
...***...
"Apa kau mulai mencintai ku?" Tanya Liz secara mendadak yang membuat Devan terdiam.
"Ya, aku rasa aku mulai mencintai mu. Mungkin begitu..."
Seketika suasana antara keduanya hening. Mereka sama-sama diam. Devan hanya mampu bersandar pada bahu itu.
Apa ini saatnya? Ini kah waktunya untuk aku membuang orang ini? Ya kan?
Liz menoleh, dia sudah bersiap untuk membuang Devan, namun saat matanya dan mata Devan mendadak bertemu. Ada rasa aneh yang Liz rasakan, tatapan penuh ketulusan itu, mungkinkah menggoyahkan hati gadis itu?
"Kalau gitu boleh gak, aku tetap jadi istri mu, dan tetap bekerja?" Liz memegang pipi Devan lembut dengan kedua tangannya, tatapan mata yang tak teralihkan itu seolah bagai hipnotis untuk Devan.
"Tapi aku gak rela berbagi kau dengan yang lain, walau bahkan itu hanya akting sekalipun. Entahlah, melihat mu bergandengan dengan orang lain, rasanya aku mau gila. Jadi, berhentilah sebagai artis." Devan sama sekali tak mengalihkan pandangannya. Dia masih menatap makna gadis itu.
Devan mendekatkan wajahnya hingga kepala keduanya saling bersentuhan. "Aku gak akan membuang mu dari kehidupan ku, jadi kau gak perlu bekerja. Atau kau hanya perlu duduk di sofa kantor saat aku bekerja, kau bebas berbelanja saat aku sedang rapat. Tapi berhenti--"
"Kalau gitu kau egois kan?"
Ya... Mungkin kau memang gak akan membuang ku, karna akulah yang akan membuang mu, Dev...an.
"Iya, aku memang egois. Kau tau kan? CEO Devan Arkasa bisa berbuat apa saja."
"Suami ku, ak--"
"Berhenti, jangan memohon. Ikuti saja apa kata-kata ku, sesulit itu kah?"
"Bagaimana kalau begini, aku akan syuting, tapi sebagai peran pembantu, yang karakternya itu gak punya pasanagan. Jadi gak akan ada adegan romantis? Ya?"
Devan mengangkat kepalanya. "Hemmm."
__ADS_1
"Tapi ada masalahnya."
Devan mengernyitkan dahinya heran. "Apa?"
"Aku pikir aku harus membayar kompensasi yang cukup besar untuk itu. Tapi ini sih kerugian namanya memang, ka--"
"Gak masalah, aku yang akan tanggung biaya kompensasinya. Jadi, ga usah khawatir."
"Kalau gitu, aku bisa jadi istri mu, dan juga bekerja karna aku suka berakting. Akting adalah kehidupan ku."
"Ya ya ya, lakukan sesuka mu. Bayar berapapun yang mereka minta."
Liz tersenyum.
Sekarang tinggal cerita ke Anna, dan minta pendapat dia sebaiknya kapan aku bakal buang Devan.
...***...
"Kalian semua, tolong keluar sekarang! Sekarang juga!!" Kata Ken yang langsung di turuti oleh mereka semua. Wajar, Ken itu artis papan atas yang bahkan namanya sudah merambat ke beberapa negara sekitar.
"Apa? Kenapa senior Ken teriak-teriak dan memanggil nama ku dengan kasar gitu?" Sahut Liz agak bingung.
"Apa maksudnya peran pengganti ini?! Kenapa bukan kau lagi yang menjadi tokoh utama!! Harusnya kan kau dan aku!! Kenapa malah Maya, dan kau hanya menjadi figuran?! Aku butuh penjelasan Firlizy!" Ken melemparkan kontrak baru yang tadi pagi sudah di tanda tangani Liz, dengan membayar kompensasi yang besar.
"Sebelumnya aku minta maaf, aku gak tau kalau senior Ken jadi keberatan sampai segitunya. Tapi aku juga punya alasan sendiri sampai berbuat begitu." Liz mencoba tenang, meski dari hatinya yang paling dalam, dia memang merasa tidak enak. Sudah beberapa lama syuting tapi malah gagal produksi dan syuting ulang karna dirinya meminta ganti peran.
