Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Pertemuan yang di bayangkan


__ADS_3

...***...


"Ayah yakin gak mau nginep di sini aja?" Tanya Devan memastikan.


Setelah apa yang ingin Tara sampaikan sudah selesai, dia bersiap untuk pulang.


"Ayah masih harus kerja besok. Jadi Ayah pulang sekarang, ingat jangan lupa kasih tau Arfen dan Thifa soal pernikahan kalian. Udah setengah tahun, kalo lebih dari ini mungkin mereka akan ngamuk." Nasihat Tara begitu hangat.


"Ya hati-hati," Devan menyalami tangan Tara. Pria jangkung itu melirik Liz, pertanda Liz juga harus ikut bersalaman.


"Hati-hati yah Ayah!" Liz awalnya ragu, dia akhirnya mencium tangan Tara.


Ntahlah, aku benar-benar tidak menyangka akan memanggil nya seperti ini, sungguh menggelikan.


Tara tiba-tiba mengusap kepala Liz lembut, Liz mendadak terkejut, bola matanya sedikit membesar. "Devan itu orangnya egois, kamu sabar-sabarin aja ya, kalau dia ada salah, kamu boleh kok ngadu ke Ayah. Nanti Ayah yang bakal marahin Devan."


"Iya Ayah, sering-sering main ke sini ya." Liz berusaha setegar mungkin menampilkan senyuman itu.


"Dia gak akan ngadu apa-apa, karna Devan akan kasih segalanya."


...***...


Devan ada di dalam kamar mandi. Liz menatap tangannya sekali lagi.


Aku memegang tangan pak tua itu? Heh, aku harap aku gak akan melakukannya lagi. Ya... Gak akan. Melihat dia hidup enak dan sehat seperti ini, dia memang bahagia.


Aku gak nyangka sih, bakal ketemu dia... Saat ini, cih... Ngeselin. Liat dia, mukanya, mendengar suaranya, darah ku rasanya mendidih.


Tapi ngomong-ngomong, aku baru sadar. Devan gak pernah cerita soal orang tuanya?


"Ngelamunin apa?" Devan duduk di sebelah Liz.


"Soal orang tua kamu, aku pikir mereka ga bakal suka aku?  Kita nikah kan diam-diam."


"Gak usah khawatir, mereka itu orang yang sangat baik. Gak mungkin bakal di tolak sih."

__ADS_1


"Walau aku cuma anak rakyat jelata, gak punya status sosial keluarga tinggi, hanya artis figuran?" Liz menatap Devan.


"Bahkan jika kau cuma penjual bunga juga gak masalah. Asal aku bilang cinta, maka mereka akan merestui."


Liz mengangguk mengerti. Sejujurnya, aku juga belum tau seperti apa mereka sih, wajah aslinya.


"Selama ini kau gak pernah hubungi mereka lagi? Aku gak pernah liat tuh, kamu ngunjungi mereka."


"Tetap berhubungan, tapi melalui telepon. Kadang telponan di kantor, atau mobil." Devan memegang leher Liz lembut.


"Aku cape bangett, kita tidur ya?"


"Ya, jangan mikirin soal pendapat orang tua aku. Atau besok mau langsung aku kenalin ke mereka? Besok kita bisa pergi ke kediaman Keluarga Arkasa. Ak--"


"Enggak!!! Jangan dulu! Aku belum siap, nanti, kenalin ke merekanya pas aku udah siap bisa ga? Ya ya?" Liz memberika tatapan memohon andalannya.


"Oke, setelah perkenalan dengan mereka. Kita bakal langsung adain resepsi besar-besaran, gak ada penolakan." Devan mencium kening Liz. "Oh ya, soal masa lalu mu, ki--"


"Boleh ga kita bahasnya besok aja, aku cape," pandangan Liz mennduk sendu.


Pria yang kau sebut berengsek, adalah pria yang kau panggil Ayah loh, gimana? Ironis bukan?


Liz langsung memeluk Devan, dia tidak tau kenapa. Tapi rasanya, sakit, sakit sekali. Sesak yang mendalam itu kembali menyeruak.


