
...***...
Maya baru saja melihatĀ Liz yang masuk, harus Maya akui, Liz sangat cantik, bahkan pakaiannnya terlihat lebih indah karna Liz yang memakainya.
Bagaimana mungkin, dia bisa secantik iti. Sial, sial, sialan!!
Tatapan Maya semakin sinis saat Ken malah menyambut Liz yang baru datang, padahal sedari tadi Maya ingin mengajak Ken mengobrol, tapi Ken selalu memghindarinya dengan berbagai alasan.
Maya memang gak mendengar apa-apa, tapi dari gerak-geriknya, Maya tau Ken baru saja di tolak saat mengajak menari, sehingga keduanya hanya duduk di sana.
Darah sudah mendidih di otak Maya, dia murka, sangat marah pada Liz. Maya ingat, Ken bolak balik marah padanya saat shooting. Bahkan sutradara, yang merupakan pamannya sendiri selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Liz.
Padahal Liz itu sama sekali gak berbakat, dia hanya sedikit lebih cantik dari ku, tapi bisa-bisanya dia mendapatkan semua yang dia mau. Padahal kami sedikit berbeda, tapi kenapa semua orang selalu membanding-bandingkan kami. Aku lelah mendengar semua ini, nah Liz. Malam ini aku akan menghancurkan segalanya. Aku akan merebut segala yang kau miliki.
Ah bukan merebut, aku hanya mengambil sesuatu yang memang menjadi milikku, peran itu, dan kak Ken, nama baik, ketenaran, semuanya adalah milik ku.
Nikmatilah hidup mu yang bahagia ini, karna mulai besok kau akan kehilangan segalanya. Tidak ada lagi Firlizy, hanya ada Maya.
Maya melirik Nana yang polos, yang tengah menikmati kuenya. Seperti yang sudah Maya rencanakan, dia hanya butuh kesempatan untuk menuang obat itu. Obat yang akan membuat Liz hilang kendali, saat itu Liz pasti akan kehilangan harga dirinya.
Maya memasukkan bubuk obat itu.
Dengan begini, ucapkan bye bye pada ketenaran dan kak Ken, mereka akan menjadi milikku.
Maya diam-diam menjauh dari Nana, dia sudah tersenyum merasa menang. Pandangannya tak teralih dari kua yang katanya untuk Liz itu.
Nah ayo beri pada Liz!
Begitulah batin Maya saat melihat Nana memberikan jusnya pada Liz. Liz bahkan sudah bersiap untuk meminumnya. Tapi entah apa yang terjadi, mendadak malah Ken yang meminum jus mengandung obat-obatan.
__ADS_1
Gawat... Sial, kok jadi malah Kak Ken sih yang minum? Gak boleh! Ini gak boleh di biarin!
10 menit sudah berlalu, Maya menunggu dengan cemas tentang bagaimana obat itu bekerja, dan setelah beberapa waktu akhirnya obat itu menunjukkan efeknya. Tampak wajah Ken sedikit aneh, mendadak dia memegang tangan Liz dan hendak menciumnya, Liz dengan cepat menepisnya.
Maya bisa melihat Liz mengomel-ngomel di sana, entah apa yang dia katakan. Tapi dari wajahnya, Liz tampak tak suka.
Gawatt... Ini ga boleh di biarin nih, Kak Ken gak boleh berkeliaran sembarangan, bisa-bisa dia malah tidur dengan berbagai macam wanita, khususnya Liz ga boleh! Aku harus jauhin Kak Ken dari semua orang, termasuk Liz!!
Maya berjalan mendekat, tepat keberuntungan berada di pihaknya, Liz pergi dari dekat Kenza. Soalnya tadi Kenza memaksa ingin terus menggenggam tangan gadis itu.
"Kak Ken, udah ayo pulang, capek kan? Kakak dah ngantuk kan? Haus juga?" Maya menarik tangan Ken. Namun Kenza malah menepisnya dengan kasar.
