Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Mantan


__ADS_3

...***...


Sudah tiga puluh menit berlalu, sejak masuknya Devan dan Grisha di dalam sana, berdua saja. Ya hanya berdua, selama itu? Sudah selama itu pula Liz mencari cara agar dia tidak masuk dalam permainan Devan, dan mencoba membalikkan semua keadaan menjijikan ini. Namun sayang, Liz belum bisa menemukan jawabannya.


Aku akan berdiskusi dengan An dan Vasa nanti. Ngomong-ngomong, mereka lama juga ya..., apa ya yang kira-kira mereka bicarakan sampai selama ini? Aku tidak ingin tau sih, aku cuma perlu tau karna ini akan mempengaruhi keputusan ku, tetap tinggal untuk dimanfaatkan atau membalas dendam. Haduh, jangan bilang aku termakan rencana ku sendiri, ini tidak adil! Pokoknya, penderitaan mama Deyna harus terbalaskan.


"Vin, aku cape, dan juga lapar, boleh aku keluar?" Liz menatap Vin yang sedari tadi berdiri tegak.


Dia harusnya jadi seorang abdi negara, bukannya berdiri seperti patung di sini. Sayang sekali bakat formalitas itu.


"Tidak boleh." Sahut Vin dingin.


"Tapi aku bisa mati kelaparan ok? Lagipula kenapa tidak boleh?"


"Karna bukan perintah dari tuan."


Liz menghela napasnya. "Dia saja sedang bermesra-mesraan di dalam sana mengingat masa lalu mereka yang manis, tidak perlu di ganggu atau di tunggu. Vin, sungguh kali ini aku tidak berakting, aku bersumpah aku sangat lapar. Tolong bersikaplah seperti manusia, jangan alien bisa kan?" kata Liz jujur. Tidak semua bagian hidupnya akting loh, kali ini gadis licik itu benar-benar jujur.


Vin melihat wajah Liz, sedikit pucat.


Apa aku harus mengizinkannya? Tapi belum ada perintah dari tuan? Aku tidak bisa melakukan apapun tanpa perintah tuan. Tapi nona Liz, dia kelihatan lapar sekali.


Vin mengedipkan matanya sekali. "Baiklah nona Liz, saya akan menemani anda mencari makanan. Tapi itu tidak boleh terlalu lama."


Liz menatap Vin penuh selidik. "Kau mau menemani ku? Vin aku tadi bercanda loh waktu bilang aku akan bersama mu jika kau lebih kaya, jangan bilang kau serius menyukai ku? Ah, tidak heran sih, a--"


"Nona muda, silahkan jalan atau saya akan berubah pikiran."


Liz menggembungkan pipinya kesal. "Ah, apa kau benar-benar manusia? Setelah beberapa kali ku goda reaksi mu biasa saja, setidaknya tersipu lah atau sedikit gugup gitu." Liz mulai melangkah dengan Vin yang ada di belakangnya.


"Kalian mau kemana?" Tanya Devan yang sudah berdiri di depan pintu. Suara itu memaksa Liz untuk menghentikan langkahnya.


Aku butuh makan tau...,  aku ga bisa akting dengan maksimal kalau perutku masih mendemo.

__ADS_1


Liz menoleh, Dia bisa melihat Devan dan Grisha yang ada di depan pintu. Ah bedanya, Grisha kelihatannya habis menangis. Grisha berjalan cepat, namun dia meninggalkan tatapan sinisnya khusus untuk Liz.


"Sayang~ untuk berakting aku butuh makan, jadi aku mau cari makan sebentar, tapi pelayan mu mengikuti ku." Jawab Liz dengan wajah penuh senyuman.


"Berhenti memberikan aku senyuman palsu itu, ini menjijikan."


Liz malah semakin merekahkan senyumannya. "Tidak bisa, aku sudah terbiasa seperti ini, dan memang inilah aku, gadis polos yang baik hati."


"Tidak kah kau malu mengatakan itu?" Devan menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak, karna itu adalah faktanya."


Faktanya aku memang harusnya menjadi gadis polos yang baik hati, tapi karna kalian, kalian yang membuat mama menderita, memaksa ku untuk memenuhi hati ku dengan amarah dan dendam, kebencian ada di setiap inci ruang hati ku.


