Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
END


__ADS_3

...***...


Makan malam seperti biasa terjadi, bedanya malam ini lebih ceria karna perdamaian yang sudah terjadi. Meskipun begitu, tidak membuat Liz tersenyum ceria. Mau bagaimana lagi suami tercintanya, tidak berada di sisinya.


Tara yang menyadari hal itu, sedikit gusar. Entah sejak kapan, perhatian Overnya semakin meningkat. Dia sangat peka terhadap hal-hal kecil kalau itu soal Liz.


"Pa? Masih belum ada kabar soal Arfen?" Tanya Liz membuka pembicaraan. Saat piring-piring di hadapan mereka mulai kosong.


Arfen diam sebentar. "Hemm, entahlah." Arfen dengan entengnya mengangkat bahunya. Apa Arfen tidak tau? Khawatir itu tidak baik untuk ibu hamil! Jadi, kalau tau sesuatu katakanlah dengan jelas.


Perasaan Liz semakin tidak nyaman. Dia sungguh merindukan pelukan hangat suaminya, apalagi akhir-akhir ini cuaca sangat mendukung pasangan untuk berpelukan saling menghangatkan.


"Udah, yang itu skip aja dulu. Mari diskusi untuk menyelesaikan masalah hidup Reya yang di hadiahi oleh kakek." Reya menyingkirkan piringnya. Dia menatap satu per satu manusia yang makan di satu meja yang sama dengannya.


"Papa ga tau, jangan tanya Papa. Papa udah minta sama Kakek mu buat batalin, tapi ujung-ujungnya papa di ancam ga dapat warisan." Sahut Arfen sekenanya.


"Jadi papa mau Reya nikah biar papa dapat warisan? Pa...? Sehat?"


"Alhamdulillah sehat semua kok, lagian Mama juga udah liat orangnya, ganteng, mapan, cocoklah sama kamu." Tambah Thifa satu kubu dengan suaminya.


"Serius ga ada yang di pihak Reya nih?" Reya mengedarkan pandangannya.


"Kalo itu pilihan Paman Nathan, Paman rasa dia orang yang baik untuk Reya. Cobalah untuk menikah dengannya." Timpal Tara.


"Paman, ini pernikahan bukan permainan yang di coba-coba. Orang menikah karna saling mencintai."


"Ekhm!" Deheman Liz mengalihkan seluruh perhatian orang di sana. "Ada yang menikah dulu, baru saling cinta, Kak!"


"Dan contohnya ada di sini." Tambah Anna menunjuk Liz.


Siapapun! Tolong bela Alreya, kasihan sekali perempuan cantik satu ini. Kenapa ga ada satu orang pun yang berada di pihaknya.


"Apa Alreya minggat aja ya?" Gadis itu memijit keningnya frustasi. Jahat! Sungguh jahat sekali orang-oranh itu, melukai perasaan Alreya yang polos! Begitulah ekspresi Alreya saat ini.


"Ya boleh juga usul--" Ucapan Anna terhenti, tatapannya terpaku pada sosok yang berlumuran darah tak jauh dari mereka. Anna diam, dia hanya memandangi dia, pria itu! Pria itu adalah Vin yang sedang berlumuran darah.


Liz yang melihat Anna, mengikuti tatapannya, dan pandangan ibu hamil itu jatuh pada sosok mengerikan terbalut darah.


"Vin?!" Teriak Liz mengejutkan semua orang. Semua pandang mata tertuju pada Vin, dengan cepat Arfen dan Tara berlari membantunya. Tara langsung memeriksa luka-luka Vin.


"Devan?! Dimana Devan?!" Teriak Liz histeris, kepalanya terasa berat, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Kaki Liz tidak sanggup lagi menopang badannya, hingga perempuan itu jatuh pingsan. Syukurlah ada Alreya yang sigap menangkap adik iparnya.


...***...


