Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Undangan


__ADS_3

...***...


Liz baru datang ke lokasi shooting soalnya dia cuma peran pembantu. Jadi jadwal adegannya jadi di persingkat.


"Nona nona, anda tau tidak. Dari tadi pak sutradara marah-marah terus loh, bilang aktingnya gak bagus lah, ini lah, apa lah. Kasian banget deh Maya sama Senior Ken." Ujar Nana saat Liz baru sampai. Liz melihat ke arah dua orang itu.


Benar saja, tampak sutradara dengan wajah kesalnya berisik dengan mulut kotornya itu. Liz tidak tau apa yang dia bilang, yang jelas mereka ribut. Lalu mendadak Ken pergi begitu saja.


Apa dia seterpukul itu karna ganti pemain? Bukannya dia profesional ya? Atau akting Maya terlalu buruk..., eh iya sih, kayaknya gitu.


"Nona tampil setengah jam lagi, ini skenario nona." Nana memberikan beberapa kertas itu pada Liz.


"Oke makasih. "


Ini ya? Mudah sih.


Cut!!


"Bagus sekali Liz, sekarang istirahat, memang akting mu luar biasa. Sayang sekali harus ganti peran." Kata sutradara itu, sedikit kecewa.


"Maaf mengecewakan." Liz berjalan pergi, dia duduk dengan Nana di sebelahnya. Tiba-tiba Ken dan Gerry datang.


"Akting mu selalu bagus ya, bagaimana biar gitu?" Tanya Ken duduk di sebelah Liz.


"Profesional aja, anggap itu bukan cuma pura-pura, tapi kenyataan. Ngomong-ngomong, sesulit itu kah akting bareng Maya? Emang sih dia masih baru, tapi kayaknya dia bakat deh, tadi aku liat tatapannya menjiwai banget." Sahut Liz sekenanya.


"Ya itu sih bukan pura-pura, dia emang suka beneran sama Kenza." Sahut Gerry duduk di depan Liz.


"Bagus dong, kan artinya chemistrynya bisa dapet."


"Malasalahnya aku risih dan gak suka di tatap gitu." Ken memijit keningnya frustasi.


"Oh."


Ken melirik Liz,


Kenapa responnya santai sekali?


"Lagian kau kenapa harus ganti peran?"


Liz menarik napasnya. "Kan kita udah bahas ini beberapa hari yang lalu, tolong jangan di ungkit, bisa kan?" Nada bicara Liz sudah malas.


Ken tersentak halus. "Maaf, aku lupa. Apa kau gak ada saran?"


Liz menggeleng. "Entahlah senior Ken~ aku rasa kau terlalu emosian akhir-akhir ini. Lebih baik kau sering-sering berbicara dengan Maya, jadi temannya, agar akting kalian lancar. Kalau begini terus, kita bakalan gagal produksi loh."

__ADS_1


"Itu saran?"


Liz dengan polosnya mengangguk. "Iya, itu saran aku sih."


Ken menghela napasnya. "Kau gak ngerti juga ya, ya terserah sih."


Gerry tampak menahan tawanya. Liz meliriknya, seolah bertanya kenapa, namun dengan cepat Gerry menggeleng.


Dari jauh mereka semua sudah melihat sutradara itu datang.


"Pasti dia akan menceramahi ku lagi." Gumam Ken pelan.


"Malangnya~" Liz hanya bisa menahan tawanya. Ekspresi Ken yang biasa kalem, hangat dan penuh senyuman sekarang lebih sering marah-marah


"Bagus sekali kalian berkumpul di sini. Aku ingin mengundang kalian ke acara pesta, khusus untuk para produser, sutradara, dan artis."  Kata sutradara itu memberikan empat undangan. "Ya sih, dengan manajer kalian juga boleh."


"Oh?" Liz menaikkan sebelah alisnya menatap undangan itu. Lama-lama ucapannya singkat kayak Devan.


"Kalian semua datanglah, kalian pasti terlihat sangat menawan." Sutradara itu menatap Liz dengan penuh maksud. "Di pesta itu kesempatan kalian untuk mendapatkan peluang dan job loh." lanjut sutradara itu tersenyum penuh nafsu menatap Liz.


