Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Panggil...


__ADS_3

Liz bisa melihat seseorang berjas rapi yang duduk di sofa, tapi Liz tidak tau siapa, karna ia melihatnya dari belakang.


"Mohon tunggu sebentar, Devan sebentar lagi akan turun." Kata Liz menyapa tamu itu.


"Oh iya, gak masalah." Sahutnya ramah.


Liz terdiam seketika, wajah itu, wajah yang paling dia benci saat ini ada di depannya. Wajah yang selalu ia lupakan.


Ta-ra?! Mau apa dia ke sini?! Pada akhirnya aku bertemu dengan orang ini, orang yang memenuhi hati ku dengan kebencian... Tara Mahendra. Sekarang, apa aku siap untuk berbicara dengannya?


"Oh ya, kamu sekretaris baru Devan?" Tanya Tara ramah, dengan senyum hangat yang terlukis di wajahnya.


Cih cih cih!!! Ingin sekali aku menampar orang ini, bisa-bisanya dia tersenyum sebegitu bahagia setelah mencampakkan aku dan mama!!


Tapi, aku harus jawab apa? Bilang aku istrinya gitu? Bisa-bisa dia terkejut sampai mati, itu ga boleh, dia harus merasa amat tersiksa dulu sebelum mati.


Liz terdiam. "A-aku-"


"Liz, siapa yang bertamu?" Tiba-tiba Devan sudah datang merangkul Liz. Devan melihat pria paruh baya yang duduk di depannya. "Oh Ayah? Kapan datang?" Devan langsung memberi salam kepada orang itu, Ayah angkatnya.


"Baru aja kok, apa kabar kamu Nak?" Tara memeluk Devan erat, begitu juga Devan yang menyambut pelukan hangat itu. "Lama ga pulang, apa kau gak tau, Papa dan Mama mu sudah sibuk katanya merindukan mu."


"Maaf Ayah, aku sibuk akhir-akhir ini."


Kayaknya Devan gak mau akuin aku ke depan keluarganya? Its okey, no problem. Gapapa, sabar aja, malahan bagus sih...


"Anuu, aku bakal buatin minum dulu, mau teh atau kopi tuan?" Tanya Liz kepada Tara. Dengan susah payah dia mengatur wajah dan suaranya, agar baik-baik saja. Agar kebencian itu sama sekali tak terpancar.


"Kopi saja,"


Liz mengangguk, "Iya, sebentar." lalu Liz ingin berjalan pergi, namun tangannya di tarik oleh Devan. Hobi banget narik-narik tangan orang.


"Ayah, kenalkan dia istri ku, namanya Liz. Firlizy Defana. Liz, kenalkan dia adalah Ayah angkat ku, Dokter Tara."


Ya aku tau si sialan ini, Tara Mahendra brengsek!!

__ADS_1


Batin Liz,  tentu agar rencananya berjalan mulus, dia harus tetap diam kan?


"Liz, Kau sakit?" Panggil Devan, dia memeriksa kening istri mungilnya itu, akhirnya Liz sedikit tersadar dari lamunannya.


"Eh-engga kok!"


"Is-tri? Kau sudah menikah Devan?" Tanya Tara bingung, ekspresinya jelas menunjukkan dia terkejut, tentu sangat terkejut. Siapa yang tidak kaget saat tau tau anaknya sudah menikah? Tanpa izinnya?


"Maaf Ayah, Karna ada suatu hal yang mendadak Devan harus buru-buru nikah." Bela Devan.


"Apa-apaan kau ini?! Kenapa kau menikah diam-diam begini?! Tidak ada pesta! Izin! Atau setidaknya kabar! Ini adalah pernikahan Devan Arkasa! Pernikahan anak Ayah, bagaimana mungkin Ayah tidak hadir! Apa Ayah tidak penting bagi mu?!" Tentu saja Tara marah, dia berhak kan? Ya dia berhak sebagai Ayah angkat dari Devan, tapi tentu tidak berhak sebagai Ayah biologis dari Liz?


Cih... Kok jijik ya? Heh... Ironis sekali bukan, anaknya siapa yang di marahin siapa...


"A-anu... Ma-maaf, ini semua salah aku, aku yang maksa Devan buat nikahin aku secepat mungkin, karna waktu itu kondisinya lagi gak bagus. Maaf, aku beneran minta maaf. Ini semua salah aku." Liz menunduk, dengan suara yang sedikit gemetar, karna sedih? Oh tidak! Itu karna dia saat ini mati-matian menahan amarahnya!


