
"Kemarilah..." Panggil Devan.
Astaga!!! Apa lagi! Aku lagi ingin menjauh dari mu, gak bisa kah? Aku hampir mati karna shock!
Namun Liz tidak bisa menolaj, bahkan menampilkan ekspresi tak suka pun dia tak bisa. Liz berjalan sesuai arahan Devan.
"Kau belum mengucapkan selamat pagi."
"Selamat pagi suami ku~" Kata Liz dengan memberikan kecupan di pucuk kepala Devan.
Aku harap dia gak ungkit kejadian kemarin malam.
"Sepertinya kau ceria ya? Kau tau apa yang terjadi kemarin malam?" Devan menarik tangan istrinya untuk duduk di pangkuannya.
Sudah di bilang jangan di bahas! Kau mau bilang aku mabuk dan menganggu mu kan?!
Liz menunduk. "I-itu, kita mela--"
"Ya itu, tapi ada yang aku tidak suka. Kemarin malam kau mabuk, dan hampir saja di ganggu oleh orang-orang itu, kau tau seberapa takutnya aku saat asisten kecil mu berlari untuk mengadu pada ku?"
"Eh? Asisten kecil? Maksudnya Nana? Oh iya, gimana Nana bisa sampai ke kantor secepat itu, kau juga datang sangat cepat." Liz baru sadar akan hal ini, waktu Devan itu sangat cepat.
"Sudah ku bilang, aku takut, jika sesuatu terjadi pada mu. Makanya, aku tidak pulang. Aku menunggu mu di mobil, sampai kau selesai di acara pesta menjijikan ini." Devan menyenderkan kepalanya di bahu Liz, pandangannya menunduk, wajahnya sayu.
"Jadi setelah mengantar ku, kau gak pulang? Kau menunggu ku?"
"Ya..., sekarang katakan, bagaimana kau akan menebus semua ketakutan ku kemarin malam?"
Kau gak akan tau Liz, seberapa takutnya aku... Jika kau sampai terluka...
"Hukuman? Bukannya kau kemarin sudah menghukum ku?"
"Oh? Jadi maksud mu yang kita lakukan itu adalah hukuman untuk mu? Aku pikir itu adalah hadiah yang aku berikan untuk mu."
Hadiah your head! Itu hukuman loh!
"Maaf..., itu adalah anugrah yang sangat indah. Dengan begitu, kau gak akan pernah meninggalkan ku kan?"
__ADS_1
Devan tersenyum kecut. "Heh, aku cukup terkejut. Bahkan sampai sekarang, kau masih berpikir bahwa aku akan mencampakkan mu?"
"Ya, terkadang aku berpikir begitu. Kau tau, saat aku sendirian, mungkin saja kau akan membuang ku, nantinya, entah karena tidak di restui orang tua mu, atau bahkan ada wanita lain."
"Bisa-bisanya kau mengatakan itu setelah kau meludahi ku, dan aku malah memaafkan mu."
E-eh!! Liz terkejut, matanya membelalak kaget. Dia memang ingin balas dendam pada Devan dengan cara yang sekeji mungkin, tapi Liz belum pernah meludahi Devan loh, seingatnya.
"Jangan pura-pura tidak ingat, kemarin malam kau melakukan itu." lanjut Devan, dia sudah duduk dengan tegak, matanya dalam menatap mata indah Liz.
Gawat... Aku melakukan itu. Apa jangan-jangan aku mengatakan hal yang enggak-enggak? Jangan bilang aku membocorkan rahasia balas dendam ku? Gak kan? Gak mungkin kan??!! Kalo dia tau, dia pasti udah menggal kepala ku.
"Aku lakuin itu? Maaf..., terus aku lakuin apa lagi? Aku ada bilang yang aneh-aneh gak?" Liz tampak gugup, matanya sedikit aneh?
Devan menaikkan sebelah alisnya. "Ya sih, kau memang banyak mengatakan hal yang aneh-aneh, dan aku baru tau, bibir mu yang mungil ini bisa mengumpat orang dengan kejam."
Seriusan? Aku maki Devan?! Kok aku masih hidup?
