
...***...
Setelah keributan yang luar biasa dari pagi hingga sore yang terjadi hari ini. Akhirnya kegiatan biasa keluarga Arkasa berjalan seperti biasa, seperti sekarang Arfen, Thifa, dan Reya tengah duduk di meja makan.
Mereka masih menunggu Liz dan Devan turun. Ketiganya sepakat untuk menutup mulut sampai ada kabar yang Tara berikan.
"Lama banget, Pa, Ma, Reya makan duluan ya. Ini cacing udah pada dangdutan, serius deh." Celetuk Reya menatap makannya. Itu wajar, kalian ga tau aja gimana rasanya melihat makanan enak di depan saat lapar, tapi malah ga bisa dimakan.
"Tunggu Devan sama Liz, atau kamu mau mama jodohin?" Ancam Thifa. Sepertinya wanita setengah baya ini sudah menemukan kelemahan mutlak putri sulungnya. Karna berkat ini, Alreya si pembangkang mendadak menurut saja.
"Ha, Reya nyerah." berikan bendera putih pada Reya. Dia benar-benar ingin mengibarkannya sekarang. Bahkan Papa kebanggaan nya tidak bisa berkutik di depan Thifa. Bukan rahasia umum kalau Arfen itu akan melakukan apa saja sesuai keinginan Thifa.
"Reya butuh orang yang bakal belain Reya baik salah maupun benar."
"Makanya nikah sama orang yang bener, kayak modelan papa contohnya. Ya, yang paling utama sih tetep harus ganteng. Kamu tetep harus melanjutkan dan melestarikan wajah keturunan kita, makanya cari bibit unggul, da--"
"Pa! Mingkem!"
Kepala Reya sudah cenat-cenut tak tertahankan. Siapapun tolong jemput putri ini.
"Fix, besok Reya mau cari ksatria bertopeng yang bakal nyelametin Reya dari kefrustasian ini."
"Teruslah bermimpi, terus aja gitu, hati-hati gila aja sih." Sahut Devan duduk di sebelah Reya.
"Bi, siapin makanan di nampan buat dua orang, anter ke kamar. Makannya harus hangat, jangan panas jangan dingin, jangan pedas juga." Titah Devan. Bibi pelayan yang sedari tadi berdiri di sana mulai bergerak ke dapur mempersiapkan segalanya.
"Papa tau, kamu sayang banget sama Liz, dan Papa juga tau dia lagi gak mood. Tapi itu bukan berarti dia bisa seenaknya gak makan bareng." Tegur Arfen. Bukan! Bukan karna Arfen benci, tapi Arfen ingin lebih mendekatkan diri pada Liz, dan jika ada kesempatan dia akan bercerita betapa gilanya Tara saat mencari Deyna. Arfen pikir, mungkin dengan itu, walau sedikit hati Liz akan terbuka.
"Itu bener Devan, kamu boleh manjain Liz, kamu boleh turutin segala hal yang dia mau, tapi jangan sampai itu meregangkan keluarga, ngerti? Sekarang naik, suruh Liz turun dan makan bareng." timpal Thifa menjelaskan dengan lembut. Setelah mendengar penjelasan dari Reya yang seolah-olah Liz ingin merusak kedamaian keluarga ini, Thifa hanya ingin lebih berhati-hati, dan lebih dekat dengan menantunya lagi.
"Mau kau yang manggil? Atau kakak yang seret?" tawar Reya enteng.
"Jangan coba-coba kasarin Liz!" Suara Devan meninggi, tangannya sudah menggenggam pergelangan Liz kasar.
"Devan!!" Suara Arfen pun tak kalah meninggi. "Lepasin tangan kakak mu! Sopanlah sedikit!"
__ADS_1
"Sopan gimana? Dia yang salah Pa! Masa dia mau seret istri ku?!"
"Sensi amat sih, ya kali aku seret beneran. Please, waras Dev." Reya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap over adiknya ini.
"Duh sakit banget, kulit ku yang mulus." Reya mengeluh pergelangan tangannya yang merah.
"Devan, sekarang panggil Liz turun buat makan bareng."
"Ga bisa Ma, gimana kalo nanti Liz kenapa-kenapa karna kecapean turun tangga."
