Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Liz...


__ADS_3

Tanpa ampun Devan menghajar orang itu, Viko! Tatapan menajam bak elang memangsa, wajah murka layaknya singa yang di ganggu. Kemarahan memuncak itu, akan di tanggung oleh Viko, karna berani mencoba menyentuh istrinya!!!


"De...van, Devan...," lirih Liz, sebenarnya dia tidak sadar apa yang terjadi, tapi mulutnya ingin terus menyebut nama itu.


Devan menoleh ke arah istri kecil kesayangannya itu. Penampilan yang sudah acak-acakan, rambut berantakan. Amarah Devan sudah mendidih.


"Cabut semua kukunya, juga seluruh giginya, potong lidahnya. Jangan sampai mati, dia harus mendekam di penjara seumur hidup." Titah Devan dengan suara pelannya, namun Vin bisa merasakan kebencian disana.


"Baik tuan muda." Vin menyeret tubuh pria gempal yang sudah babak belur itu. Entah bagaimana Vin akan membereskannya.


Pintu kamar sudah terkunci, Devan menatap Liz sendu. Tangannya perlahan mencoba memegang wajah gadis itu. Keadaan Liz yang penuh keringat....


Harusnya aku memang gak meninggalkan mu sendirian. Karna kesalahan ku, kau jadi begini.


Cuih!!


Devan tersentak kaget, dia menatap air liur Liz di bajunya.


Tiba-tiba Liz sudah meludahi pria itu. "Menjauh kau brengsek..., jangan... Sen...tuh aku. Aku hanya milik Devan. Dev...an."


Mata Devan membulat tak percaya, tangannya sekali lagi bergerak untuk membelai rambut gadis itu. Namun lagi-lagi Liz mengelak. "Menjauhlahhh..."


Devan tau, saat ini Liz sedang tidak sadar. Keadaannya sangat parah, bahkan sulit baginya untuk mengenali Devan.


"Liz...," Panggil Devan dengan suara lembut yang hangat.


Liz perlahan mendongak, dia diam sebentar, memperhatikan orang yang baru saja memanggilnya, telinganya seolah sudah sangat familiar dengan suara itu.


"Devan...?"


"Ya, ini aku."


"Enggak, kau pasti bohong."


Devan mengambil air, dia perlahan menyipratkan air itu. "Devan..." Pandangan Liz sudah lebih baik. Meski dia masih sulit mengendalikan dirinya sendiri. "Panas..."


Devan diam sebentar, entah apa yang dia pikirkan, tidak lama kemudian dia melepas ikatan Liz. Dan liz dengan cepat langsung memeluk Devan, mendaratkan satu ciuman disana. Devan yang di mabuk cinta, mana bisa menolak.

__ADS_1


"Liz, kau tau sedang berhubungan dengan siapa?" tanya Devan memastikan.


"CEO Devan Arkasa, suami ku yang keren..." Liz melanjutkan dengan memberikan kecupan di pipi Devan. Ya, itu jelas karena Liz saat ini sedang tidak dalam kesadarannya. Tubuhnya panas ingin meminta lebih, dan kesadarannya perlahan menghilang.


"Kau benar, kau hanya milik Devan, dan hanya Devan yang boleh menyentuh mu, gak akan ada orang lain. Hanya ada Devan Arkasa, untuk Firlizy Defana." Devan mulai melakukan hal-hal yang harusnya dia lakukan sejak dulu sebagai seorang suami. Dia membuka baju yang tadi Liz nodai.


"Apa ini bisa di sebut malam pertama yang tertunda? Heh..., sudah ku bilang kan, jangan mabuk, kalau kau mabuk aku akan menghukum mu dengan baik."


Liz langsung memeluk Devan dengan erat. "Aku... Membenci mu, tapi rasanya aku juga menyukai mu. Sangat, sangat suka." Entah apa yang Liz ucapkan, sebuah kebenaran di dalam hatinya yang paling dalam, atau sebuah kebohongan dan ucapan asal seseorang yang mabuk.


"Aku lebih mencintai mu." Devan mengecup pucuk kepala gadis itu lembut, tangannya tak melepas pelukan itu.


"Aku takut...."


"Ada aku di sini, dan selamanya akan di sisi mu."


Malam itu menjadi saksi bagaimana dua orang yang menikah karna tujuan masing-masing, telah menjadi suami istri dalam hal yang sebenarnya. Mereka benar-benar sudah menjadi suami istri yang sempurna.


