Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Puncaknya!


__ADS_3

***


"Ayah!!" Teriak Devan masuk menerobos rumah, dia langsung menarik kerah baju Tara kasar. "Apa semua ini?! Kenapa selama ini Ayah ga pernah kasih tau, kalau Ayah itu adalah Ayah biologisnya Liz?!"


Semua orang di sana terkejut, tentu saja terutama adalah Liz. Dia sangat bingung bagaimana Devan bisa mengetahui fakta yang dia sembunyikan rapat-rapat ini.


"Devan, dengarkan penjelasan  Ayah du--"


Bughh!! Satu bogeman Devan layangkan untuk Tara, membuat Arfen harus turun tangan memisahkannya. Sungguh kurang ajar sekali bocah songong ini, tapi mau bagaimana lagi, kemampuan provokator Anna itu memang mengerikan.


"Teganya Ayah mencampakkan ibunya Liz, demi Mama! Padahal Ayah tau Mama istrinya Papa!"


Plakk!!


"Devan!!!" Thifa langsung turun menampar anak bungsunya ini. "Kurang ajar! Beraninya kamu ngomong hal kayak gitu!"


"Mohon maaf, tapi itu semua bener kan? Pria itu mengabaikan bibi Deyna demi anda, itu benar kan?" Anna sang lidah setajam silet, kembali membuka mulutnya, itu artinya suasana sebentar lagi akan memanas.


"Anna?! Apa yang kamu katakan?! Anna! Pikirkan dulu sebelum kau berbicara! Ka--"


"Diam Liz, hari ini adalah puncaknya, hari ini ayo kita bongkar semuanya, dan lampiaskan segala amarah kita pada mereka! Maralah Liz! Karna setelah ini, ada masalah lebih penting yang harus kita selesaikan. Kau tau kan? Apa yang aku bicarakan?" Anna menatap Liz penuh arti. Liz menghela napasnya, dia mengerti.


Emosi Liz juga sudah sampai puncaknya jika mengingat masalah itu. Tapi, dia sudah beberapa kali di beri wejangan oleh dokter untuk jangan stress, karna akhir-akhir ini Liz sedang lemah karna kepikiran dengan Vasa.

__ADS_1


"Nyonya Lathifa Kanneria, teman saya bertanya. Benar kan? Kalau Tara Mahendra mengabaikan mama Deyna Defana, karna anda, kan?" Liz mulai berjalan ke sisi Anna. Dia menatap tajam Tara dan Thifa saat ini. Sungguh, jangankan berbicara, kehadiran Anna saja sudah sangat menhasut dan cukup merepotkan.


"Liz...?! Jadi selama ini kamu? Kamu adalah anak Tara dan Deyna?! Liz, kenapa kamu ga bilang Nak?!"


"Jadi itu alasan mu, kenapa kau mau rumah tangga Papa dan Mama hancur. Kau mau balas dendam?" Beri nilai kepekaan luar biasa pada Alreya ini.


"Terserah kalian mau bilang apa, sekarang aku cuma tanya. Benar kan?!" Suara Liz mulai meninggi. Dia menatap ke arah Tara. "Benarkan, kamu meninggalkan Mama demi dia?! Iya kan?!" Liz menarik kerah baju Tara.


Devan ingat, istri mungilnya saat ini tengah hamil, apalagi kondisi fisiknya lemah. Devan dengan sigap menarik Liz dalam pelukannya. "Tenangkan diri mu oke? Kamu mau apa bakal aku turutin. Jadi jangan emosi, ingat anak kita sayang, anak kita harus baik-baik aja kan?"


Liz menarik napasnya, namun air matanya sudah mengucur deras dari sumbernya. Liz memeluk Devan erat. "Mereka jahat Dev..., karna mereka mama mati, bahkan mama mati dalam penderitaan karna sampai akhir hayatnya, mama masih mencintai orang itu."


"Maaf..., maaf." Devan mengelus lembut kepala Liz. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.


"Cukup! Bisa-bisanya anda masih berani menyebut diri sendiri sebagai Ayah setelah segala hal yang anda lakukan? Apa an--"


"DIAM DEVAN!! DIAM! KU BILANG DIAM!!!" Suara Tara menggema di seluruh sudut ruangan itu. Devan mendadak diam seketika. Bahkan Anna yang ada dalam pelukan Vin sampai merinding.


