
...***...
Devan sudah membukakan pintu untuk istri mungil tercintanya, bahkan dia sama sekali tidak melepas genggaman nya. Bagi Devan saat ini, dia masih harus menjaga istri kecilnya dengan sangat baik. Jaga-jaga kalau ada hasil buah hati mereka. Entahlah, padahal kebenerannya saja belum di pastikan.
Genggaman tangan ini? Devan...
Memang sulit untuk Liz mengakuinya, tapi fakatanya dia menyukai genggaman tangan itu. Jadi, Liz tidak akan menolaknya.
Kalau Devan bukan anak angkatnya Tara, apa yang bakal terjadi ya?
"Tuan muda, nona muda, selamat datang, oh ya, ada tamu." Kata Viona menyambut keduanya dengan hangat.
Devan sedikit mengernyitkan dahinya, wajahnya tampak aneh, seolah bilang. 'Siapa yang berani mengganggu di malam-malam begini.
"Sayang, wajah mu keliatan banget loh ga sukanya." sindir Liz.
"Mau bagaimana lagi, aku memang gak suka. Lagipupa, siapa yang bertamu di malam-malam begini. Ck." Devan berdecak kesal, namun dia tetap melangkah sembari menggenggam Liz.
"Ada urusan apa?" Tanya Devan dingin, yang hanya bisa menatap punggung pria itu. Pria itu berbalik.
"Ayah tau kita jarang bertemu, tapi bukan berarti kalau Ayah berkunjung, kau bisa menyambutnya dengan nada dingin seperti itu, seolah Ayah adalah kecoa yang masuk di rumah mu."
"Ayah!" Pekik Devan, dia langsung memeluk Ayah angkat kesayangannya itu. Ayah yang sudah ia anggap seperti papa kandungnya kan? Tara tersenyum hangat dan mulai membalas pelukan putra semata wayangnya.
Tara? Si sialan ini? Mau apa datang ke sini? Padahal tadi mood ku lagi bagus-bagusnya, sekarang malah hancur lebur, ya Tara kau memang pengacau!
"Bagaimana Ayah? Apa Ayah sudah menemukan dia dan anak mu yang hilang?"
Bagaimana mau menemukan, dia bahkan gak pernah mencarinya, ya, gak pernah di cari, dari dulu dan sekarang.
Batin Liz, yang hanya mampu membatin, tanpa bisa mengeluarkan suara apa-apa.
"Mau bagaimana lagi, takdir belum mengizinkan kami bertemu."
__ADS_1
Bertemu? Bertemu bagaimana menurut mu? Ibu ku sudah di akhirat! Kalau kau ingin bertemu, mati sana!
Liz menatap Tara dengan tajam, namun saat Tara melihatnya, Liz sudah mengganti ekspresi wajahnya menjadi sangat ramah dan bersahabat.
"Firlizy? Apa kabar, Nak?"
Liz menyalam tangan Tara sopan. "Baik A-yah."
Tara mengusap rambut wanita itu dengan lembut dan hangat. "Baguslah, aku pikir kau sedang tidak baik-baik saja."
"Selama aku masih memiliki Devan, semuanya masih baik-baik saja."
"Ya kalau gitu, ayo kembali duduk. Berdiri terlalu lama gak baik buat kesehatan." Devan memapah Liz untuk duduk, begitu juga Tara yang ikut duduk di depan pasangan suami istri muda itu.
"Oh ya Liz, apa ada sesuatu hal yang ingin kau tanyakan? Atau kau sampaikan pada ku? Atau apa kau punya masalah?" Tanya Tara, Liz sedikit tertegun, dia tidak mengerti mengapa Tara tiba-tiba berbicara begini.
"E-eh? Engga kok, gak ada. Aku ga punya masalah selain skandal kemarin, lagian masalah itu kan juga udah di selesaikan Devan. Jadi gak ada masalah lagi." Liz sedikit bingung namun dia mencoba untuk tetap tenang seperti biasanya.
"Ada apa? Kenapa Ayah mendadak bertanya seperti itu? Ada aky di sini, dia akan baik-baik saja."