Beberapa jam sudah berlalu, dengan perlahan Liz membuka matanya. Awalnya dia berniat begitu, tapi mendadak dia takut untuk bangun dan membuka matanya. Dia masih mengingat dengan jelas penampilan Vin yang berlumuran darah tadi.


Tidak! Sungguh Liz tidak siap menerima berita buruk apapun soal Devan. Kasihani lah wanita yang tengah mengandung ini. Liz takut jika dia membuka matanya, dia mendengar cerita yang paling tidak ingin di dengarnya.


Tangan Liz gemetar dia sadar, dia bahkan hampir menggigit lidahnya sendiri.

__ADS_1


Cup!


Satu kecupan ringan di hadiahkan seseorang tepat di bibir mungil wanita itu. Liz merasakan perasaan yang begitu familiar.


"Kamu udah bangun kan? Kenapa ga buka mata? Kamu ga mau menyambut suami mu ini? Suami mu baru pulang loh sayang."


Suara itu, suara yang amat sangat Liz kenal. Dengan cepat Liz membuka matanya dia memeluk pria tegap yang kini ada di hadapannya. Pelukan hangat dan penuh kerinduan.


"Devan, kamu ga papa? Ada luka?"


Devan menggeleng dengan senyuman tipis. "Aku gapapa, ga ada luka, kan aku jago." katanya enteng.


"Tapi Vin? Gimana keadaan Vin? Alien itu punya banyak luka, dia berdarah!"


"Ekhm" deheman Vin membuat perhatian Liz langsung tertuju padanya.


"Vin?!"


"Saya baik-baik saja Nyonya, cuma luka kecil. Darah itu bukan darah saya, pokoknya begitu." jelas Vin dengan singkat.


Liz menghela napasnya dengan lega. "Sykurlah."


"Yang harus kau khawatirkan itu kakak, kau ga tau aja gimana jantung kakak hampir keluar dari mulut waktu liat kamu pingsan. Dede ipar udah berbadan dua, tolong lebih perhatikan lagi." Sambung Alreya memenangi jantungnya. Kali ini Alreya tidak berbohong loh. Dia sungguh-sungguh mengkhawatirkan adik iparnya.


"Itu benar Liz, jangan seperti itu lagi. Aku nyaris gila."


"Iya, maafkan aku. Dan--"


"Selamat ya Liz! Aku denger kamu hamil! Yeah, aku bakal jadi bibi!"


Liz tentu sangat familiar dengan suara yang terkesan hangat ini.


"Vasa?! Kamu...?!" Liz memeluk Vasa dengan erat. "Aku merindukan mu! Bagaimana keadaan mu? Dan siapa yang menculik mu?!"


Vasa melepas pelukannya. Dia menarik napasnya perlahan. "Intinya aku di culik sama psikopat. Tapi, alasannya bukan karna dia mau siksa aku, tapi karna dia cinta aku. Dia bakal turutin segala kemauan aku sih, dan aku senang dia jatuh cinta, cuma caranya mengerikan, bikin merinding, gak ada romantis-romantisnya. Da--"


Devan menarik Vasa menjauh. "Ya, pokoknya intinya gitu deh. Nah, kalian semua sekarang keluar, Liz udah baik-baik aja. Liz, kamu bisa dengerin lanjutan ceritanya besok, sekarang ayo tidur, ini udah malem, ga baik buat kesehatan mu."


"Iya, Mama bakal temenin Liz."


"18 hari, 14 jam, 27 menit Devan udah berpisah sama Liz, dan Mama ga tau aja gimana susahnya Devan buat tidur. Jadi sekarang, Devan mau tidur bareng Liz. Semuanya keluar."


"Ya deh ya,"


Akhirnya setelah beberapa percakapan unfaedah yang terjadi, mereka semua keluar, meninggalkan Liz dan Devan sendirian di dalam sana. Devan dengan cepat memeluk istrinya, menenggelamkan wajahnya di leher putih mulus itu.