Tara berlutut, menyentuh kaki satu-satunya putrinya. "Maaf, itu semua salah Ayah Liz. Maafin Ayah, itu ga ada hubungannya sama Thifa, Arfen, Devan, dan Alreya. Ini semua salah Ayah sendiri. Jangan benci keluarga Arkasa karna Ayah. Sebenarnya, keluarga ini sangat sayang padamu, baik itu Thifa maupun Arfen sendiri. Mereka udah anggap kamu sebagai anak sendiri, jadi jangan benci mereka."


Liz tidak menanggapi, dia hanya sibuk menangis di dalam pelukan Devan.


"Memang benar Ayah waktu itu mengabaikan Deyna. Tapi saat Deyna pergi, Ayah sadar, Ayah sangat mencintai Deyna. Ayah sangat senang melihat hasil tes kehamilan di kamar Deyna. Sejak saat itu Ayah mencari kalian, di seluruh kota ini. Tapi sayangnya, Ayah gak menemukan kalian. Itu salah Ayah, salah Ayah." Tara menggenggam tangan putrinya dengan gemetar.

__ADS_1


"Meskipun begitu, Ayah memang egois. Bahkan sekarang Ayah mohon, maafkan Ayah, jangan benci Ayah, dan tetaplah memanggil pria berdosa ini dengan sebutan Ayah." Tara mencium tangan putrinya penuh keputusasaan.


"Benar, penderitaan Deyna itu, akulah penyebabnya. Akulah dalang utama yang harus di persalahkan."


"Tunggu!" Liz menoleh ke arah Tara. "Anda tidak terkejut waktu mendengar Devan bilang anda adalah ayah kandung ku? Jadi selama ini anda sudah tau, kalau aku ini putri biologis anda?"


Tara mengangguk lemah.


"Sejak kapan?"


"Malam di hari setelah pesta perayaan pernikahan kalian. Anak perempuan itu datang, namanya Vasa. Dia menceritakan segalanya, segala penderitaan Deyna dan kau. Itu semua salah ku, andai aku bisa menemukan kalian lebih cepat. Mungkin semuanya, tidak akan berakhir seperti ini."


"Cukup, itu memang salah mu meninggalkan bibi Deyna. Tapi mengatakan segala penderitaan yang bibi Deyna tanggung adalah salah mu, itu tidak benar. Karna sebagian penyebab penderitaan bibi Deyna adalah perempuan terkutuk itu. Dasar Yuli sialan, mati sana!" Umpat Anna dengan segala kebencian tertanam di matanya.


"Apa maksud mu semuanya salah Tante Yuli? Jangan berlagak tidak tau diri Anna. Kau tau jelas, kalau bukan karna Tante Yuli, mungkin aku dan Mama sudah hidup menjadi gelandangan!"


"Kau salah Liz! Jika bukan karna perempuan sialan itu, kau pasti sudah bertemu dengan Ayah kandung mu di saat ibu mu masih hidup! Tara dan Arfen, mereka mencari kalian susah payah, mereka menyusuri seluruh negri ini demi menemukan kalian. Tapi Yuli, menutup segala aksesnya, dia dengan sangat sempurna menyembunyikan kalian." Sungguh, bukan perkataan Anna saja yang pedas, panggilannya pun tidak sopan. Bisa-bisanya dia memanggil Tara dan Arfen yang notabanenya umurnya lebih tua dari dirinya, hanya dengan namanya saja. Sepertinya Anna memang benar-benar butuh suplai akhlak. Tolong donorkan setengah akhlak bagi Anna.


"Apa maksud mu? Kenapa tante Yuli lakuin itu?"


"Karna dia gila, dia benci liat Bibi Deyna. Dia gak waras, dia gak suka liat orang lain bahagia. Terutama kalau itu temannya, kau tau kan? Si Yuli sialan itu teman dari bibi Deyna. Dia tidak suka, kalo bibi Deyna ketemu dengan Tara dan hidup bahagia. Si sialan itu benar-benar."


"Anna, ka--"

__ADS_1


"Lalu kalau kau masih ingat tragedi penculikan kita saat masih kecil? Itu semua adalah rencana Yuli, dia ingin kita bertiga mati agar bibi Deyna sengsara."


__ADS_2