Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Vasa hilang!


__ADS_3

...***...


Sudah satu bulan berlalu, dan semua hari-hari yang berjalan tidak seperti yang Liz inginkan, tidak ada satupun rencananya yang berhasil.


Dia yang awalnya ingin menjebak Tara dan Thifa, malah merasa aneh.


Entah kenapa, atau perasaan ku aja Tara semakin menempel pada ku? Bukannya Thifa. Thifa juga gitu, rasanya dia selalu ada kemanapun aku pergi di sudut rumah ini.


Bagaimana Liz tidak menyadarinya. Tara hampir setiap hari datang menemuinya, jika Liz tidak mau makan dengannya dia malah langsung pulang dan tidak mengobrol dengan Thifa.


Padahal aku menolaknya agar dia bisa ngobrol bareng Thifa.


Bukannya menyambut Tara, tapi Thifa malah sibuk mengajak ku minum teh bersama. Ini melelahkan, kenapa dengan mereka? Tiba-tiba begitu?


Liz melemparkan badan mungilnya di kasur besar bersprei itu.


"Jangan gitu Liz, aku baru pakai kemeja rapi mau ke kantor." Kata Devan merapikan berkas-berkasnya.


"Emangnya aku ngapain?" Liz melirik heran. Dia kembali menatap dirinya, apa salahnya? Yang Liz lakukan kan hanya tidur.


"Berpose mungil gitu, gak tau kah kamu betapa itu menggoda iman?"


"Devano Arkasa udah gila. Padahal orang cuma baringan doang." Kata Liz semakin berani, dia akhir-akhir ini sudah jarang berakting manis di depan Devan.


"Oh, udah berani ya." Devan melemparkan segala berkasnya dan berjalan ke sebelah istrinya.


Seketika Liz langsung bangkit duduk, dia menampilkan senyuman andalannya di depan Devan. "Aku bakal siapin sarapan dulu!!" Teriak Liz sambil berlari ke luar kamar.


"Pppfffttt." Devan tertawa kecil, tak pernah terbayang di kepalanya sebelumnya, bahwa dia akan merasakan indahnya kehidupan pernikahan yang hangat ini.


Liz menghela napasnya, setelah bertengkar kecil dengan para pelayan di sini karna kali ini Liz sendiri ingin membantu menyiapkan sarapan.


"Hah~ Devan, bisa-bisanya dia punya tatapan gitu pagi-pagi kini. Apa dia ga tau pinggang orang hampir patah." Mengingat kejadian kemarin malam kembali membuat pinggang Liz berdenyut.


Sepertinya Liz tidak sadar bahwa dia mengatakan itu dengan menggumam, karna tanpa dia sadari wajah dua pelayan di sekitarnya sudah merona malu.


Tring!!

__ADS_1


Suara ponsel itu mengalihkan perhatian Liz. Semangatnya kembali tatkala melihat nama sang pemanggil.


Anna?


Liz langsung pergi ke halaman belakang, tempat yang sunyi untuk pagi hari begini.


"Ada apa Ann?"


"Vasa ilang! Udah dari seminggu yang lalu." Kata Anna cepat langsung ke intinya.


"Tunggu, kok bisa? Terus kenapa kamu baru kasih tau aku sekarang?"


"Karna aku butuh kepastian, aku pikir Vasa cuma keluar karna ada kerpeluan. Ini cuma perkiraan ku, tapi kayaknya ini ada hubungannya sama tragedi penculikan kita semua pas masih kecil."


Secara refleks Liz langsung memegang rahangnya. Karna tragedi penculikan itu membuat benturan pada rahang Liz, hingga meninggalkan kenangan yang begitu menyakitkan, dan tak bisa Liz lupakan.


"Tujuannya apa?"


"Gak tau, cuma..., kamu tenang aja dulu di sana. Aku bakal usaha keras nyari Vasa. Dan jangan lakuin apa-apa sampai aku kasih kabar. Rencana balas dendamnya, berhentiin aja buat sementara. Ngerti?"


"Firlizy!!" Bentak Anna dari sebrang sana. "Sorry Liz, aku ga mau ngomong kasar tapi ini demi kebaikan kita semua, tetap tenang, kamu juga jangan keluar rumah, pura-pura ga ada kejadian apa-apa. Aku ngerti kamu pasti khawatir banget sama Vasa, aku tau betapa berharganya aku dan Vasa."