"Aku mencintai mu Liz...!"


"Terima kasih Devan, terima kasih sudah menyelamatkan Vasa."

__ADS_1


Devan mendongak menatap wajah Liz. "Hanya itu?"


Liz mengingat kembali betapa dia sangat merindukan Devan selama ini, betapa sulitnya menghadapi kesepiannya.


"Terima kasih sudah hadir dalam kehidupan ku! Terima kasih mau menerima tawaran pernikahan kontrak ku! Dan terima kasih, telah menderita demi dendam ku! Serta Terima kasih karena selalu ada di sisiku, dan kedepannya, selamanya tetaplah menjadi suamiku. Aku bakal bilang ini, walau ini egois! Jadikan aku satu-satunya istrimu, di sini ataupun di akhirat nanti. Bahkan jika aku mati! Jangan! Jangan menikah lagi!" Liz dengan susah payah mengatakan itu, wajahnya kini penuh air mata.


Devan hanya menatap Liz, tatapannya begitu bermakna. Tidak! Devan tidak bisa berkata-kata. Ucapan Liz terlalu mengejutkan hatinya, jiwanya tidak bisa menerima guncangan kebahagiaan level max secara mendadak.


Sedangkan Liz yang bingung, demi memecahkan keheningan yang sekarang tengah tercipta, dia mencium Devan, semakin lama semakin hangat dan dalam.


Devan meneteskan air mata tanpa dia sadari. "Aku janji, kamu bakal jadi satu-satunya istri ku, apapun yang terjadi." Devan menyambut ciuman itu lebih dalam lagi.


Kedua tubuh yang kian panas itu mulai melakukan hubungan yang intim.



"Aku dengar kamu udah berdamai sama Ayah dan Mama?"


Pertanyaan itu Devan lontarkan setelah mereka menghabiskan beberapa jam panas dengan mengungkapkan kerinduan melalui tubuh.


"Iya, dan sekarang..., aku jadi lebih lega." Liz memegang dadanya. Perasaannya benar-benar damai, dia harap dia akan terus merasakan perasaan ini selamanya.


"Oh ya, aku lupa bilang...!"


"Apa?"


Devan menghujani wajah Liz dengan kecupan ringan. "Terima kasih karena telah menandatangani pernikahan kontrak kita. Terima kasih..., terima kasih udah bertahan selama ini agar bisa menjadi istri ku. Terima kasih!" Devan menempelkan keningnya pada istrinya.


"Benar, kamu harus berterima kasih ke aku! Karna aku juga bakal segera jadi ibu dari anak-anak mu!"


...[END]...


...Terima kasih author ucapkan untuk kalian yang masih setia membaca Novel ini. Meskipun banyak banget kendalanya, mulai dari banyaknya typo, dan semacamnya. Khususnya updatenya lama bangett. TwT...


...Author juga udah memaksimalkan buat bisa selesaiin ini Novel. Pokoknya makasih banget banget banget buat yang setia baca sampai akhir. ...


...Maafin kekurangan author kalau ceritanya ada menyinggung kalian, hiks. ...


Makasih semuanya! Sampai jumpa di Novel author berikutnya.


Shiren: Thor, Novel berikutnya? Novel gue kan? Jangan bilang ga deh. Ponakan udah pada nikah dan mau punya Anak. Bibinya tamat SMA juga belum. What the happen?


Author: ... //Run//


Dada semuanya~


Oh ya, Novel ini masih ada side storynya loh! Tungguin ya, penasaran kan gimana reaksi Devan waktu Liz ngidam? Kira-kira Liz ngidam apa? Terus anaknya gimana? Cewek atau cowok ya?


Oh ya? Ada yang penasaran sama Vasa dan Psikopat gila? apa di jadikan side story aja?

__ADS_1


Vin dan Anna juga? (Kasihan Vin, Anna minta di getok pake panci palanya, songong amat)


__ADS_2