
...***...
Tara menyajikan kopinya di meja, tepat dihadapan gadis yang baru saja memberinya berita duka yang tak tertahankan. Ya, setelah mendengar kematian Deyna, Tara mengajak Vasa masuk dan berganti baju. Agar menceritakan lebih banyak soal Deyna.
Semuanya terasa hampa sekarang, mata yang mulanya penuh secercah harapan itu, kini menjadi gelap gulita.
Vasa menceritakan kisah-kisah awal mula pertemuannya dan Deyna, juga anak mereka. Hingga akhirnya Deyna menjadi pengurus panti.
Tara tak kuasa menahan tangisnya, dia menatap lurus ke depan. Hanya cerita-cerita kenangan soal Deyna yang menjadi penghiburannya saat ini. Mulai saat ini, Tara hanya bisa hidup dalam kenangannya, begitulah pikirnya.
"Sampai maut menjemputnya pun, beliau masih mencintai anda." Kata Vasa dengan senyuman di wajahnya. Kalimat itu mengakhiri kisah Deyna menurut Vasa.
"Deyna memang bodoh, bisa-bisanya mencintai iblis sampai dia mati. Kenapa dia gak mencintai orang lain saja." Meski Tara berkata begitu, tapi dia suka menerima fakta bahwa Deyna masih menyukainya, masih menunggunya.
"Padahal aku juga Mencarinya selama ini, kenapa kami tidak pernah bertemu?" Tara menarik nafasnya dalam-dalam. Dadanya begitu sesak seolah terpenuhi oleh sesuatu, mungkin rasa bersalah?
"Jangan khawatir, beliau pasti bahagia mendengar anda mencintai beliau. Dan dia juga akan tenang kalau anda menjaga putri kalian dengan baik dan setulus hati."
Tara tersentak kaget. Dia begitu terkejut atas berita kematian wanita yang amat dia cintai itu, hingga dia lupa wanita itu telah mengandung dan melahirkan anak mereka.
"Putri kami?! Iya benar! Dimana putri kami?"
Vasa sudah tau kalau Tara menyayangi Liz, tapi Vasa tidak tau bahwa Tara akan bereaksi seperti ini. Wajahnya...
Ah, pasti seru punya Ayah yang begitu menyayangi kita. Ekspresi yang tidak pernah ku lihat pada wajah Ayah manapun, aku melihatnya, di sini, sekarang. Ekspresi yang begitu menyayat hati ini.
Vasa menitikkan air matanya, harus dia akui dia cukup iri pada Liz yang memiliki sosok Ayah seperti ini.
__ADS_1
Padahal Ayahnya begitu menyayanginya, dan Liz malah membencinya dan ingin balas dendam.
Jantung Tara berdegub lebih kencang dari biasanya, dadanya lebih sesak dari yang tadi, seolah bertambah dua kali lipat. Kekhawatiran memenuhi kepalanya, saat melihat gadis di depannya menangis saat menceritakan putrinya.
"Kenapa kau menangis, Nak? Apa putri ku baik-baik saja? Dia masih hidup kan? Dia kenapa? Dia masih ada di dunia ini kan?"
Mata Vasa bergetar sebentar, dia menarik senyuman hangatnya. "Ya, dia masih hidup Paman,"
Mata Tara berbinar seketika. "Benarkah? Sekarang dimana dia?" Tara sudah mengambil jasnya yang tergeletak di sebrang sofa.
"Wah, Paman mau ketemu dia lagi? Padahal paman baru ketemu dia loh? Ya kalo paman mau ketemu dia lagi, paman balik aja ke kediaman Arkasa, Liz baru masuk ke sana hari ini."
Tara terdiam seketika, badannya kaku bagai membatu. "Liz itu putri ku?"
Vasa mengangguk mantap. "Iya!"
Kenangan-kenangan sejak saat dia pertama kali bertemu dengan Liz kian muncul di kepalanya, suara Liz tumpang tindih dengan suara Deyna. Tara melihat tangannya, dia ingat, dia barus saja menggenggam tangan putrinya itu, membawanya ke pelaminannya, duduk menjadi walinya.
Tara terduduk seketika, dia menangis di balik tangan yang menutupi wajahnya.
Padahal selama ini aku begitu dekat dengan putri ku? Tapi aku malah tidak menyadarinya? Bodohnya aku! Ayah macam apa aku ini?
