Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Telepon!


__ADS_3

"Hai Liz, lama tidak ketemu. Apa kabar?" Tanya Ken, seperti biasa menyapa dengan ramah tamah.


Sayang sekali saat ini Liz sudah berbeda, dia tidak tertarik lagi untuk berakting pura-pura ramah di depan semua orang, apalagi dia sudah tidak berminat menjadi artis, jadi jaga image sudah tidak di perlukan.


"Hai senior, aku baik, tapi saat ini aku sedang sibuk, jadi bisa minggir? Aku ingin bertemu suami ku." Jangan salahkan Liz, dia dalam suasana hati yang buruk saat ini.


Ken terkejut, dia seperti melihat kepribadian lain dalam tubuh wanita yang di cintainya ini. Banyak terkaan muncul di kepalanya. Dan tentu saja, dia selalu mengaitkan hal buruk dengan Devan.


"Ada apa Liz? Kau sakit? Kau kelihatan tidak baik-baik aja? Apa Devan melukai mu? Apa dia menyakiti mu, dia selingkuh?" pertanyaan beruntun itu sukes membuat Ken mendapat lirikan tajam dari Liz.


"Boleh ku pukul dia?" Potong Anna dengan cepat. Sempurna sekali, karna pria seperti Ken adalah tipe pria yang paling Anna benci. "Padahal sudah tau Liz telah menikah, kalau memang suka pendam saja, jangam rusak rumah tangga orang lain."


"Oh? Kau? Sekretaris Devan kan? Kau sudah menghasut Liz kan? Ah, aku mengerti, karna itu Liz ku yang polos dan baik, jadi pemarah karna kau."


"Sudah cukup omong kosong mu senior, aku sedang sibuk. Jika kau manusia yang bisa mendengar, aku katakan sekali lagi, tolong minggir. Aku tidak dalam suasana hati yang baik, sampai ingin bermain-main dengan mu. Ayo An!" Liz menarik tangan Anna cepat.


"Liz tunggu, dengarkan aku dulu, aku bisa membantu mu." Ken menahan tangan Liz. Namun dengan cepat Liz menepis kasar tangan itu.


"Aku tidak membutuhkan bantuan mu, senior Ken! Pergilah dari sini."


"Liz, a--"


"Devan!!" Liz melihat Devan berjalan mendekat, wanita mungil itu langsung berlari memeluk suaminya.


Anna hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Devan saat melihat Liz berlari. Anna tau, Devan sangat khawatir akan kandungan Liz, tapi sungguh, ekpresi Devan yang tidak sesuai dengan wajahnya itu benar-benar mengocok perut.


"Liz, hati-hati, bagaimana kalau kau jatuh? Ingat, kau juga sekarang membawa anak kita. Lebih berhati-hatilah lagi."


"Ma-maafkan aku, ada hal penting yang harus aku sampaikan."


"Apapun itu, kau cukup menelpon ku saja, dan aku akan pulang. Lain kali jangan keluar sembarangan ya, apalagi di cuaca panas seperti ini, kasihan kau dan anak kita. Lelah kan membawanya kemana-mana?" Devan dengan sigap menggandeng Liz kembali masuk dalam kantor.


Tapi sebelum itu, dia meninggalkan lirikan tajamnya pada Vin. "Interogasi kenapa lalat-lalat sialan ini, ada di depan kantor ku. Dan beraninya dia menyentuh tangan berharga istri ku."

__ADS_1


"Baik tuan muda, saya mengerti."


Anna ingin mengikuti jalannya Liz dan Devan. Namun, tangannya sudah di genggam oleh Vin lebih dulu.


"Kita harus bicara, tapi sebelum itu, tunggu aku bereskan lalat sialan ini."


Anna memiringkan kepalanya menatap Vin. "Harusnya kau bertindak begini di depan Liz,  kau tau? Liz bahkan lebih percaya tom and jerry berdamai daripada kalimat kau jatuh cinta."


"Ternyata dugaan ku benar, Liz menikah dengan Devan karna sudah mengandung anaknya. Tidak apa-apa, ini adalah kondisi yang sudah aku pikirkan. Aku hanya perlu menerima anak itu, dan mencintai Liz juga memiliki anak dengannya. Aku akan menerima apapun ke adaan Liz." Gumam Ken menatap punggunh Liz dan Devan yang kian menjauh.