"Lagipula kan tuan Ken udah dapat biaya kompensasi yang besar dan setimpal, tolong jangan menekan nona saya seperti ini." Tambah Nana, hatinya terluka melihat Liz di perlakukan dengan kasar begitu.
Brakkk!!
"Itu juga, uang kompensasi sebanyak itu kau dapatkan dari mana? Bagaimana mungkin kau bisa memperoleh uang sebanyak itu?!" Suara Ken semakin bergetar. Namun Ken lebih tenang saat Gerry menyentuh bahunya.
__ADS_1
"Jangan takut begitu, Nona Liz juga jangan salah paham. Sebagai partner akting, Ken hanya ingin tau kenapa kau membatalkan peran itu? Dan malah memilih jalur rugi dengan membayar kompensasi yang gak main-main jumlahnya. Bahkan jauh berkali lipat dari gaji akting mu. Ken hanya merasa uang itu sangat sayang di buang-buang begitu." Gerry juga ikut ambil bagian.
Ha~ Sejujurnya ga perduli sih, toh itu uangnya Devan. Uang segitu sama Devan sih...
"Udah? cuma segitu? Kirain berapa banyak sampai kau gemetaran. Jangan di pikirkan, hari ini kau minta 10 kali lipat dari itu juga ku berikan."
Begitulah kata Devan, yang membuat Liz benar-benar tak perduli akan uang.
"Liz... Kembali lah menjadi peran utama, akan aku bilang pada produser. Oh ya, apa ini karna adegan yang kemarin malam? Kalau kau memang keberatan, kita gak akan melakukan yang lebih dari berpegangan tangan, mengerti? Jadi kembali lah sebagai peran utama."
"Pertama, maaf senior Ken, udah ngecewain dan ngerepotin. Kedua, apapun yang terjadi pada ku, alasan ku, dan darimana aku mendapat uang kompensasi, aku rasa aku ga perlu cerita semuanya kan?" Liz sudah lelah sebagai pendengar, saatnya dia angkat bicara.
Ken tersentak, dia tidak akan memgira akan mendapat jawaban begini dari Liz-nya.
"Tapi kita kan teman? Kau bilang kita teman kan? Apa sebagai teman kau tidak bisa membagi masalah mu pada ku? Aku yakin aku pasti akan membantu, apapun masalahnya, ku pastikan akan membantu mu, dengan mempertaruhkan apapun." Tatapan Ken terlihat sangat tulus.
Ya bisa sih ini buat di jadiin alat, perfect, dia punya harta, kenalan orang banyak, dan dia terkenal. Sungguh bidak catur yang sangat baik, dan rugi jika aku melepasnya.
Liz menatap mata Ken dengan sungguh-sungguh, namun dia tersenyum. "Maaf ya Ken, aku gak bisa bagi masalah aku yang ini. Jadi sebagai teman, ku mohon, mengertilah? Bisa kah?"
Ha, tapi gak bisa di jadiin bidak, dia terlalu tulus soalnya. Sakitnya sebuah pengkhianatan dan pemanfaatan, itu hanya boleh di rasakan Devan, dan bukan orang lain, apalagi orang setulus Ken. Maaf, aku cuma gak mau manfaatin...
Ken menghela napasnya panjang. "Aku tau, pasti ini adalah masalah yang berat dan besar. Kalau gak cerita sekarang gakpapa, aku bakal tetep ada waktu kamu butuhin. Jadi, kalau butuh apapun, datanglah pada ku. Aku akan selalu ada."
"Makasih udah ngerti, kalau aku butuh sesuatu, aku bakal hubungin senior Ken kok. Tenang aja." Liz meyakinkan dengan senyumannya yang manis, wajahnya juga berseri bahagia.
"Kalau begitu, berjanjilah pada ku, kau akan memanggil ku saat kau susah nanti?" Ken mengulurkan tangannya pada Liz.
"Ya, aku janji!" Liz menerima uluran tangan itu.
...***...
__ADS_1