
...***...
Hari ini adalah hari yang sangat Tara tunggu-tunggu, dimana dia akan berjalan-jalan bersama putri semata wayangnya.
"Hari ini adalah harinya, hari putri dan Ayahnya." Wajah Tara berseri-seri bahagia. Seolah pikiran negatif dan penderitaannya selama ini hanyalah mimpi buruk.
"Aku udah selesai." Liz turun dan menghampiri Tara. Sejujurnya mereka belum benar-benar berbicara soal keadaan masa lalu, dan Tara juga belum minta maaf dengan benar. Apalagi Liz, dia bahkan masih mengirit katanya seolah itu sangat berharga.
Dan acara jalan-jalan Ayah dan anak ini juga semua berkat Anna yang memaksa Liz untuk ikut. Jika di tanya pendapat Liz, tentu saja dia tidak mau, karna keluar rumah berpotensi melukai janinnya. Soal menjaga janin, dia dan Devan tidak ada bedanya.
"Nah, ayo kita pergi." Tara mengulurkan tangannya dengan berseri-seri. Dia masih ingat perasaan saat Liz menelponnya dan mengatakan iya atas ajakan jalan-jalannya. Bahkan banyaknya bunga di perkebunan bunga, kalah dengan bunga di hati Tara.
"Jangan lama-lama, aku ga suka."
Tara tersentak halus, untuk pertama kalinya setelah kejadian malam itu, Liz mau melakukan percakapan dengannya.
"Iya, baiklah, nah sekarang ayo jalan. Pelan-pelan aja." Tara menuntun tangan putrinya dengan lembut.
"Loh? Udah mau pergi?" Tanya Anna yang sedang berjalan dengan Alreya. Mereka beruda tampak begitu rapi. Tidak usah di tanya Liz pun sudah tau kemana perginya dua orang ini. Tentu untuk bertemu pria yang di jodohkan dengan Alreya.
"Iya, kalian juga mau ketemu orang itu?"
"Petaka hari ini ya itu." Sahut Alreya dengan wajah masamnya. Entahlah, apa mungkin pria itu begitu buruk dan bukan tipennya Alreya, sampai Alreya bereaksi separah itu.
"Kita pergi dulu ya, cepet pergi, cepet pulang, cepet selesai."
"Dasar kakek! Emangnya ini zamannya dia apa?! Main jodoh-jodohan, ini tuh udah masanya Alreya!!"
"Udah kak, coba cari cara lain biar nolak dengan baik."
"Makasih de, kamu hati-hati ya, keponakan kakak di jaga ya."
"Iya."
Akhirnya kedua regu itu berpisah setelah memasuki mobil masing-masing. Sejujurnya Liz juga cukup kasihan dengan Reya, tapi mau bagaimana lagi, Liz tidak bisa berkata apa-apa saat ini. Dia tidak punya hak suara untuk merengek pada Nathan, kan?
__ADS_1
"Ga apa-apa, Ayah kenal Paman Nathan, dia orangnya pemilih. Kalo itu pilihan paman Nathan, Ayah yakin itu yang terbaik buat Alreya."
Liz masih diam saja, dia hanya melirik sekilas Tara yang tengah menyupir, Tara mengenakan pakaian yang bagus. Liz kembali menatap jalanan ke depan.
"Kita mau kemana? Mall?"
"Ga mau jalan, cape."
"Oh, maafin Ayah, Ayah ga peka ya? Ah Liz suka tempat yang sepi?"
Liz hanya diam, tidak membantah atau mengiyakan.
"Gimana kalau kita ke Apartemen mama mu yang dulu? Ayah sudah membeli satu gedungnya, dan mengosongkan apartemen punya mama. Tapi Ayah tetap kirim orang buat bersihin itu setiap hari, Liz mau kesana?"
Meski Liz tidak mengatakan apapun, tatapan matanya tampak begitu penasaran.
"Kita kesana aja, kebetulan di dekat situ juga ada yang jualan es buah, enak. Buah kan juga bagus buat ibu hamil."
Masih tanpa jawaban, Tara cukup mengerti bahwa Liz juga ingin kesana.
...***...