Prok!!


"Halo! Liz juga ga akan menerima mu bahkan kalau kau itu sempurna tanpa kekurangan!" Anna sungguh tidak habis pikir. Dari sisi otaknya yang mana dia berfikir Liz akan menerima dirinya.


"Ck, pengganggu." Vin langsung menyeret Ken keluar dari gerbang, dia memanggil beberapa bawahannya untuk menahan Ken selama beberapa waktu sampai dia berbicara dengan Anna sebentar.


"Aku akan ke sebuah tempat, tempat itu mungkin memiliki petunjuk untuk menemukan teman mu."


Jantung Vin berdegub lebih kencang dari biasanya. Ayolah, Anna itu jahat sekali. Bagaimana dia bisa bertanya blak-blakan tanpa perasaan begitu. Pikirkanlah Vin, dia sulit menjawabnya.


"Aku rasa begitu."


"Okay, dan kau ingin wanita berharga yang kau sukai ini ikut dalam bahaya?"


"Bukan begitu!" ****! Vin jangan bucin, semua bakal aneh kalau sudah bucin. Devan bak es, Vin bak Alien, semua bakal bertindak menggelikan kalau sudah bucin.


"Ah, virus cinta itu benar-benar mengerikan, leher ku geli dan badan ku merinding." Gumam Anna pelan.


"Kau bilang apa?"


"Ga ada!" Anna menggeleng cepat. "Jadi tempat itu gak berbahaya, dan kau ngajak aku cuma modus karna ingin kencan dengan ku?"


Vin diam, tapi pipinya sedikit memerah.

__ADS_1


****, kembalikan Vin ku yang robot. Bukannya aku ga suka sama perubahannya, tapi ini cukup menggelikan. Ya, walau dia kelihatan manis memang.


Anna mencoba menahan senyumnya. "Kalau gitu bilang dong, aku ga mau kencan sama kamu, sebelum Vasa di temukan. Jadi, kalo mau kencan, temuin Vasa dulu!"


"Aku mengerti."


...***...


"Jadi ada nomor ga dikenal telpon kamu, dan mendadak nomor itu ga bisa di hubungi, dan kamu pikir itu Vasa yang mencoba menghubungi kamu? Iya, sayang?" Devan bertanya pada istri mungilnya yang saat ini sedang duduk di pangkuannya.


"Iya, aku pikir gitu. "


"Sebenernya aku udah dapat petunjuk soal Vasa. Dan rencananya besok aku bakal tinjau langsung lokasinya."


"Aku ikut!"


Devan mengecup pucuk kepala istrinya. "Karna ini lah, aku ga kasih tau kamu. Liz, jangan ikut. Kau tau, aku gila kalau kau ga ada kan? Apalagi saat ini anak kita masih sangat kecil di dalam sini."


"Tapi..., Vasa!"


"Ada aku, Ayah, Papa, Vin, kami semua bakal selamatkan dia. Semuanya bakal baik-baik aja, ngerti?"


...***...


Beberapa hari sudah berlalu sejak kepergian Devan dan Vin meninjau wilayah itu. Pada akhirnya, baik Anna maupun Liz tidak ada yang ikut kesana.


Hubungan Tara dan Liz semakin baik, setidaknya Liz akan mengucapkan satu kalimat sebelum Tara pergi. Dan Liz juga sudah cukup sering bertanya soal kehamilan pada Thifa lagi.


Kekhawatiran soal Vasa sedikit berkurang karna dia yakin Vasa akan kembali, dan Anna bilang juga Vasa akan baik-baik saja. Tapi sayang sekali, ketenangan itu jarang sekali mampir dalam kehidupan Liz. Saat ini masalah sudah datang ke depannya, dalam bentuk kakak iparnya yang cantik.


"Jadi, gimana rencananya biar aku batal tunangan?" Kata Alreya menatap serius Anna dan adik iparnya.


Luar biasa, berkat pertemuan tidak biasa sore itu, pria itu memutuskan untuk setuju menikah dengan Alreya. Celakalah hidup Alreya!

__ADS_1


__ADS_2