Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Dalang


__ADS_3

Akhirnya pemilihan itu di tutup dengan pilihan Devan. Seujujurnya Liz juga suka dengan model seperti itu.


"Tapi, aku ingin bagian depannya sedikit di rubah. Itu terlalu terbuka, pikirkan caranya agar bagian depan lebih tertutup, tanpa harus merubah keindahannya. Oh ya, ini harus siap dalam seminggu."


"Se-seminggu?!" Mata desainer itu membelalak kaget.


"Ya? Apa ada masalah?!"


"Ti-tidak tuan muda, Mana berani kami melawan tuan. Tidak akan ada masalah, gaunnya akan siap dalam seminggu."


"Aih padahal wajah mu sudah bilang. 'Matilah aku, bagaimana mungkin gaun seperti ini bisa selesai dalam seminggu.' Pfftttt hahah." Sambung Liz sedikit tertawa.


Devan melirik desainer itu. "Bagaimana pendapat mu?"


"Be-benar tuan muda, membuat gaun seperti ini dengan waktu seminggu  benar-benar tidak logis. Ta-tapi nona muda dan tuan tenang saja, kami akan mengerahkan seluruh desainer terbaik kami, agar bisa selesai dalam seminggu." Meski gugup, tapi pelayan itu mengucapkan dengan cukup percaya diri.


"Baiklah, kau boleh pergi."


"Permisi tuan muda, nona muda, anu-saya belum bisa pergi, karna belum mengukur nona."


"Baiklah, silahkan ukur aku, jangan buru-buru, Jangan takut juga, Devan orang yang baik, hanya sedikit kejam saja."


Pelayan itu mengukur Liz dengan sepenuh hatinya.


"Nona tenang saja! Ini akan menjadi gaun terbaik produksi kami!"


"Iya iya aku percaya, haha."


-


-


-


Akhirnya desainer itu selesai dengan segala urusannya, lalu dia pamit undur diri dengan sangat sopan, ah atau mungkin takut dan gugup.


"Sayang, pemilihan sepatu dan aksesoris nanti sore kan? Boleh aku main ke tempa--"


"Gak, tetap duduk di sana. Jangan berpikir untuk pergi."

__ADS_1


"Apa sekarang aku adalah burung dalam sangkar emas?"


"Terserah kau ingin menganggap begitu juga aku tidak peduli, intinya kau gak boleh hilang dari pandangan ku."


"Egois~"


"Benar." Sahut Devan tanpa beban.


Melihat mu yang sudah sangat mabuk dengan cinta ini, rasanya aku benar-benar ingin meninggalkan mu sekarang, ya sekarang juga...


Tanpa Liz sadari pandangannya menjadi sendu, tatapannya lesu. Entahlah, jantungnya juga berdegub lebih cepat dari biasanya.


Devan melirik Liz sekilas, meski Devan tau Liz saat ini sedang bersedih karna pengekangan yang dia lakukan, tapi saat ini Devan tidak bisa membiarkan Liz sendirian di luar.


Ini berbahaya, aku terlalu banyak memiliki musuh.


"Padahal aku cuma mau main ke tempat Anna, kenapa ga boleh sih? Aku juga butuh temen sesama perempuan tau!"


Devan tertegun halus. "Oh? Anna? Ya udah, pergilah. Saat istirahat makan siang, kembali ke sini, dan makannya bareng aku."


"Beneran boleh?!" Pekik Liz langsung memeluk leher Devan dengan erat. "Boleh kan? Gak ada larangan atau syarat kan?"


Karna Anna memang alasan ku untuk hidup! Yah, dan kau juga sih! Alasan aku untuk hidup, kau sebagai perantara dendam ini... Dendam ya...?


Hati Liz mendadak gelisah, dia tidak tau apa yang dia rasakan.


-


-


-


Liz sudah memasuki ruangan Anna, dan Anna seperti biasanya menutup rapat akurat pintunya.


"Aku udah putuskan dan cari celah, mungkin tiga atau empat hari lagi kita bisa pergi. Ngomong-ngomong, Devan sudah mengerjakan proyek itu sejauh mana?" Tanya Anna membuka pembicaraan.


"Entahlah, saat Devan kerja, dan aku mencoba untuk mendekatinya, ujung-ujungnya dia menutup laptopnya dan fokus pada ku. Intinya waktu aku dekat dia, dia ga pernah kerja. Jadi ga tau kemajuan proyeknya sampai dimana." Jawab Liz jujur.