"Apaan sih, berisik tau ga! Aku maunya cuma sama Liz! Bukan kamu, aku cuma mau berada di dekat Liz! Ngomong sama Liz! Semuanya tentang Liz!" Ujar Kenza dengan suara dan tampilan yang mabuk berat.
Maya mengepalkan tangannya erat. Dia geram sekali rasanya saat semua orang hanya menyebutkan soal Liz, Liz dan Liz!
Liz aja semua! Liz! Padahal cuma perempuan gatal yang gak tau diri! Padahal dia itu simpenan om-om, tapi masih aja coba godain kak Ken!! Dasar manusia ular!! Omnivora wo! Semua mau di sikat!
Badan Maya bergetar menahan amarah.
Apa?! Apa yang udah kau lakukan Liz?! Sampai Kak Ken bisa-bisanya kehilangan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa mencintai mu sebesar itu?! Apa yang telah kau lakukan? Pengaruh apa yang kau berikan?! Dasar perempuan breengsek!
...***...
Liz berada di balkon, dia akhirnya bisa menghirup udara segar, menenangkan pikirannya, lalu berdamai dengan telinganya setelah Liz menyiksanya dengan suara musik yang keras itu.
Mendadak Liz ingat perkataan Ken barusan.
"Aku mencintai mu, tetaplah bersama ku, dan beradalah di sisi ku, selamanya. Aku akan melindungi mu apapun yang terjadi. Segala yang kau inginkan akan ku berikan. Aku mencintai mu Liz." Liz ingat, Kenzaa mengatakan itu sembari mencoba menggenggam tangannya.
__ADS_1
Liz menghela napasnya sebentar, dia mendongak menatap ke langit yang penuh bintang malam itu.
Kenapa aku malah memikirkan perkataan orang mabuk? Dia gak sadarkan diri, makanya dia ngomong nya kayak gitu, ngelantur. Harusnya aku ga usah mikirin sih.
Tapi, aku ga pernah mikirin soal cinta ya? cinta...? Apa itu?
Mendadak wajah Devan yang tersenyum sembari mencium rambut Liz terbayang di kepalanya, beriringan dengan jantung Liz yang tiba-tiba berdetak lebih cepat dari normalnya.
Apa-apaan ini? Ya aku tau, ini artinya aku tidak boleh fokus soal cinta, aku hanya harus memikirkan dendam ku.
Tiba-tiba ada yang menarik tangan Liz, dan memeluk Liz secara mendadak.
Cekrek!!
Liz mendengar ada yang memotret mereka, tapi Liz ga tau ada dimana sumbernya. Liz mendorong Ken bahkan hingga jatuh, dia lalu mencoba mencari asal suara tadi. Liz memutarkan pandangan nya, tapi lagi-lagi tidak menemukan apapun.
Liz ingin kembali ke pesta, namun tangannya di tahan oleh Kenzaa. "Jangan pergi, jangan tinggalin aku, tetap di sini. Aku butuh kau Liz, tetaplah di samping ku, karna aku mencintai mu."
"Senior Ken!! Anda mabuk, lebih baik pulang sekarang."
Kenzaa hanya tersenyum dengan wajah yang jelas sudah kelihatan hilang kendali. "Aku mencintai mu!"
"Liz bodoh, gak ada gunanya jelasin ini ke orang mabuk, toh ngomong nya aja udah ngelantur. Gimana ya caranya biar orang ini jauh dari aku?! Oh ya, Gerry!! Tapi aku gak punya nomornya, ah pasti Ken punya, Ken kan sahabatnya." Liz mencoba mencari handphone Ken di sakunya. Namun Ken malah mengambil kesempatan ini untuk mencium Liz. Tapi Liz dengan cepat menghentikan bibir Ken dengan tangannya.
Plak!!!
"Bodoamat mau kau mabuk atau gak! Menjauh dari ku!!!" Teriak Liz!
Mendadak Ken terdiam, dia menatap Liz tak percaya.
__ADS_1
"Kenzaa!!!" Entah dari mana, namun Gerry tiba-tiba sudah datang.