"Wtf?! Are you crazy bro?" Tolong berikan kewarasan untuk Reya. Dia hampir menjedotkan kepalanya sendiri karna tidak tahan dengan perilaku orang ini.
"Kena--"
"Oh? Bentar, Devan belum bilang ya kalo Liz hamil." Potong Devan cepat, wajahnya tampak santai tanpa rasa bersalah. Sejujurnya dia benar-benar lupa mengabari keluarganya ini.
"Liz hamil?! Devan kamu yang bener?!"
"Iya Ma, tadi sore dia mual-mual, jadi Devan panggil dokter. Kata dokternya Liz hamil, makanya Liz ga boleh kecapean, makanannya juga harus di jaga. Kata dokter dia lemah karna stress." lanjut Devan tanpa rasa bersalah.
"Dan kamu malah ngasih tau mama sekarang?! Devan kamu sadar ga sih kamu salah?!"
"Ya, maaf...," Jika kalian bertanya pada Devan, sejujurnya dia mengatakan itu agar ocehan mamanya itu tidak berlanjut. Tidak ada penyesalan dalam nada bicaranya.
Thifa hanya bisa menghela napasnya. Dia bangkit berdiri meninggalkan anaknya yang payah menuju menantunya yang sedang mengandung cucunya.
"Thifa, tunggu sayang." Arfen mengikuti Thifa, dengan sebelumnya dia meninggalkan lirikan maut pada Devan.
"Eh bentar, jadi kesimpulannya Reya udah boleh makan kan?" Potong Reya yang keleparan setengah mati.
Tolong! Entah bagaimana Thifa bisa bertahan di rumah itu.
"Kau ga mau ngucapin selamat?" Devan melirik Reya sebentar.
"Selamat."
__ADS_1
Devan bangkit berdiri, dia kembali ke kamarnya, membawa nampan berisikan makanan permintaannya.
Reya menempelkan pipinya ke meja makan, wajahnya tampak memerah.
"Seriusan? Aku jadi tante nih? Serius? Ntar main sama keponakan? Arghh, imutnya!!"
Siapa bilang Reya tidak peduli? Dia hanya tidak tau cara mengeskpresikannya. Jangan tanya bagaimana perasaannya. Dia menggebu-gebu bersemangat.
...***...
Ucapan selamat dan pelukan dari Thifa sebagai bentuk perasaannya, dia sangat senang. Melihat Thifa yang berulang kali memeluk Liz, membuat jantung Devan berdebar kencang. Dia ingin sekali menarik mamanya menjauh, agar tidak menyakiti janinnya.
Sayang sekali Thifa tidak tau, betapa gilanya Devan saat mereka menyentuh Liz.
"Selamat ya Liz, tenang aja, ada kakak yang bakal jagain kamu." Kata Reya enteng melompat duduk di sebelah Liz yang bersandar.
"Makasih kakak ipar." Liz mencoba tersenyum sebisanya. Dia benar-benar gugup, rasanya perutnya benar-benar tegang. Dia sangat takut pergerakan sedikit saja dapat melukai janin mungilnya. Apalagi saat ini, Reya dengan entengnya menyentuh perut Liz, dan menempelkan telinganya disana. Yang bahkan, Devan saja tidak berani melakukan itu.
"Udah Reya! Nanti kalo janinnya kenapa-kenapa karna sentuhan kamu gimana?!" Pekik Devan tak tahan lagi.
"Apa sih Devan, rese amat tau ga. Kalo iri, sini kita pegang sama-sama."
"Aku ga mau nyakitin anak ku!"
"****! Demi bumi yang selalu berotasi, anak mu ini kalo di sentuh dikit aja, dia ga bakal ke selip dari rahim ke usus."
"What? Emang bisa pindah ya?" tanya Devan dengan polosnya.
Reya diam, dia sungguh tidak bisa berkata-kata lagi.
Thifa menatap ke arah Liz. "Kamu diam aja, dan gak gerak kamu takut anak mu luka?"
Liz mengangguk ragu.
Thifa tersenyum hangat. "Gapapa nak, gerak sedikit aja ga bakal kenapa-napa, malah lebih bahaya kalau kamu ga gerak sama sekali."
__ADS_1
Akhirnya sang ibu dua anak itu menceritakan pengalamannya dan menjelaskan caranya menjaga janin itu.