Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Kok bisa?


__ADS_3

"Liz bodoh, gak ada gunanya jelasin ini ke orang mabuk, toh ngomong nya aja udah ngelantur. Gimana ya caranya biar orang ini jauh dari aku?! Oh ya, Gerry!! Tapi aku gak punya nomornya, ah pasti Ken punya, Ken kan sahabatnya." Liz mencoba mencari handphone Ken di sakunya. Namun Ken malah mengambil kesempatan ini untuk mencium Liz. Tapi Liz dengan cepat menghentikan bibir Ken dengan tangannya.


Plak!!!


"Bodoamat mau kau mabuk atau gak! Menjauh dari ku!!!" Teriak Liz!


Mendadak Ken terdiam, dia menatap Liz tak percaya.


"Kenzaa!!!" Entah dari mana, namun Gerry tiba-tiba sudah datang. Dia langsung memapah Ken yang setengah sadar akibat tamparan keras Liz.


"Dia mabuk, mending kau bawa pulang deh, sebelum buat ulah." Kata Liz dengan nada dingin. Ini pertama kalinya Gerry melihat ekspresi dan cara bicara Liz yang begitu.


"Maaf, maafin dia. Dia pasti gak sengaja. Kami pulang duluan." Gerry menunduk, lalu berjalan gontai dengan memapah Kenza.


Liz menghela napasnya, dia lagi-lagi melihat langit di atas sana. Namun, mendadak bintang yang banyak tadi telah hilang, seolah mengerti dia tengah marah saat ini.


Pulang aja deh,


Liz mengambil ponselnya.


Devan:


^^^Sayang, aku mau pulang. Bisa jemput sekarang? ^^^


Liz bersiap keluar, namun saat di perjalanan dia di jegat oleh seorang sutradara, ya ya ya, itu adalah sutradara yang sama yang selalu meresahkan Liz.


"Ada apa? Kalau bapak mau saya melakukan pekerjaan tambahan, saya menolak dengan senang hati. Uang saya udah cukup banyak." Kata Liz enteng.


"Woah jangan berkata begitu dong, saya memang punya pekerjaan tambahan, tapi bukan yang seperti itu. Sini, biar saya kenalkan dengan produser yang lumayan terkenal." Tawarnya dengan wajah yang mencurigakan.


"Enggak deh, makasih."


"Ikut dulu dong, demi harga diri saya. Saya udah promosiin kamu ke dia. Kalau nantinya kamu gak suka, dan mau nolak juga gak masalah. Yang penting kalian ketemuan dulu."

__ADS_1


Liz diam sebentar. Akhirnya dengan segala pertimbangan dia mengikuti langkah sutradara itu. Tapi semakin lama semakin aneh, Liz malah di giring ke sebuah kamar hotel.


"Nah, ayo kita masuk." Kata Sutradara itu membuka pintunya, dia sudah masuk lebih dulu. Namun Liz diam di pintu.


"Gak deh, makasih. Lebih baik saya pulang." Liz ingin berjalan kembali pulang, namun tiba-tiba seseorang keluar dari pintu itu dan memanggil namanya.


"Nona Firlizy Defana, artis yang sangat berbakat, di dukung oleh wajah cantik dan body goals. Sempurna sekali." Kata orang itu.


Liz berbalik, dia menatap yang katanya produser lumayan terkenal itu. "Ya? Ada apa?"


"Perkenalkan, nama saya Viko,  yah seperti yang kau tau, saya adalah seorang produser. Saya sudah dengar, dan lihat sendiri kemahiran mu dalam berakting, jadi saya ingin menawarkan sebuah peran dalam film yang akan saya garap."


Liz diam sebentar, dia mencoba menampilkan ekspresi biasa aja. Tapi otaknya sedang berputar melalui banyak pertimbangan.


"Bagaimana kalau kita melanjutkan pembicaraan ini di dalam saja, tidak baik membicarakan job di lorong begini. Ayolah masuk, gaji yang kau dapat ini gak main-main loh jumlahnya." lanjut pria itu.


Liz menarik napasnya panjang, dia tersenyum penuh maksud pada dua orang itu. "Terima kasih atas tawaran kerja sama yang menggiurkan ini, tapi saya tidak bisa sekarang. Saya harus kembali pulang. Mungkin saat di pertemuan selanjutnya kita bisa mendiskusikannya lagi. Terima kasih, saya permisi." Liz sudah bersiap berjalan pergi.