"Terus kalau tau kenapa masih mau aku gak ikut campur? Ap--"


"Aku tau, kamu pasti kesel banget karna ga bisa bantuin nyari Vasa. Tapi coba dengerin aku, sekali ini aja. Ini demi kebaikan kita semua. Karna dengan kamu diam kayak gini untuk sementara, itu jadi bantuan yang paling Vasa butuhin sekarang, oke?"


Anna langsung dengan cepat mematikan ponselnya, tanpa mendengar penjelasan apa-apa dari Liz.


Liz terduduk seketika. Air matanya mengalir begitu saja, dia kembali mengingat tragedi penculikan mereka, saat masih kecil. Dan Vasa mengalami trauma berat karna itu, gadis berwajah kalem itu kini tidak tau entah dimana keberadaannya.


Sekarang apa?


Liz merasa tidak tenang, dia memikirkan perkataan Anna yang terdengar sangat tidak masuk akal. Padahal sejak dulu mereka selalu melewati susah senang bersama, entah itu dalam hal apapun. Tapi sekarang, Liz malah di minta diam saja.


Ada rasa tidak nyaman di hati Liz ingin sekali kembali ke sana sekarang, dan mendengar langsung penjelasan Anna.


"Liz!!" Devan langsung berlari seketika, saat dia melihat istrinya sedang terduduk lemas dengan banyak air mata yang membasahi wajahnya.

__ADS_1


Kepala Devan langsung panas, ada perasaan berkecamuk di dalam dadanya, rasa sesak itu memenuhi dadanya, dia ingin melampiaskannya dengan apa saja.


Liz tidak peduli lagi mau Devan curiga atau tidak, yang dia butuhkan saat ini adalah tempat bersandar. Liz memeluk Devan, menumpah ruahkan air matanya di sana.


Devan sedang mengatur emosinya sendiri sekarang, dengan sumpah serapah dan sejuta pemikiran siksaan untuk orang yang menyebabkan Liz seperti ini. Dengan lembut Devan terus menepuk kepala gadis itu.


Mendengar teriakan Devan, anggota keluarga yang lain juga datang, namun dengan isyarat mata dari Devan meminta semua pergi, mereka pergi. Kecuali Thifa yang masih berdiri memandangi Liz.


Arfen dan Reya segera menarik Thifa, meninggalkan mereka berdua. Tampak mata Thifa begitu sendu.


Beberapa menit sudah berlalu, dan akhirnya Liz sudah sedikit lebih tenang.


"Sayang? Ada apa? Siapa penyebabnya?" Devan menatap mata Liz serius, mata garang yang memberikan rasa perlindungan.


Liz diam, dia bingung harus menceritakannya atau tidak. Padahal dulu, dia hanya perlu mengarang cerita dan mengatakan tidak apa-apa. Tapi sekarang, sulit sekali untuk berbohong pada Devan, bibirnya tidak mau mengatakan apapun.


Liz hanya diam, dia menatap Devan sendu, lalu kembali memeluk Devan. Isakan tangisnya membuat Devan tidak berani untuk bertanya lagi.


"Okay, tenangin diri dulu."


Masih pagi, tapi Liz sudah sangat lelah. Dia tertidur di dalam pelukan Devan. Rapat yang pagi ini harusnya masuk dalam kategori penting, mendadak menjadi tidak penting.


Tara yang baru datang menerobos masuk, tampak keringat men mengucur deras dari wajahnya.


"Dimana Liz?! Kenapa dia nangis?!"


"Paman bukannya kerja ya?" tanya Reya memperhatikan Tara dari atas sampai bawah.


"Abis meriksa pasien, Paman langsung ke sini karna dapat kabar dari Thifa. Jadi, Liz kenapa?"


Reya mengedikkan bahunya santai. "Lagi sama Devan, di halaman belakang, Liz nangis kejer." Sahut Reya enteng.


Tara ingin berlari kesana namun di halangi oleh Arfen. "Nanti aja, paling sebentar lagi mereka keluar. Tenang aja, gimanapun juga sekarang Liz udah jadi keluarga Arkasa." Arfen mendekatkan wajahnya pada Tara, dia membisikkan suatu hal. "Jadi tenang aja, lagipula putri mu kan juga putriku."


Tara tersentak kaget!


...***...

__ADS_1


__ADS_2