
...***...
Liz berbaring di kamarnya, dia menatap langit-langit kamar yang tampak begitu mewah. Kenangan-kenangan bersama Deyna kembali mencuat. Faktanya, Deyna masih sangat mencintai Tara. Liz juga tidak tau, bagaimana perasaannya terhadap ayah biologisnya saat ini.
Apalagi dengan fakta yang di bawa oleh Anna. Fakta orang itu mencari Liz dan ibunya, hanya saja ketidakberuntungan hinggap di hidup keduanya, sehingga mereka bertemu dengan Yuli, si gila yang malang.
Tanpa Liz sadari, air matanya terus mengalir. Syukurlah masih ada Devan yang setia menghapus segala dukanya. Devan dengan lembut mengelus rambutnya, Devan diam bukan karna tidak perduli, tapi karna dia tau, Liz butuh waktu.
"Sekarang apa? Coba seandainya dia gak mengabaikan mama, mama gak akan pergi kan? Dan kami gak akan ketemu Yuli...!" Liz meringis dalam dekapan suaminya.
"Apa kamu benci Ayah?"
Liz diam, dia hanya berbalik dan menenggelamkan wajahnya di leher Devan. Napas Liz tersengal begitu mengiris hati.
"Aku ga tau...,"
"Apa kamu benci mama...?"
"Aku pikir kalau Mama Thifa jauh, mungkin mama Deyna gak akan pergi...,"
"Gitu ya..., maafin mama yah." Devan mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut.
"Kalau mama masih hidup, mama pasti bakal tetep cinta sama orang itu."
"Ayah..., kayaknya dia sangat sayang sama Liz." Devan mulai sedikit membela seseorang yang dia panggil Ayah juga.
Mau tidak mau, Liz memang harus mengakui akhir-akhir ini Tara sangat perduli padanya. Begitu juga dengan Thifa. Bahkan saat mendengar kabar kehamilan Liz, Tara semakin sering berkunjung, dan makan bersama Liz.
"Sejujurnya, semakin lama aku menghabiskan waktu dengan orang itu, selama kepura-puraan ini. Aku rasa, tidak begitu buruk makan bersamanya."
Devan tersentak halus, dia memeluk Liz semakin erat. "Ini bahaya buat anak kita."
Liz mendongak menatap pria itu. "Bahaya kenapa? Jangan bilang, di saat sekarang, kamu mau...?"
"Wah, Liz udah mulai nakal ya. Bukan, bukan itu yang aku maksud. Sifat mu itu, bahaya kalau anak kita punya sifat sebaik dan semurah hati kamu. Jadi sifat dominan anak kita, harus nurun dari Papanya ini."
"Biar apa? Biar dingin dan arogan? Ga mau lah, nanti anak kita ga punya temen."
__ADS_1
"Punya lah, kan anak kita good looking nanti, dia goodloking, dia aman."
Sungguh, entah sejak kapan rasanya Devan menjadi lebih menyebalkan.
"Vasa...?"
Devan mengerti maksud dari istrinya ini.
"Iya, aku bakal cari dia sampai ketemu. Tenang aja."
...***...
Pagi hari itu Vin datang ke kediaman Arkasa, wajar, Vin memang setiap hari menjemput Devan. Tapi bedanya, kali ini Vin menunggu di ruang tamu, bukan di mobil seperti biasanya.
"Gimana? Soal informasi yang aku kasih, ada petunjuk soal Vasa?" Tanya Anna duduk di sebelah Vin. Wajah Vin yang tadinya kaku, kini mulai sedikit salah tingkah?
"Masih di selidki, tolong tunggu sebentar lagi." sahut Vin sekenanya.
"Oh gitu, okay terima kasih."
"Anna! Sini deh, kita butuh diskusi." Panggil Alreya. Sebenarnya Alreya sudah kenal dengan Anna dari dulu, karna Anna satu-satunya sekretaris andalan Devan. Tapi yang baru Alreya tau adalah, sifat Anna yang menyebalkan, mulutnya beneran kompor.
"Apa nona?" Tolong Anna sekarang juga, rasanya dia tidak ingin sopan pada wanita itu, tapi mau bagaimana lagi, saat ini Anna menumpang di rumahnya, kan?