"Bukan begitu maksud Ayah. Yang Ayah maksud adalah, sebentar lagi acara resepsi besar-besaran untuk kelian berdua. Tapi, Ayah tidak mendengar kabar dari pihak keluarga Liz." Tara menatap Liz hangat.
"Ibu Liz kan udah meninggal, Ayah Liz juga ga tau kemana, Liz ga punya saudara, sebatang kara, jadi ga punya keluarga."
"Tenang aja, sebentar lagi punya." Tambah Devan.
"Tapi anda tenang saja, soal perwakilan dari keluarga ku, aku udah punya manajer ku, dan oh ya Devan! Biarkan Anna di pihak ku ya?"
"Bawa siapapun yang ingin kau bawa."
"Karna itu, Ayah ada sedikit usul. Bagaimana jika dari pihak Liz, biar Ayah saja yang mewakili. Ayah yang akan menjadi walinya Liz." Usul Tara terang-terangan.
Uhuk!! Hampir saja Liz tersedak oleh ludahnya sendiri. Dia tidak salah dengar kan? Tara ingin menjadi wali nya sebagai Ayahnya? Untuk apa wali, Tara itu benar-benar Ayah kandung Liz!
__ADS_1
"E-eh tapi, bagaimana pun juga kan, Ayah tetap harus di pihak Devan."
Ogah! Gak mau! Siapa juga yang mau orang seperti mu jadi wali ku! Gak mau aku gak sudi! Pergi jauh-jauh sana!
"Kalau di pikir-pikir, usul Ayah ini ada benarnya juga. Liz, Nana dan Anna saja gak cukup. Biar Ayah Tara jadi wali mu, oke?" Devan menatap Liz hangat,
Deg deg deg
Jantung Liz berdegub sangat kencang, entah Devan sadar atau tidak.
Ya udah lah, bodoamat, toh pas acara itu di mulai, aku udah oleh pergi bareng Anna, kan?
"Iya juga ya, kalo di pikir-pikir sarannya bener. Kalau begitu Ayah, jadilah wali Liz di acara resepsi nanti." Pinta Liz dengan senyuman manis yang dia perjuangkan mati-matian. Sulit sekali rasanya tersenyum di depan Tara. Bahkan jika senyuman itu palsu.
"Dengan sennag hati." Jawab Tara tak kalah hangat senyumannya.
" Ayah udah makan?" Basa basi Liz yang sangat klasik.
"Belum sih,"
"Oh ya, sebentar ya, aku siapin makan dulu, Ayah makan bareng aja di sini. Kebetulan Liz sama Devan juga belum makan." Liz dengan cepat bangkit berdiri, dia meninggalkan kedua orang itu dengan senyuman yang ia paksakan.
Sudah jelas bukan? Kalau basa basi yang dia katakan tadi hanya dalih agar dia bisa melarikan diri dari sana.
Aku gak mau liat muka dia lagi! Tara, mati aja sana!
Liz tau, ucapannya sangat kasar, tapi mau bagaimana lagi, luka di hatinya tak akan sembuh hanya karna Tara memanggilnya, 'Nak' bukan?
Tara tersenyum hangat, dia menatap langkah Liz yang kian lama kian menjauh.
"Ayah? Ada apa? Ayah tidak memikirkan hal yang aneh bukan?" Tanya Devan, sejak awal tadi Devan sudah mencium bau-bau mencurigakan, dari sikap Tara.
"Kalau kau berfikir, Ayah tertarik dengan Liz sampai tahap ingin menikahinya, kau salah besar. Ayah tidak tau, sejak saat itu, awal melihatnya, wajahnya selalu terbayang di pikiran Ayah, saat Ayah ingin tidur. Bukan! Ayah bisa pastikan, ini bukan perasaan seperti perasaan mu! Entahlah, rasanya ayah tiba-tiba sangat menyayangi nya? Tanpa tau alasannya." Tara memegangi hatinya, hatinya yang terasa ringan saat dia melihat wajah Liz. Rasanya jiwanya begitu lega, saat dia melihat Liz baik-baik saja.
__ADS_1
Perasaan yang gak bisa dijelaskan ini, apa?