Malam itu juga, nama Devan terus Liz sebut dari bibir mungilnya, begitu juga Devan. Mereka hanya mendengar nama mereka yang di panggil oleh orang yang ada di depannya.


Entah bagaimana reaksi Liz bangun keesokan paginya.


Pagi itu, matahari sedang sangat bersemangat memancarkan sinarnya, seolah antusias ingin melihat reaksi gadis yang menyimpan dendam itu bereaksi.


Liz perlahan membuka matanya, dan tentu jelas, yang dilihatnya setiap pagi selalu sama. Wajah ganteng Devan Arkasa.


Liz diam sebentar, tangannya terbiasa untuk memegang pipi Devan, yang biasanya di iringi umpatan dalam hati. Awalnya biasa aja, sampai Liz menyadari satu hal.


Loh? Ini bukan kamar aku? Ha? Aku dimana?


Liz menatap Devan. Ini beneran Devan kok, apa kemarin kami pindah rumah.


Mendadak Devan mengeratkan pelukannya, pada saat itu pula Liz akhirnya sadar, bahwa tangan Devan langsung menyentuh punggungnya. Liz melihat tubuhnya.


Jantungnya seolah ingin keluar dari tempatnya, dia ingin berteriak sekuat-kuatnya saat itu juga. Saat dia sadar, dia berbalut selimut yang sama dengan Devan, tanpa keduanya mengenakan pakaian sehelai benang pun.


Liz diam, dia tidak tau harus bereaksi seperti apa, dia benar-benar shock sampai hampir lupa bernapas.

__ADS_1


Kepala gadis itu tiba-tiba sakit, samar-samar Liz mengingatnya, dia memang melakukan hubungan seperti itu dengan Devan kemarin malam.


Apa yang terjadi semalam? Kenapa Devan bisa ada di sini?


Liz sudah ingat, sebagian besar kejadiannya.


Sutradara sialan dan produser brengsek itu! Ini semua karena mereka. Karna mereka aku harus sampai menghabiskan malam dengan Devan!!


Liz mengambil bajunya, dia segera memakai dan berjalan ke kamar mandi. Liz berdiri di bawah shower yang sudah mengalirkan air derasnya. Liz tau, air dingin dari atas sudah bercampur dengan air hangat yang keluar dari matanya.


Kenapa...? Kenapa malah jadi begini? Ini hal yang paling gak aku inginkan?


Gak boleh!! Ini salah! Ini menjijikan!!


Liz menggosok kuat seluruh badannya, seolah telah di kotori hal yang sangat menjijikan.


Bagaimana ini? Bagaimana jika Anna dan Vasa tau? Dan bagaimana jika aku hamil? Apa Devan akan membuang ku? Gak! Aku gak boleh hamil!! Enggak!! Anna dan Vasa juga gak tau! Anggap hari ini cuma kesalahan, gak ada kejadian apa-apa!!


Enggak! Hal ini gak boleh memperngaruhi rencana balas dendam ku. Liz, anggap ini gak pernah terjadi, jadi tenang lah. Tenang....


Arghhhh!!!! Sialan!!!


Liz langsung mengingat nasibnya dan ibunya, karena Deyna hamil saat itu? Hubungan yang dilakukan secara tidak sengaja, kan?


Plakkk!!!


Liz menampar pipinya sendiri. "Anggap aja ini sebuah kesalahan! Tetap fokus pada target utama, balas dendam pada mereka semua."


Liz menghela napasnya, dia keluar dari kamar mandi, dia terus memutar kata fokus di otaknya. Tampak Devan yang sudah bangun, duduk menyandar tanpa mengenakan baju. Membuat otot-otot perutnya terlihat sangat keren.


"Kemarilah..." Panggil Devan.


Astaga!!! Apa lagi! Aku lagi ingin menjauh dari mu, gak bisa kah? Aku hampir mati karna shock!


Namun Liz tidak bisa menolaj, bahkan menampilkan ekspresi tak suka pun dia tak bisa. Liz berjalan sesuai arahan Devan.


"Kau belum mengucapkan selamat pagi."

__ADS_1


"Selamat pagi suami ku~" Kata Liz dengan memberikan kecupan di pucuk kepala Devan.


Aku harap dia gak ungkit kejadian kemarin malam.


__ADS_2