Devan menatap Vin seolah memberi kode. Vin yang mengerti langsung mengangguk, dia berjalan pergi. Devan langsung menarik tangan Liz masuk, dan menutup pintunya.


"Suami ku, kemana Vin akan pergi?"


"Eh, buka--"


"Diam dan duduklah, kita akan bersama setelah aku menyelesaikan sedikit tugas ku. Hanya butuh waktu lima menit. Persiapkan makanannya." Devan kembalu duduk di kursi kehormatannya.


Liz yang duduk di sofa melihat dua porsi makanan ada di meja, dia langsung menyiapkannya. Namun Liz teringat satu hal.


"Tuan muda, tadi anda meminta nona Anna membeli makanan dua porsi? Aku kira itu untuk mu dan Vin." Liz menatap penuh senyuman pada Devan. Namun Devan malah meliriknya aneh, seolah tidak suka...?


Kenapa akhir-akhir ini dia lebih sering memanggil ku tuan muda?


"Ada apa? Apa aku membuat kesalahan? Kau ingin langsung menendang ku setelah bertemu dengan mantan mu?" Tanya Liz, soalnya tatapan Devan benar-benar aneh.


"Itu akan terjadi jika kau banyak bicara, persiapkan itu cepat. Aku akan segera kesana untuk makan."


"Kejamnya~ Sayang kau kejam sekali~ Duh, aku jadi sakit hati." Gerutu Liz sembari mempersiapkan makanan itu.

__ADS_1


"Kenapa kau ini berisik sekali, aku jadi tidak fokus." Mendadak Devan sudah ada di sebelah Liz.


"Aaa apa kita akan makan siang seperti suami istri? Suami ku~ perlukah aku menyuapi mu? Katakan ya, ayo bilang iya, dan Aku akan melakukannya dengan cinta." Liz sudah mengangkat sendok itu, bersiap menyuapkannya pada Devan, dengan wajah berseri itu.


"Diam, atau aku akan menyita semua makanan mu."


"E-eh...," Mendadak Liz langsung diam, dia langsung fokus dengan makanannya. Kali ini Liz benar-benar lapar, dia tidak akan mengambil tindakan beresiko yang akan membuatnya kehilangan makanan enak ini.


Devan melirik Liz yang makan dengan tenang dan elegan. Dia tersenyum miring, tatapannya juga aneh, dan Liz sama sekali tidak memperhatikan hal itu. Kelaparan adalah kelemahannya. Dia tidak perduli apapun kalau lagi lapar.


...***...


Hari sudah  malam,  dan Devan masih berada di kantor. Dia sudah meminta Vin untuk mengantar Liz lebih dulu untuk pulang dan istirahat.


"Nona muda Firlizy sudah pulang dengan aman tuan. Berapa lama lagi anda akan di sini?" Lapor Vin yang baru datang setelah dia menyelesaikan tugasnya.


"Mungkin dua jam lagi, karna kedatangan dua wanita menjijikan itu sangat membuang waktu ku, benar-benar sia-sia." Sahut Devan tanpa hati.


"Lain kali saya tidak akan membiarkan Nona Grisha masuk dengan seenaknya lagi, saya akan memperketat peraturan khusus untuknya,"


"Oh ya? Bagaimana Perasaannya saat aku dan Grisha berbicara di dalam?"


"Anda luar biasa tuan, Nona Liz memang memiliki bakat yang unik, dia bahkan mampu membuat Smith dan Robin merasa iba dan kasihan padanya. Jika tidak mengenalnya sejak awal, mungkin saya juga akan tertipu." Jelas Vin. Namun wajah Devan malah kelihatan sedikit tidak senang.


"Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar...,"


"Maksud anda?"


Devan tersentak halus. "Ah tidak ada, lupakan. Oh ya cari tau apa yang terjadi pada Reno hingga wanita ular itu datang padaku untuk mengemis kembali? Apa pria yang menjadi pilihannya itu sudah miskin?"


"Baik tuan muda, saya akan mencari tau secepatnya."


...***...

__ADS_1


__ADS_2