"Pergilah, wajah mu menjijikan, angkat kaki mu sebelum kaki ku yang akan menempel ke wajah mu." Kata Ken sinis. Wah wah, kemampuan artis papan atas emang beda.


Sutradara itu sadar akan perbedaan posisinya dan Ken. Dia langsung berjalan pergi.


"Pesta ya? Ini hanya sebutan halus untuk para tua bangka itu mencari simpanan pada artis-artis baru yang mudah goyah, dengan menjajikan peran dalam sebuah film." Gumam Ken menatap undangan yang indah itu.


"Kalau kau tak ingin melihatnya lagi, bilang aja, aku akan mendepaknya dari produksi ini." Ujar Ken, masih menatap sutradara itu dingin.


"Terima kasih senior Ken. Tapi kalau aku bilang begitu, kau akan kehilangan beberapa projek karna ketidak profesionalan mu, lagipula Aku baik-baik aja, hanya sampah seperti dia. Lebih baik, senior bersiap soalnya bentar lagi bakal mulai akting kan?"


Ken menghela napasnya. "Doakan aku, agar aku gak sensian ketika melihat wajahnya."


"Semoga berhasil." Ujar Liz melambaikan tangannya pada Ken dan Gerry yang berjalan pergi.


"Hadeh, sutradara itu, dia gak tau aja nona ini istri dari siapa." Gumam Liz.


"Shhttt, jangan keras-keras." Liz tersenyum.


"Lagipula, kenapa pernikahan nona dan tuan Devan di sembunyikan? Apa akan begitu selamanya?"


"Gak kok, dua bulan lagi bakalan adain acara resepsi, besar-besaran! Jadi jangan bilang siapa-siapa ya, kita bakal kejutkan publik."


"Wow, seriusan nona? Pasti nona nanti cantik bangettt, Nana di undang kan?" Bisik gadis polos itu.


"Kau bahkan akan menjadi perwakilan dari keluarga ku, kau tau aku sebatang kara kan? Jadinya, kau akan menjadi adik ku."

__ADS_1


"Nona serius? Beneran kan? Gak boleh di tarik lagi loh kata-katanya. Kyaaa!!" Nana memeluk Liz senang.


"Shtt jangan berisik,"


"Hehe iya nona."


Keduanya tertawa dan tersenyum dalam damai.


...***...


Bilang ga  ya sama Devan? Bilang dong.


Liz menatap sofa itu hampa, dia masih bersandar di bahu Devan yang lagi main laptop.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan? Bilang sekarang." Kata Devan seolah tau isi hati Liz.


"Wow kerennn, tau aja." Liz mengambil sebuah undangan dari dalam tasnya, dia duduk kembali bersandar pada Devan. "Aku di undang ke acara tahunan gitu, antara artis, produser dan sutradara gitu lah."


"Oh?" Sahut Devan dingin.


"Sayang aku boleh ikut?" Liz mengeluarkan suara andalannya.


"Apa di paksa untuk ikut? Sangat penting?"


"Di paksa sih enggak, cuma ya ini penting sih buat karir aku.


Biasanya di acara gini ada yang nawarin jadi model, atau main film."


Devan langsung melirik Liz sinis.


"Janji gak bakal terima peran yang ada pasangannya, jadi figuran doang." Lanjut Liz seolah mengerti tatapan Devan.


Devan menghela napasnya. "Pergilah, dengan syarat aku yang akan memilih baju untuk mu. Kau gak boleh terlihat sangat cantik."


Cup!


Liz mencium pipi Devan. "Terima kasih, suami ku memang yang terbaik!!"


Devan memang sedikit terkejut, namun senyuman tipis itu tak mampu dia sembunyikan lagi.


Oh? Dia tersenyum? Ciuman di pipi pengaruhnya sebesar itu kah?


"Tidur lah," seperti biasa, Devan mendaratkan ciuman hangat di pucuk kepala istri mungilnya.


"Mimpi indah suami ku~"

__ADS_1


"Kau juga, mimpi indah."


Kapan kau akan siap menemui orang tua ku?


__ADS_2