"Ma--"
"Gak perlu minta maaf, yang kau lakukan itu benar. Ludahi saja semua orang yang ingin menyentuh mu, kecuali aku. Memang harusnya begitu, gak ada yang boleh menyentuh, nyonya Devan Arkasa." Tangan Devan meraih leher mulus Liz, dan pagi itu di sambut dengan ciuman yang indah. Liz juga tidak tau, entah dia memang tidak bisa menolak keinginan Devan, atau memang dia tidak mau menolak kenginan itu. Ada perbedaan mendasar, antara tidak bisa dan tidak mau, ya kan?
Dia bahkan menikmati setiap sentuhan ku? Dan merasa sangat jijik dan benci jika di sentuh orang lain?
Devan ingat wajah Liz kemarin malam, wajah yang menampilkan ucapan 'Lebih baik aku mati di banding kau sentuh.' ya, itu terjadi karena Liz pikir Devan adalah Viko.
Bahkan sampai meludah?
"Tetap begini, dan jadilah ratu ku."
Cup...
Kecupan hangat itu Devan daratkan di pucuk kepala Liz.
I-ini artinya, aku gak ada bilang apa-apa soal dendam kan? Aku gak ada keceplosan soal kebencian ku kan? Baguslah, hah~
"Tapi ngomong-ngomong soal produser itu, dia harus di siksa sebelum di lempar ke penjara." Liz baru ingat, mana dia bisa membiarkan orang itu begitu saja.
__ADS_1
"Sudah ada Vin yang mencabut seluruh kukunya, jangan khawatir. Oh ya, tambahan satu lagi, aku tidak akan pernah mengizinkan mu ikut ke pesta apapun lagi, jika bukan bersama ku."
Liz mengangguk patuh. Devan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Aku masih ngantuk, tidur... Kemarin malam kita begadang dengan sempurna. Berkat siapa itu?"
"Devan!!!!" Teriak Liz, dia tidak tau tapi rasanya malu sekali hingga membuatnya menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Devan tersenyum geli, melihat tingkah istrinya itu.
Ternyata dia punya sisi seperti ini juga?
...***...
Liz sedang duduk di balkon rumahnya, dia baru saja menelpon Nana untuk mengucapkan terima kasih, dan mendengar cerita perjuangan versi gadis itu. Tentu saja, Nana yang polos menceritakan nya dengan menangis tersedu-sedu. Dari suaranya, Liz jelas tau, Nana sangat mengkhawatirkannya.
Kemarin malam, kalo gak ada Devan, apa yang bakal terjadi ya? Terkadang aku berpikir, bahwa lebih baik orang itu adalah Devan, lebih baik Devan yang menyentuh ku di banding orang itu....
Kenapa? Kenapa aku punya pikiran seperti itu? Mungkin karna Devan lebih tampan, kan?
Tring! Notifikasi dari Anna itu sukses besar membuat Liz hampir kehilangan jantungnya.
Apa Anna tau yang sebenarnya? Apa Devan cerita? Gak mungkin! Mana ada laki-laki yang pamer setelah melakukan hubungan intim kan?
Anna:
Kenapa ga ikut ke kantor? Hari ini kau kan gak shooting? Aku tanya Devan katanya sudah mengajak mu, tapi kau malah bersikeras menolak, meminta istirahat.
Liz akhirnya bisa bernapas lega, saat semua isi kalimat itu tidak ada yang menyinggung tragedi kemarin malam.
Kau gak sakit kan? Kau baik-baik aja kan? Bertengkar sama Devan?
^^^Enggak kok, ^^^
Iya sih gak mungkin bertengkar sama bos iblis itu, soalnya hari ini moodnya keliatan sangat baik. Emang apa yang terjadi sih, di waktu rapat dia jadi sering melamun sambil senyum-senyum sendiri. Ngeri banget liatnya...
Mampus, mati aku! Devan geblek! Jawab apa nih ke Anna...?
^^^Kemarin karena aku pulang telat, aku bilang cinta ke dia... ^^^
Gila, efeknya separah itu. Kayaknya dia udah Bucin parah sih, kalo mau di tinggalin sekarang juga bisa, gimana? Kalo emang mau dalam waktu dekat, aku bakal susun rencana jual rancangan proyek besar ke perusahaan saingan. Habis itu kita kabur bareng-bareng.
__ADS_1
^^^Iya, kayaknya aku bakal ninggalin dia dalam waktu dekat. ^^^
...Udah sering up......