
"Aku dan Devan akan menikah, kalian salah paham, sejak awal hubungan ku dan senior Ken, hanya sebatas rekan kerja, benar kan senior Ken?"
"Iya, sejak awal kami memang hanya rekan kerja."
Saat ini Ken sedang berada di mobil bersama Gerry, di dalam otaknya hanya ada kalimat itu yang terus berputar. Terbayang selalu wajah Liz yang terlihat sangat nyaman saat di dekat Devan. Senyuman yang dia tampilkan, saat Devan dengan berani mengusap lembut rambut Liz.
Ucapan dan kata-kata mereka soal menikah, seolah tersesat di otak Ken yang tidak bisa keluar. Dia panas, hatinya panas! Ken tidak terima! Dia--
"Harusnya aku yang ada di posisi itu! Menikah katanya? Harusnya aku yang menikah dan berdiiri di sebelah Liz! Harusnya hanya ada nama ku yang bersanding dengan Liz! Tapi bagaimana mungkin malah orang itu! Orang yang kejama dan tidak memiliki hati! Entah bagaimana kehidupan Liz yang lembut, jika hidup bersama dengan orang itu!"
Ken membenci, dia membenci dirinya sendiri yang hanya bisa mengiyakan hubungan pertemanan nya dan Liz. "Harusnya tadi aku bilang bahwa aku kekasihnya Liz kan! Bagaimana mungkin Liz malah memilih orang sekasar itu?!"
"Sial! Sialan! Devan berengsek! Pria kurang ajar!! Beraninya dia merebut Liz ku! Menyentuh nya begitu di depan mata ku! Akan ku patahkan tangannya, tangan kotor yang menyentuh Liz ku! Liz!!! Liz!! Aku harus bertemu dengan Liz sekarang!"
Bukhhh
"Arghhh!!!" Devan memukul pintu mobil itu, dia mengacak rambutnya frustrasi. Di keadaan yang hening itu, antara dia dan Gerry, Ken bisa merasakan, dadanya sangat sesak, hatinya terluka, itu sakit, sangat sakit... Sakit sekali. Jantungnya seolah di remas, kemudian di tebas dengan pedang yang menembus tubuhnya.
"Udah tenang? Bisa diam? Aku punya pemikiran logis soal kasus Liz, kalau dugaan ku bener, korbannya adalah Liz. Dan kita harus selamatkan dia dari neraka berjalan yang bernama Devan itu." Ujar Gerry di tengah-tengah keheningan itu.
Ken langsung terperanjak, dia menatap Gerry sinis. "Apa maksud mu Liz ku sebagai korbannya?"
__ADS_1
"Setelah aku cari tau, pada malam itu sutradara kita yang lama menjebak Liz, untuk tidur dengan seseorang, dia mencekoki Liz dengan obat yang aneh. Aku curiga, pada malam setelah kita kembali itu. Devan lah yang bekerja sama dengan sutradara itu, dan menjebak Liz. Liz yang sudah termakan jebakan mereka, terpaksa harus menikahi Devan kan?" Jelas Gerry melalui segala pertimbangan yang hadir di otaknya. Itu masuk akal bukan?
"Ya, itu logis, itu masuk akal. Dasar pria brengsek!! Beraninya dia malah menjebak Liz! Dia menfaatkan ketidak sadaran, dan Liz yang malang dan tidak berdaya itu jadi korbannya. Ini pasti ulah Devan! Dia yang merancang semua ini, demi merampas Liz dari ku! Aku... Aku harus menyelamatkan Liz, dia-dia gak akan bahagia jika terus bersama dengan Devan. Apalagi harus terkurung dalam ikatan pernikahan itu. Pergi ke rumah Devan, kita akan ambil Liz kembali."
