Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Kecurigaan Tara!


__ADS_3

...***...


Setelah Liz menjauh dan hilang dari pandang, Tara dudu di sebrang Thifa.


"Mau teh atau kopi?"


Tara menggeleng. "Aku cuma mau sebentar di sini, cuma mau nanya. Apa ada yang aneh terjadi akhir-akhir ini?"


Karna Liz udah masuk ke dalam rumah ini, pasti dia udah mulai menyusun rencananya. Kalau dia balas dendam pada Thifa atau yang lainnya, dia salah sasaran. Dia salah, dan sebagai Ayahnya aku harus menghentikannya. Tapi kalau dia balas dendam padaku, itu benar dan akan aku terima dengan senyuman.


Thifa menggeleng. "Semuanya baik-baik saja kecuali mood Reya karna dia menolak perjodohan."


"Oh gitu, apa ada yang aneh sama perilaku Liz?"


Tampak Thifa diam menatap aneh Tara.


Apa ini pertanyaan yang terlalu aneh?


"Aku tau Tara adalah walinya, tapi kenapa rasanya kamu terlalu ingin tau soal Liz, bahkan sudah seminggu ini kanu terus bertanya soal Liz pada Arfen."


Tara diam, dia tau ini sudah melewati batas. "Bukan apa-apa, aku hanya khawatir dia sulit beradaptasi di sini. Kau kan yang bilang aku walinya, jadi aku peduli padanya."


Karna dia putri berharga ku.


Thifa menghela nafasnya. "Sejujurnya gak ada perilaku yang bisa di bilang aneh soal Liz. Tapi entah kenapa aku merasa dia selalu menjaga jarak? Seolah-olah dia ga mau akrab dengan ku. Terkadang, tatapannya juga membuat ku merinding."


Tara tidak terkejut, perilaku ini adalah salah satu yang sudah Tara perkirakan.


"Mungkin itu hanya perasaan mu. Kalau gitu aku pulang dulu."


Gimana caranya agar Liz tau kalau semua kesalahan di masa lalu hanyalah salah ku, cuma aku yang bersalah.


Tara mengacak rambutnya frustrasi. Dia tidak pernah berfikir bahwa anaknya akan membencinya, karna mimpi Tara setelah dia menemukan keluarganya, dia akan menghujaninya dengan cinta yang sangat besar. Namun Liz sudah melancarkan panah kebenciannya lebih dulu.


Saat punggung Tara sudah hilang dari pandangan, Thifa juga merasa aneh. Dia mengambil hadiah yang Liz berikan atas nama Reya tadi. Sebuah baju yang indah.


Thifa tersenyum lega.


Liz lucu juga. Pilihannya manis banget, soalnya ga mungkin Reya bisa milih jenis ini.


Thifa berjalan ke kamar Reya untuk memastikannya, dan benar saja Reya bilang bahwa dia tidak membeli apa-apa untuk Thifa, karena marah cardnya terblok.

__ADS_1


Jadi yang milihin beneran Liz?


Sekali lagi senyuman hangat Thifa muncul.


Mungkin kami beneran bisa sangat akrab seperti ibu dan anak kandung?


...***...


Jangan mimpi! Selamanya aku membenci kalian.


Pikiran-pikiran antara benci dan cinta itu mulai berkecamuk di dalam Liz. Dia tidak tega untuk melukai Thifa, dia juga tidak tau entah kenapa begitu.


Kayaknya kalo pake cara fisik ga bisa. Terus gimana caranya? Ah bener, mental. Bukannya Thifa cinta sama Arfen? Dan kedua anaknya percaya pada Mamanya? Pasti buat scandal antara Tara dan Thifa jadi lebih seru, dan semuanya akan terluka. Pasti rasanya sakit banget waktu Arfen bilang benci sama Thifa, seru juga.


Ide bagus, aku bakal diskusiin detail rencana pada Anna dan Vasa nanti.


Tring!


Nada dering mengesalkan itu terus mengganggu Liz, dia sangat kesal, padahal dia sedang menyusun rencana sempurna.


"Siapa sih? Rese banget!"


Thifa menatap nama pemanggil itu.