Liz sudah membukanya, dia melihat banyak sekali foto Deyna waktu masih muda terpajang di sana. Ada beberapa foto Deyna dan Tara juga, baik yang memakai pakaian kasual, maupun seragam rumah sakit.
Liz bisa melihat, tatapan Deyna yang penuh cinta saat menatap Tara. Liz maju perlahan, ke depan foto besar yang tergantung di dinding, letaknya sangat strategis sehingga menjadi pusat perhatian.
Deyna di dalam foto itu tersenyum begitu ceria. Liz bahkan tidak ingat, apa Deyna pernah tersenyum seperti itu selama sisa hidupnya.
"Mama, cantik." Liz tersenyum hangat, tanpa dia sadari air matanya menetes begitu saja.
"Kenapa mama milih lahirin aku? Kenapa ga gugurin aku aja dan lanjutkan kehidupan mama?"
Liz sebenarnya sudah tau jawaban dari semua itu. Deyna tetap mempertahankan Liz apapun yang terjadi, karna Liz adalah buah cinta Deyna dan Tara.
Tiba-tiba Tara menjatuhkan es buah yang sedari tadi di pegangnya, dia memeluk Liz hangat dari belakang.
__ADS_1
"Jangan katakan itu lagi, Ayah mohon. Tidak ada penyesalan karna kelahiran mu, bahkan Deyna juga berpikir begitu. Ayah yakin, Aku dan Deyna sama, sama-sama menganggap mu paling berharga di Dunia ini. Jadi, jangan katakan itu lagi Nak, Ayah mohon jangan sesali kelahiran mu. Ayah sangat mencintai mu."
Liz melepas pelukan Tara, dia menatap tajam orang itu.
"Kalau memang menyayangi ku, kenapa mengabaikan ku?!"
"Maaf, maafkan Ayah, ini semua salah Ayah. Ayah mohon maafkan Ayah. Meski Ayah tidak layak mendapat maaf mu, maafkan Ayah." Tara memaksa untuk memeluk Liz.
Liz awalnya meronta, namun akhirnya dia menyerah, dia memangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Ayahnya.
"Kenapa Ayah jahat sekali!!"
"Maafkan Ayah, Ayah memang jahat."
"Bagaimana bisa Ayah mengabaikan mama, padahal wajah mama secantik itu! Mama sangat cantik, bahkan saat dia tersenyum dia bisa buat banyak orang jatuh cinta!" pukulan-pukulan kecil itu terus Liz layangkan pada dada orang yang sudah cukup tua itu.
"Iya, Ayah bodoh. Deyna juga bodoh, bagaimana bisa dia yang begitu cantik jatuh cinta pada Ayah yang seorang pecundang dan bodoh ini."
"Benar, Ayah payah dan Mama bodoh!"
"Pffttt, Liz aku sungguh mencintai mu putri ku, kejadian paling baik yang terjadi di dalam hidup ku adalah, memiliki mu sebagai putri ku. Tetaplah jadi putri ku, ku mohon. Jangan abaikan Ayah payah yang bodoh ini."
Liz sekali lagi menangis meraung-raung, dia mengeluarkan keresahan hatinya selama ini. Jauh di dalam lubuk hatinya, Liz memang menginginkan Ayahnya kembali, Ayahnya, kstarianya memeluknya dengan begitu hangat. Menghujaninya dengan cinta yang teramat banyak.
Setelah puas menangis, Liz mulai berdiri dengan tegak, dia menatap mata Tara kali ini.
"Es buahnya jatuh, Liz haus, A...yah, beli lagi."
Bola mata Tara nanar menatap putrinya, panggilan Ayah dari suara lembut yang begitu pelan mengacaukan hatinya. Tanpa Tara sadari, dia sudah menjatuhkan bulir hangat kebahagiaan itu.
Tara mengusap rambut Liz dengan lembut, tersenyum menatap perempuan itu. "Iya, Ayah bakal beli lagi, sekalian makanannya. Liz tunggu di sini, Ayah ini akan segera kembali."
Tara tampak bersemangat keluar lagi. Liz menatap punggung yang sudah tak lagi muda itu kian menjauh, dan debaran hati Liz tidak bisa di hentikan. Sesuatu memenuhi dadanya, dan itulah kebahagiaan.
"A...yah?"
__ADS_1