"Jadi Devan meninggalkan pekerjaannya demi kau? Waw, sepertinya rencana mu sukses besar."

__ADS_1


"Hoho tentu, jangan khawatirkan aku. Khawatirkan saja dirimu sendiri, cepat selesaikan tugas mu dan kita akan pergi."


Keduanya tertawa, dilanjutkan dengan mengobrol ringan soal panti asuhan dan rencana rute kabur mereka.


...***...


Liz hari ini untuk pertama kalinya setelah pengumuman pernikahan itu, dia kembali ke lokasi shooting untuk meminta waktu libur nya. Tentu pihak produksi tidak bisa melarang dia kan? Dia loh, calon Nyonya Devan Arkasa, siapa sih yang berani nolak.


Namun saat perjalanan pulang, Liz di hadang oleh Ken, di sebuah tempat yang sepi, yang hanya ada mereka berdua di sana.


"Apa kau yakin benar-benar akan menikah dengan Devan? Kau tau kan bagaimana akhir kalian nanti? Liz, aku bisa membantu mu, katakan saja keluh kesah mu." Ken menatap nanar gadis di depannya itu.


Ralat, bukan nikah tapi emang udah nikah, yang gak lama lagi tuh resepsi pernikahannya tau!


"Iya, aku yakin kok. Senior Ken bakal datang kan? Orang-orang Devan udah kirimin undangannya kan? Jangan sampai gak datang loh, aku jadi sedih."


Ken mengingat kembali saat utusan Devan datang mengirim undangan itu, Ken langsung mengoyak rabak dan di bakar di tempat, abunya masih Ken pandangi seolah sedang menyusun rencana.


"Ya, aku udah terima undangannya kok. Ngomong-ngomong Liz, kalau kau gak suka pada Devan, aku bakal tanggung jawab. Di banding pria sekasar dia, hidup mu dan pernikahan mu akan menderita nantinya, lebih baik aku yang bertanggung jawab."


Liz menaikkan sebelah alisnya. "Bertanggung jawab soal apa?"


"Soal malam itu, malam yang kau habiskan dengan Devan. Jika seandainya kesalahan itu membuahkan anak, aku akan menerima anak itu, jadi kau gak perlu menyiksa diri dengan hidup bersama orang sejahat Devan, hidup lah bersama ku, a--"


Plakkk!!! Liz menampar Ken sekuat tenaga.


"Cukup! Cukup senior Ken, tutup mulut mu! Pada malam itu, aku melakukannya secara sadar, atas dasar suka sama suka. Soal pernikahan, aku udah nikah sama Devan di KUA, kami punya buku nikah nya. Pesta besar ini hanya resepsi! Karna kami sudah menikah! Kami memiliki hubungan sah, dan seandainya malam itu juga memberikan seorang anak! Anak itu adalah anak sah!Tidak ada kesalahan di malam itu! Apa kau mengerti? Kalau iya segera tutup mulut mu. Soal resepsi itu, kau mau datang atau tidak aku tidak peduli!" Liz menatap tajam Ken, dia langsung berjalan pergi.


Ken diam membatu, Liz melewatinya saja. Hati Ken ingin menghentikannya, tapi tangannya beku seolah tak bisa di gerakkan.


Tanpa mereka sadari ternyata sudah ada Gerry yang diam-diam menguping pembicaraan mereka. Gerry menghela napasnya.


"Aku pikir Liz di paksa oleh Devan, padahal aku sudah susah payah menyebarkan berita skandal itu, tetapi kenapa malah jadi begini akhirnya. Aku pikir Liz tidak menyukai Devan, ternyata aku salah ya? Pandangan itu? Pandangan Liz yang penuh amarah, ketika Devan di hina? " Gumam Gerry masih menatap sahabatnya yang berdiri mematung disana.


"Maaf Liz, ini semua tergantung Kenzaa. Kalau setelah mendengar itu, Kenzaa masih mengigingkan mu, maka tentu aku akan membantu Ken."


...***...


...Duh maafin ya ga up beberapa hari ini, authornya ke asyikan nonton heheh...  Masih setia kan mantengin kisah mereka? ...

__ADS_1


__ADS_2