"Iya ada apa senior Ken?"


"Liz, ada berita baik. Apa kau mau jadi protagonis wanita di satu drama yang sama dengan ku?" Terdengar suara Ken begitu antusias.


"Entah kenapa akhir-akhir ini saya lebih suka menjadi antagonis, kalau bisa yang punya niat balas dendam."


Soalnya aku sedang menjiwainya dengan sempurna saat ini.


"Ah, kalau begitu kau akan menjadi musuh ku? Dan aku tidak suka. Jadi, bagaimana kalau tetap menjadi protagonis wanita?"


"Karakter pendukung aja, aku lagi gak mau jadi main character. Bisa kan Senior?"


Terdengar helaan nafas panjang dari sebrang telepon. "Baiklah, nanti akan aku kabari lagi, oh ya Li--"


Tiba-tiba ada yang menarik Hp Liz.


"Berhentilah menghubungi istri orang lain, ada puluhan Negara, dan ratusan juta wanita, kenapa harus istri orang yang kau goda? Berhentilah sebelum aku menghancurkan karir mu." Devan langsung mematikan telepon itu dengan cepat. Tampak wajahnya berkeringat dan kesal.

__ADS_1


Fiks, aku ga jadi kerja lagi. Mau itu protagonis, antagonis, ataupun karakter yang cuma lewat-lewat doang, Devan pasti ga bakal izinin.


Devan menatap Liz lekat. "Apa ini?"


"Mau menuduh ku selingkuh?" Pekik Liz sebelum Devan mulai melayangkan pertanyaan anehnya.


" Dua atau tiga? Ah bukan, lima card juga akan aku berikan tapi jangan pernah be--"


"Aku sudah menolaknya loh, teganya suami ku ini menuduh istrinya yang setia ini bertindak yang tidak-tidak." Liz mengusap air mata di ekor matanya. Liz terduduk di bibir tempat tidurnya.


Devan langsung berlutut di hadapan wanita itu. "Maaf..., aku gak maksud gitu. Jadi, kau gak akan bekerja?"


Liz menggeleng. "Tidak akan bekerja selama suami ku masih kaya."


"Baguslah, kau memang istri yang pengertian." Devan langsung naik ke tempat tidur, berbaring nyaman di pangkuan istrinya.


"Liz, apa kau akan marah kalau aku meminta mu menghapus dan bahkan memblok nomor Artis sialan itu?"


Liz mengambil ponselnya, dia memberikannya pada Devan. "Blok aja, namanya senior Ken." Jawab Liz enteng.


Toh dia udah ga berguna sih, sekarang aku ga ada niatan buat nyakitin Devan, mungkin juga ga ada niatan buat cerai. Jadi aku ga butuh Ken lagi.


Liz memijat perlahan kening pria itu. Devan tersenyum menyeringai senang. Dia dengan senandung rianya menghapus nomor Ken dari ponsel istrinya.


"Satu lalat sudah tersingkirkan."


"Ya, daripada tiap hari nanti kita ribut gara-gara itu, mending selesaiin masalahnya langsung dari akarnya."


"Apa kau berfikir aku terlalu mengekang mu? Terlalu posesif pada mu?"


Liz menatap Devan serius. "Mau bagaimana lagi, ini kan memang sifat dasar suami ku. Mau ga mau aku harus menerimanya."


"Ya itu benar sekali. Ngomong-ngomong apa pinggang mu masih sakit? Ah, mengingat kau yang semangat berbelanja dengan Reya, kayaknya udah sembuh." Devan mulai bangkit, dia mendorong tubuh istrinya sampai tergeletak. Tangannya langsung masuk ke dalam piama Liz.


"Tu-tunggu Devan! Kau tau aku habis belanja? Aku cape, mau istirahat?"


"Benarkah?" Devan sama sekali tidak mendengarkannya. Dia menghujani wajah Liz dengan kecupan panasnya.


~


~

__ADS_1


~


"Laki-laki atau perempuan?" Devan menatap Liz senang. Wajah Liz langsung memerah, keduanya melanjutkan malam panas yang bergairah~


__ADS_2