devan mengambil pulpen di nakasnya, dia sesekali mengusili rambut Liz agar dia bangun. Mungkin lelah Liz sama sekali tidak bangun. Akhirnya setelah lima belas menit berlalu, Liz membuka matanya.


Liz menatap Devan yang masih menutup matanya,tentu saja karna saat Liz membuka mata, hanya ada Devan di depannya.  tentu saja karna saat Liz membuka mata, hanya ada Devan di depannya.  ah itu hanya bohong, Devan sudah bangun kan?


Aku membenci mu putranya Lathifa Kanneira.


Liz menatap jam di dinding dan sudah pukul setengah delapan! Liz memijat keningnya sakit.


Aku hari ini udah mulai syuting loh. Kenapa bisa kesiangan, untung aja syuting mulai jam 10. Terus Devan? Kenapa dia belum bangun? Dia harus ke kantor kan? Ada rapat penting. Baguslah dia akan kehilangan klien dan segera bangkrut.

__ADS_1


Tring!


Satu pesan berbunyi dari ponsel Liz, ia mengambil benda serba tau itu dari nakasnya. Ada sebuah pesan masuk dari Anna.


Anna:


Hari ini Devan ada rapat penting pukul 8, bisa kau atur agar dia terlambat, bila perlu tidak bisa datang. Ini proyek penting untuk perusahaan, dan klien dari Jerman. Bagaimanapun caranya dia tidak boleh datang, ini agar mendukung kebangkrutannya.


Liz diam sebentar, dia menatap Devan.


Dia masih tidur, aku rasa bisa membuang waktu.


^^^Baiklah, serahkan pada ku soal Devan. Anna, aku menyerahkan kehancuran bisnisnya pada mu. ^^^


Tidak masalah, ini akan mudah jika kita bersama.


Devan perlahan membuka matanya, dan langsung di sambut dengan senyuman Liz.  Liz memegang kedua pipi Devan. "Selamat pagi suami ku~" dan langsung menempelkan wajahnya di dada bidang Devan.


Devan menaikkan sebelah alisnya, dia tersenyum miring. "Ada apa? Kenapa kau aneh pagi ini?"


"Ini adalah hari pertama ku kembali syuting, setelah beberapa bulan nganggur. Aku sedikit gugup."


Aaaa Anna, segeralah hancurkan bisnisnya.


"Kalau begitu kau tidak perlu bekerja kan?"


Liz menjauhkan wajahnya dari dada Devan. Dia mendekat ke wajah Devan. "Tidak bisa, aku ga mau miskin. Siapa yang jamin aku bisa tetap jadi artis saat kau sudah membuang ku."


"Sudah berapa kali ku bilang, aku tidak akan membuang mu dalam waktu dekat. Jadi tidak perlu di bahas." Wajah Devan terlihat sangat kesal. "Aku akan ke kantor." Devan ingin bangkit berdiri, namun tangannya di tahan oleh Liz, Liz menarik Devan kembali terduduk di dekatnya. Liz mengalungkan tangannya di leher suami di atas kertasnya itu.

__ADS_1


Liz semakin mendekat ke wajah Devan, hingga dia memberanikan diri mencium bibir Devan. Devan memang sedikit terkejut, tapi dia tidak menolaknya, Devan menyambutnya dengan hangat.


Liz menjauhkan wajahnya dari Devan. Liz menatapnya dengan hangat, senyuman manis terlukis di wajahnya. "Maafkan aku, aku ga bakal bahas soal kau menendang ku lagi. Jadi, berhentilah marah." Pandangannya tertunduk, wajahnya menunjukkan ekspresi menyedihkan. Devan tersenyum senang.


Liz menatap Devan, "Aku gugup, sebelum syuting aku ingin pergi berbelanja. Apa kau mau ikut? Tapi kau yang bayar, hehey. "


Wajah Devan mendadak tidak suka, pandangannya menajam menatap Liz. "Oh jadi karna itu kau mencium ku? Ingin mendapat uang lebih? Ternyata kau lebih rendah dari pada yang kau bayangkan." Devan langsung mengelap bibirnya, seolah merasa jijik. "Berapa pria yang kau cium demi mendapatkan uang? Atau bahkan kau sudah tidur dengan banyak lelaki? Demi uang? Berapa mereka membayar mu?" Aura Devan semakin suram. Suaranya seolah mengelurkan jarum yang segala perkataannya menusuk hati Liz.


Liz hanya tersenyum hangat.


Sabar Liz..., kau harus bertahan atas segala perlakuan dan penghinaan ini. Agar nantinya kau yang akan tertawa di akhir. Tidak heran Devan Arkasa bisa berbicara  seperti ini pada seorang perempuan, karna dia adalah anak didiknya Tara, yang sama sekali tidak bisa memahami perasaan perempuan, tidak mengerti caranya memperlakukan perempuan dengan baik. Hanya tau bagaimana caranya memanfaatkan perempuan demi kepuasan dirinya sendiri. Ya, mereka sama saja. Tak kan ku biarkan kau memperlakukan ku sama dengan bagaimana Tara memperlakukan Mama Deyna!


Aku Firlizy Defana lah yang akan memanfaatkan mu.


"Suami ku, kalau ngomong itu nyelekit juga ya, untungnya aku udah terbiasa. Tuan muda lupa, aku adalah seorang artis, tidak memiliki kekasih. Jika aku punya pacar para penggemar pria ku bisa pergi nanti. Dan ya, itu ciuman pertama ku loh, aku bersumpah. Tapi jahatnya~ aku di katai begitu. Dan ya, aku tidak pernah tidur dengan siapapun. Jika aku sudah tidur dengan banyak produser dan sutradara, aku mungkin tidak akan di sini sekarang." Wajah Liz tampak muram sesaat, auranya menyedihkan, pandangannya ke bawah.


Suasana hening untuk beberapa saat. Kemudian Liz menatap Devan dengan cengiran manisnya. "Kalau gitu aku mandi lebih dulu ya." Liz berjalan masuk ke kamar mandi. Devan hanya diam menatap punggung Liz yang semakin menjauh.


Liz menutup pintu kamar mandinya. Perkataan Devan yang begitu menyakitkan terus terulang di kepalanya. Liz mencoba menahan air matanya sekuat tenaga,


Tidak ada air mata yang boleh jatuh lagi, dari keturunan mama oleh keluarga Arkasa.Tidak ada air mata lagii...,


Liz mengambil sikat giginya, dia berulang kali mencuci mulutnya.


Menjijikan..., aku tau kemungkinan hal ini akan terjadi, dan aku sudah memikirkan konsekuensinya. Tapi saat aku lakukan, ini benar-benar menjijikan. Aku tidak ingin melakukannya lagi!! Harus selalu tersenyum di depan musuh ku! Aku sangat menbenci mu Devan Arkasa!! Ciuman pertama ku yang berharga, kau akan membayarnya dengan berlutut di depan ku!! Aku pastikan hari itu akan tiba nantinya!!


Anna, aku sudah mengorbankan hal yang berharga, jadi ku mohon jangan gagal. Hancurkan bisnisnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2