"Jangan tanyain apapun," Lirih Liz, dari suaranya jelas Liz sudah menangis.


"Aku gak bakal tanyain apapun, nangis aja. Ada aku di sini." Devan memberikan pelukan yang hangat itu, tangannya tak henti terus mengusap kepala gadis itu.


Pria berengsek mana yang meninggalkan kau dan ibu mu! Akan ku cari, dan akan ku pastikan dia berlutut dan meminta maaf pada mu! Berlutut di makam ibu mu dan memohon ampunan mu! Aku akan menghajar nya sampai tulangnya patah semua!!


Devan bisa merasakan, air mata itu keluar, dia merasakan air hangat yang membasahi bajunya, isakan Liz perlahan-lahan mulai terdengar.


"Meski aku bilang aku gak perduli, tapi kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa?"


Devan terdiam, matanya memancarkan amarah kebencian. Badannya gemetar menahan emosi.

__ADS_1


"Lupakan, dia cuma pria berengsek yang gak tau diri. Suatu saat nanti, akan ku patahkan tulang-tulangnya."


"Aku harap begitu." Liz ingin berhenti, namun tidak bisa, dadanya terlalu sesak, rasa sakit itu memaksa air matanya untuk terus keluar.


Sudah sejak kecil, aku selalu membayangkan bagaimana pertemuan ku nantinya dengan Ayah kandung ku, sudah sejak lama, bahkan saat aku belum membencinya. Aku pikir aku akan memeluknya, karna sangat merindukannya, atau bahkan menamparnya dan meluapkan segala emosi ku.


Pada akhirnya, pertemuan kami yang selalu aku bayangkan itu adalah seperti ini, aku yang harus membohongi perasaan ku, dan tetap tersenyum, berbicara wajar dan berakting. Padahal jelas sekali, aku ingin menamparnya, memarahinya, berteriak padanya sekeras mungkin, dan bertanya, kenapa dia meninggalkan aku dan Mama?! Apa kesalahan ku sampai aku di campakkan bahkan sebelum kelahiran ku.


Aku selalu penasaran akan jawabannya, aku ingin mendengar alasannya, meski nantinya aku gak akan percaya alasan itu.


Aku pikir, saat kebencian ini sudah menumpuk amat sangat tinggi, aku pikir tidak akan ada rasa sakit saat aku bertemu dengannya. Tapi kenapa? Ini sangat menyakitkan, hati ku lagi-lagi terluka. Ah, aku lelah.


"Aku cape..."


Devan bisa merasakannya, isakan yang berhenti itu, badan Liz tak lagi gemetar dalam pelukannya, dan dia sudah tertidur.


Devan memperhatikannya, bahkan meski dia sudah tertidur sekalipun, air mata masih saja keluar.


"Berhentilah menangis untuknya, air mata mu terlalu berharga. Maaf, aku rasa aku gak akan membahasnya lagi." Devan membaringkan Liz lembut, penuh kehati-hatian.


Papa dan Mama? Apa mereka bisa menyembuhkan luka di hati Liz? Bisa, pasti bisa! Mengingat Sifat Papa dan Mama yang seperti itu.


Pagi itu Liz membuka matanya, dan terlihat Devan yang masih tertidur. Ia memperhatikan wajah Devan baik-baik, wajah yang amat sangat tampan itu.


Jadi Tara sangat menyayangi mu sebagai anak angkatnya? Aku rasa aku gak akan meninggalkan mu secepat ini, akan ku buat kau gila karna cinta. Lalu akan aku tinggalkan, ya biar kau gila.


Liz memegang wajah Devan lembut.


Kau akan mati secara tersiksa karena hati mu terluka, luka yang gak akan pernah bisa di sembuhkan siapapun.


Mendadak Devan sudah membuka matanya.


"Selamat pagi sayang~" Sapa Liz seketika.


Devan menggam tangan Liz, dan menciumnya, sedikit senyuman terlukis di sana. "Pagi."

__ADS_1


...***...


__ADS_2