"Tapi Ken, jika dugaan ku benar. Maka Liz sudah kehilangan kesucian nya, apa kau siap menerima Liz yang seperti itu? Apa kau bisa ter--"
Brakkk!!! Ken melemparkan sesuatu pada Gerry. "Diam lah, pemikiran dan ucapan mu menodai cinta ku yang suci. Aku tidak peduli, mau bagaimanapun Liz, seperti apapun dia, aku akan menerimanya, menerima segala kekurangannya. Bahkan jika tragedi itu membuahkan seorang anak, aku tidak akan membunuh anak itu, aku bahkan akan merawatnya dengan baik, tidak, dunia akan tau kalau dia anak ku, karna kasih sayang yang tanpa batas yang akan ku berikan pada nya."
Gerry menghela napasnya. "Udah gak tertolong lagi nih anak." Gerry tersenyum miring.
Aku bangga pada mu, Kenzaa, benar, memang beginilah harusnya sahabat ku Kenzaa, besar cintanya mengalahkan apapun, Nona Firlizy, kau sangat beruntung, karna sahabat ku sudah hampir gila karna mu. Dan aku bisa menjamin kebahagiaan mu jika kau bersama dengan Ken. Jadi, lupakan masa lalu mu, dan terimalah Kenzaa sahabat ku.
"Lagipula, ini semua salah ku. Andai aku malam itu tidak mabuk, maka Liz tidak perlu mengalami kejadian mengerikan itu." Ken mengepalkan tangannya erat.
Kenza menghela napasnya. "Bersabarlah sebentar lagi Liz, aku pasti akan menyelamatkan mu."
...***...
"Jadi kita mau ke kantor atau ke rumah?" Tanya Liz yang ada di dalam mobil Devan. "Eh engga, anterin Nana pulang dulu lah." Lanjut wanita mungil itu, saat dia ingat, masih ada Nana si asisten kecil dalam mobilnya.
"Mau makan dulu?" Tanya Devan memainkan rambut Liz.
__ADS_1
"Engga deh, ntar jadi trending topik. Males, mending makan di rumah." Ketusnya manja.
"Nona, bahkan jika anda tidak melakukan itu pun, nona dan tuan muda tetap bakal jadi trending topik. Nona tau, pasti sekarang banyak yang iri pada nona." Celetuk Nana, menunjukkan layar ponselnya pada Liz.
"Ck, itu karna mereka gak tau gimana sulitnya menaklukan suami ku yang satu ini."
"Oh ya, ngomong-ngomong aku belum mendengar penjelasan mu soal foto itu, foto kau dan artis jelek di balkon." Devan menatap dia penuh selidik.
"Aku berani bersumpah kalau aku gak ada hubungan spesial sama dia." Liz menatap serius Devan, wajahnya terlihat sangat jujur, matanya murni tanpa kebohongan.
Tukhh
Devan memukul jidat istrinya itu pelan. "Aku tau, kau gak akan mungkin melakukan itu. Lagipula, aku tidak kekurangan apapun yang membuat mu harus berpaling padanya kan?"
"Pede sekali~"
"Yang aku maksud adalah, bagaimana itu bisa di foto?"
"Nah itu yang gak aku mengerti suami ku, siapa yang memfoto kami. Padahal itu aku lagi liatin bintang indah loh di atas balkon."
"Gak perlu di jelasin Nona, sebenarnya tuan muda tau apa yang terjadi di balkon karna beliau melihat sendiri menggunakan teropong khusus milik tuan muda. Jadi dia tau jelas apa yang terjadi di atas sana, saat dia mengawasi anda." Celetuk Vin enteng, tapi memang begitulah faktanya, saat iti Devan mengamati gerak-gerik Liz dari mobil menggunakan teropong.
__ADS_1
"Apa saat ini aku kurang menakutkan Vin? Sampai kau sudah seberani ini?"
"Menakutkan? Gimana mungkin suami ku yang manis ini bisa menakutkan? Sejak awal juga aku gak takut." Liz dengan berani menarik pipi Devan kuat. Oh Astaga! Liz benar-benar berani, dia adalah wanita kedua yang berani mencubit Devan setelah Alreya (Kakak kandung Devan)