"Aku butuh bakat provokasi mu, nanti sore aku ada pertemuan dengan orang yang bakal di jodohin dengan ku. Kau ikut aku, buat dia ga suka sama aku." Jelas Alreya blak-blakan. Anna memang sudah mendengar rumornya bahwa Alreya akan di jodohkan dengan pria pewaris Jay grub. Salah satu perusahaan ternama di benua Asia ini.
"Kaya, tampan, mapan, apa yang kurang?" Tanya Anna heran.
"Cinta."
Uhuk!! Anna langsung terbatuk seketika. Dia sudah mengenal Alreya cukup lama.
"Omong kosong macam apa itu Nona? Anda? Seorang Alreya Arkasa berbicara soal cinta? Air laut ga jadi manis kan?"
"Diamlah, pokoknya nanti sore kau ikut aku. Kalau kau beruntung, ambil saja dirinya untuk mu."
"Tidak boleh!" Bantah Vin dengan cepat.
__ADS_1
"Nah, saya sih suka-suka aja, asal dia tampan, rupawan dan mapan. Tapi sayangnya, dia bakal gila kalau saya nikah sama yang lain." Sungguh enteng sekali perkataan Anna saat ini, dengan santainya dia menunjuk ke arah Vin.
"Kau menyukai ku?" tanya Vin serius.
Anna menggeleng mantap. "Ga sih, cuma kau mendekati kriteria suami-able." Tolong berikan cabai ke mulut pedas gadis ini. Bagaimana bisa dia seenteng itu, berkata kalimat sedingin itu pada pria yang menyukainya.
"Sudah ku duga, intinya kau ikut aku." Alreya berjalan kembali. Suasana rumah sudah lebih baik dari kemarin malam, tapi masalah baru bagi Alreya datang. Kakek tuanya itu masih kekeuh untuk menjodohkannya.
Anna juga bangkit berdiri, Vin ingin menahannya, namun tidak bisa, Vin bukan orang yang romantis.
...***...
Saat ini hanya ada Anna dan Liz di dalam kamar Liz, setelah kepergian Devan. Kedua orang ini hanya bisa berdoa demi keselamatan Vasa.
"Ehm, Liz, jangan terlalu memikirkan Vasa. Aku yakin dia baik-baik saja." Ujar Anna membuka pembiraan. Kalimat ini sukses besar mengambil perhatian Liz yang sedari tadi melamun.
"Apa maksud mu? Bukannya kau bilang, penculiknya adalah orang yang sama? Dan kita bertiga dalam bahaya? Kenapa tiba-tiba kau mengatakan Vasa baik-baik saja?"
"Para penculiknya memang sama, tapi bos mereka berbeda. Dalangnya berbeda, karna pada saat bertemu dengan ku, mereka tidak menangkap ku. Dan mereka hanya bilang. 'Pulanglah, Vasa baik-baik saja, dan dia sudah bahagia.' itu yang membuat ku semakin bingung." Anna memijit kepalanya frustrasi. Dia sama sekali tidak memiliki informasi soal motif mereka menculik Vasa.
"Apalagi sekarang Yuli sudah mati, jadi buat apa mereka menculik Vasa? Aku bingung, ini sungguh tidak masuk akal." Anna menyandarkan kepalanya di bahu Liz.
"Apapun itu kita tetap harus menemukan Vasa. Aku hanya akan tenang jika aku sudah bertemu dengan Vasa, melihatnya dengan mata kepala ku sendiri. Tenang aja, Devan pasti bisa menemukan Vasa. Dia pasti bisa." Liz mengelus rambut Anna hangat.
"Aku harap juga begitu, kita bertiga adalah keluarga. Aku ga bisa kalau kehilangan salah satu dari kalian." Anna menghela napas. Dia mencoba mengingat-ingat petunjuk lainnya, tapi sayang dia sama sekali tak ingat lebih dari ini.
Tragedi penculikan Vasa terlalu tiba-tiba, bahkan hanya sedikit jejak.
"Tapi entah kenapa, aku yakin Vasa saat ini baik-baik saja."
"Aku harap juga begitu."
"Oh ya, kayaknya Vin suka sama ku deh."
Liz langsung membelalakkan matanya menatap sahabatnya ini. "Ngomong tuh yang bener, alien macam dia jatuh cinta? Aku lebih percaya kalau kau bilang tom and jerry sudah berdamai."
"Ga tau ya, pokoknya aku udah bilang."
__ADS_1