Liz ingin menyahuti ucapan itu. "Mphhh!!!" Namun tidak bisa, mendadak ada yang membekap mulutnya, tidak berapa lama Liz pingsan.


...***...


Sebenarnya Liz tidak pingsan sepenuhnya, dia hanya sedikit tidak sadarkan diri. Liz tau kalau selama 10 menit kebelakang, pria itu telah mengikat nya saat ini di ranjang.


Syukurlah daya tahan tubuh ku selama ini baik. Jadi, hanya dengan begitu enggak membuat ku pingsan sepenuhnya.


Liz perlahan-lahan membuka matanya sedikit demi sedikit, samar-samar dia  melihat pria tua berperut buncit itu sudah membuka bajunya, bersiap mendekati Liz.


"Menjauh kau ba*i sialan!! Menjuhlah demi hidup mu! Aku adalah istri dari CEO terkejam, Devan Arkasa! Jika dia tau kau berani menyentuh ku, maka hidup mu benar-benar akan habis!" Teriak gadis itu keras, meskipun kesadarannya belum sepenuhnya kembali, tapi untuk membela diri dia masih bisa, tapi sayangnya tangannya terikat. "Lepaskan aku! Dan aku akan bilang untuk mengampuni mu!! Setidaknya hanya akan tangan mu yang terpotong! Bukan leher mu!"


"Oh sudah bangun? Hah sepertinya belum. Kau bahkan bermimpi sampai separah itu. Ck, Devan Arkasa konon, mengambil hati tangan kanannya mungkin kau gak akan sanggup. Oh ya kalau di pikir-pikir, dibanding bermain dengan orang pingsan yang gak bisa gerak, begini juga bagus. Tapi merepotkan juga kalau terus meronta dan berisik, kalau begitu biar aku beri kau obat manjur." Pria itu mengambil sesuatu dalam tasnya, dia langsung saja memasukkan dua pil itu dalam mulut Liz.


"Sia...lan... "

__ADS_1


Mati aku! Bagaimana ini, sial sial sial!! Kenapa aku bisa jatuh dalam perangkap murahan ini! Sialan!! Bahkan nama Devan juga ga berpengaruh!!


Tidak lama, Liz kemudian merasakan badannya panas, tubuhnya menggeliat. Menatap tubuh luar biasa itu, nafsu Viko semakin naik, dia sudah tidak sabar untuk menyapu seluruh badan Liz.


"Sudahlah, tidak perlu di tahan, kau bisa mengeluarkan semuanya. Tak perlu malu juga, akan ku beri tau rasanya nikmat dunia." Viko tersenyum miring.


"Dasar kau Ba*i sialan!! Brengsek!"


"Lihat saja, cacian dan makian itu akan berubah saat aku menyentuh mu, kau akan menyebut nama ku dengan suara indah mu, memanggil nama ku dengan dalam."


Liz dengan tenaga yang seadanya, beserta kondisi badan yang tidak bisa terkendali itu mencoba melepaskan diri.


Kenapa... Begini? Padahal bisanya meskipun jebakan ini selalu ada, aku selalu bisa menghindarinya dengan selamat.


Mendadak hanya muncul wajah Devan di dalam pikirannya, hanya ada Devan. Devan yang tersenyum tipis, sangat menawan.


"De...van..."


Brakkk!!!


Mendadak pintu itu di dobrak.  Ternyata orang yang masuk adalah Devan dan Vin.


"Beraninya kau sialan mengganggu waktu ku! Ak--"


Bukkkkhhh!!


Tukhhh!!


Tanpa ampun Devan menghajar orang itu, Viko! Tatapan menajam bak elang memangsa, wajah murka layaknya singa yang di ganggu. Kemarahan memuncak itu, akan di tanggung oleh Viko, karna berani mencoba menyentuh istrinya!!!


"De...van, Devan...," lirih Liz, sebenarnya dia tidak sadar apa yang terjadi, tapi mulutnya ingin terus menyebut nama itu.


Devan menoleh ke arah istri kecil kesayangannya itu. Penampilan yang sudah acak-acakan, rambut berantakan. Amarah Devan sudah mendidih.

__ADS_1


__ADS_2