Tara menatap gadis berwajah lugu itu, ekspresi nya tampak menyedihkan. Tara menghela napasnya, seolah dia tau apa maksud mereka.


"Jadi udah berapa bulan?" Tanya Tara menatap Devan.


"Ha?" Tara melihat ke arah Liz, tepatnya di perut wanita itu. "Apa kau melakukan aborsi? Kalau sudah lima bulan tidak mungkin tidak kelihatan, pastinya sedikit buncit."


Liz dan Devan sama-sama diam,


Dia pikir aku hamil gitu? Dia pikir kami menikah karna Devan udah hamilin aku dan mau tanggung jawab gitu? Heh... Tanggung jawab ya, andai aja dulu kau bertanggung jawab atas anak mu yang ada di dalam kandungan Mama Deyna mungkin... Ah sudahlah, itu masa lalu, berandai-andai juga tidak akan mengubah apapun.


"Apa Ayah pikir aku menikah karna sudah menghamilinya? Ayah salah, bukan seperti itu."


Tara menghela napasnya. "Jadi bukan karna itu, lalu karna apa?"


"Eh-gimana kalau sambil cerita minum kopi sama cemilan, biar aku ambilin bentar." Ujar Liz suaranya agak gagu.


Biarkan aku pergi! Aku udah gak tahan liattt muka dia!! Aku mau menamparnya sekarang juga!!!


"Iya, minta bantuan pelayan lain. Jangan biarkan mereka makan gaji buta, dan kau mengerjakan semuanya sendirian."

__ADS_1


Liz tersenyum dan berjalan pergi. Tangannya bergetar menyiapkan kopi itu.


"No-nona baik-baik aja? Pasti nona gugup bertemu dengan orang tua angkat tuan muda, nona jangan khawatir. Sebenarnya Tuan Tara,  itu orang yang sangat baik, juga tidak galak. Jadi beliau pasti tidak akan pernah marah pada nona." Kata Viona menepuk pundak  Liz. "Biar aku yang buatkan kopinya, nona duduk aja dulu, tenangkan diri."


Liz mengangguk, dia memang tidak baik-baik saja. Dia mencoba mengatur napasnya,


Sembunyikan... Kebencian, dan amarah dendam ini, Liz...


"Nona tau, bukan hanya Tuan Tara, orang tua kandung Tuan muda juga sangat baik dan lucu. Apalagi Tuan Arfen, benar-benar menyenangkan melihat Tuan Arfen jika sudah bersama Nyonya Thifa. Jadi nona tidak perlu khawatir, mereka pasti akan menerima nona apa adanya." Lanjut Viona jujur.


Liz tersentak halus.


Ya perlahan-lahan seluruh target muncul di depan mata ya, kayaknya mulai sekarang aku bakal lebih sering ketemu mereka. Aku harus bisa mengatur emosi.


"Nona yang baik dan polos ini, pasti bakal cepat akrab sama Tuan Arfen dan Nyonya Thifa, pasti Nona bakal bener-bener bahagia, punya mertua kayak mereka."


Bahagia katanya? Hahah lawak sekali, orang-orang kejam yang gak punya hati itu.


"Ya... Aku menantikan bertemu dengan kedua mertua ku itu." Liz tersenyum tipis.


"Ini Nona, saya udah siapkan kopi dan cemilannya." Kata Viona memberikan nampan itu.


"Terima kasih." Liz berjalan kembali ke arah ruang tamu. Dia menyajikan semuanya dengan baik, kemudian duduk di sebelah Devan, tepat di depan Tara.


"Jadi begitu..., Apa kamu baik-baik aja Nak? Penipu itu udah ketangkap?" Tanya Tara menatap Liz sedih.


Penipu? Vasa maksudnya?


Liz tersenyum gagu. "Belum sih, cuma akunya udah ikhlas kok Om. Gapapalah, mungkin memang belum rezekinya aku."


"Jangan Om, Devan anak saya, kamu istrinya Devan, jadi panggil saya Ayah aja sama kayak Devan."


"Coba panggil Ayah," Tambah Devan.


Liz diam membeku, bibirnya kelu...

__ADS_1


__ADS_2