"Ah ya, tapi saran saya anda tidak perlu ke sana saat ini, berlari dan memeluknya terus teriak 'putri ku' percayalah pada saya, bahwa dia membencinya." Sambung Vasa lagi dengan senyuman yang tak pudar.
"Apa maksud mu? Kenapa dia tidak senang di peluk oleh Ayahnya? Setelah sekian puluh tahun dia bertemu dengan Ayah kandungnya, aku yakin dia juga merasakan hal yang sama dengan ku." Kata Tara dengan segala pemikiran positif di kepalanya. Sayang sekali dia tidak tau, otak putrinya sudah teracuni oleh Yuli.
"Apa menurut Paman dia akan menerima pelukan anda, Ayah yang sudah mengabaikannya selama berpuluh-puluh tahun?"
__ADS_1
Tara terdiam seketika. "Tapi aku tidak pernah mengabaikannya dan Deyna. Aku malah ingin sekali bertemu mereka dan hidup dengan mereka sebagai keluarga kecil bahagia."
"Tapi sayang sekali itu hanya pemikiran paman, karna dalam kepala Liz, Paman adalah orang yang meninggalkan Bibi Deyna, dan Liz demi cinta pertama Paman, yaitu Nyonya Lathifa. Ah bukan hanya itu, mengingat Paman yang begitu menyayangi Devan, Liz berfikir bahwa anda tidak membutuhkannya lagi."
Tara diam, hatinya semakin berdenyut perih. Namun apa yang gadis muda ini katakan adalah benar.
"Apa Liz tau bahwa saya adalah Ayah kandungnya?" Tara menatap Vasa, Vasa hanya tersenyum. Tara tau maksud dari itu semua.
"Sejak awal Liz sudah tau semuanya, dan dia menikahi Devan juga demi balas dendam terhadap Paman dan Nyonya Thifa karna menurutnya kalian adalah sumber penderitaan ibunya, bahkan saat ibunya mati." Lanjut Vasa meminum kopinya.
Maafkan aku Liz, percayalah aku melakukan semua ini demi kebahagiaan mu. Kau gak akan pernah bahagia jika terus mengikuti arus dendam mu, jadi berhentilah Liz, dan akui kau menyukai kehidupan mu yang sekarang. Gak apa-apa karna ini kau jadi membenci ku aku hanya berharap kau bahagia.
Vasa mengusap setitik air mata yang jatuh dari ekor matanya, dia sudah siap akan konsekuensi terbesar dari tindakannya, yaitu dibenci Liz dan Anna.
Hati Tara semakin berdenyut tidak karuan, dia tau dimana putrinya saat ini berada, yang paling menyakitkan adalah dia tidak bisa memeluk putrinya saat ini.
"Tidak apa-apa dia ingin balas dendam pada ku, jika dia ingin aku mati aku akan memberikan nyawa ku dengan senang hati."
Vasa menggeleng. "Yang dia inginkan adalah penderitaan Paman, Nyonya Thifa, dan Devan."
"Kalau gitu, tujuannya sudah sukses besar. Dia sudah berhasil membuat ku menderita." Tara merebahkan tubuhnya ke belakang.
"Apa paman tau kenapa saya bilang ini?" suara Vasa mulai sedikit serius, itu menarik perhatian Tara.
"Apa?"
"Liz itu mencintai Devan, tapi entah dia sadar atau enggak. Meskipun begitu, ambisi dendamnya itu terlalu berlebihan. Saya ingin minta tolong sebagai sahabat nya Liz, tolong buat dia berhenti merasakan perasaan menyesakkan semacam dendam seperti itu. Hatinya sudah cukup sempit, biarkan yang memenuhinya adalah cinta dan kasih sayang. Tolong buat dia hidup dengan ringan." Vasa menunduk, kali ini air matanya menetes begitu saja. Suasana hening seketika.
__ADS_1
"Dia hanyalah anak yang menginginkan kebahagiaan, berkumpul bersama orang-orang yang disayanginya." Lanjut Vasa, dia tidak bisa menunjukkan wajahnya yang penuh air mata itu pada siapapun. Begitu juga Tara, dia diam seribu bahasa, tidak mengiyakan ataupun menolak.
...***...