Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Kembalinya Anna


__ADS_3

***


Uhuk! Uhuk!!!


Anna terbatuk seketika dalam pelukan Vin. Tampak Vin membantunya dengan sungguh-sungguh.


"Oh?" Devan menaikkan sebelah alisnya. "Jadi seperti itu? Kau ingin mengkhianati ku dan melindungi perempuan yang kau cintai? Walau kau tau perempuan ular itu penyebab Liz ku dalam bahaya?"


Vin menarik napasnya. "Saya tau dia bersalah, tapi tidak bisakah anda membiarkannya menyelesaikan perkataannya?"


"Bentar, tolong jangan seret saya kedalam masalah pribadi kalian. Saya ke sini serius ingin bertemu Liz, Liz dalam bahaya, aku, dan juga Vasa."


Devan menaikkan sebelah alisnya. "Siapa Vasa? Ah-bukannya dia manajer yang mengkhianati Liz, jadi kalian bersekongkol untuk menjatuhkan Liz?"


"Maaf sebelumnya, apa aku boleh bertanya satu hal?" Tampak wajah Anna lebih serius dari sebelumnya.


"Tutup mulut mu Anna, jangan katakan lagi hal-hal aneh. Kau tau kan? Nyawa mu saat ini sedang tidak baik-baik saja?" Potong Vin cepat, yang masih memeluk Anna. Ah, kalian tidak tau saja betapa stressnya Vin selama ini karna kehilangan wanita elegan ini.


"Vin, bisa diam tidak?"


Sungguh Anna tidak tau diri atau tidak peka, entahlah. Dasar gila, padahal ada pria tampan rupawan dan mapan yang sedang membela dan melindungi hidupnya. Bisa-bisanya dia berkata begitu kasar pada ksatrianya.


"Kau bertanya aku mencintai Liz atau tidak? Kau bodoh atau gila?"


Anna mengabaikan Vin, dia kembali fokus pada Devan. "Jadi jawabannya sangat mencintai, apa kau masih tetap mencintainya, walaupun dia ingin melihat mu menderita?"


"Tutup mulut mu, atau aku yang akan merobeknya."


"Liz mengkhianati mu, kami bertiga bersekongkol."


Mendadak suasana di antara ketiganya hening, hanya ada suara angin yang berhembus pelan. Devan diam, dia hanya menanti perempuan di depannya untuk melalanjutkan ucapannya. Karna sungguh, Devan memang mencurigai banyak hal dari Liz. Tapi dia tidak berani bertanya langsung, dia terlalu takut untuk kehilangan perempuan itu.

__ADS_1


Setelah Devan tau betapa gilanya dia, dan perih hatinya saat Liz meninggalkannya. Perasaan itu sungguh menyebalkan, Devan tidak ingin merasakan perasaan itu lagi. Untuk itu, dia akan tetap mempertahankan Liz, tidak peduli apapun yang terjadi. Itulah yang selalu Devan pikirkan.


Tapi faktanya, Liz memang selalu mencurigakan. Devan kembali mengingat malam itu, malam sebelum pernikahan mereka, dimana Liz kembali pulang tanpa luka yang parah. Bohong jika Devan bilang dia sama sekali tidak curiga pada cerita Liz yang kembali tiba-tiba. Tapi apalah dayanya? Dia hanya seorang suami yang takut kehilangan istrinya.


"Hey..., presdir Devan, apa anda mendengar suara jeritan rakyat biasa seperti saya?" tanya Anna lagi melihat reaksi Devan yang termenung, hanyut dalam pikirannya sendiri.


Vin dengan cepat menutup mulut Anna. "Sudah ku bilang diam Anna, pertanyaan mu itu tidak sopan, dan perkataan mu barusan lebih tidak masuk akal lagi. Diam lah diam!"


"Kau sendiri diamlah, kau pikir apa yang sedang kau lakukan saat ini? Menahan ku? Sungguh, itu sama sekali tidak berguna."


"Berguna atau tidak itu urusan ku, aku hanya ingin melindungi ibu dari anak-anak ku."


Mata Anna membelalak seketika. Apa yang baru saja di dengannya sekarang? Apa sekarang Tom and Jerry sudah berdamai? Apa-apaan ini? Pria yang berkata hal menggelikan seperti itu adalah Vin loh! Vin..., si asisten kejam milik Devan.


"Selama aku pergi, Apa kau kerasukan hantu kamar mandi? Ku mohon, kembalikan Vin ku yang lama, yang sama sekali tidak berbelas kasih."


Dugh! Vin menjedotkan kepalanya pada Anna.


"Tapi, aku berharap kau gila."


Devan sudah kesal, tolong jangan tambah beban pikirannya saat ini. Percakapan unfaedah mereka sukses membuat emosi Devan naik sampai ubun-ubun.


"Jangan banyak bicara, katakan saja apa yang ingin kau katakan." Kali ini Devan membiarkan Vin begitu saja, mengingat Vin bukan orang yang mudah jatuh cinta, pasti Anna adalah orang berharga untuknya.


"Tau nih Vin, rese! Jadi Tuan Devan, anda ingat pertemuan anda dengan Liz itu di sebuah hotel kan? Anda pikir Liz dapat informasi se-akurat itu dari siapa? Kalau bukan dari saya?"


Devan terdiam, perkataan Anna terdengar cukup masuk akal. "Tapi itu belum cukup akurat."


"Ya, benar. Oh ya soal Vasa yang melarikan diri itu juga rekayasa kami. Agar kami bisa menipu mu, dan memainkan kontrak pernikahan dengan mu. Vasa, Aku, dan Liz adalah rekan seperjuangan dengan tujuan membuat mu menderita."


"Apa alasannya?" Tatapan Devan semakin tajam, hingga rasanya mampu merobek mata lawan bicaranya.

__ADS_1


"Karna keluarga mu telah merampas kebahagiaan Liz. Tara! Dia adalah Ayah biologis Liz, dan karna Tara mencintai Thifa, dia meninggalkan bibi Deyna yang sedang mengandung Liz. Kau tidak akan pernah tau semenderita apa bibi Deyna dan Liz, bahkan sampai akhir hayatnya bibi Deyna sangat mencintai Tara."


"Tidak mungkin! Ayah Tara sangat mencintai perempuan itu, dia bahkan berkeliling susah payah mencari dia dan anaknya!"


"Omong kosong! Itu semua adalah salahnya, jika saja saat itu dia lebih memilih bibi Deyna dan bukan Mama mu, Liz pasti bakal hidup bahagia! Dan kami gak akan kena petaka bahaya saat ini!"


"Apa maksud mu?!"


...***...


Suasana makan malam di rumah Arkasa saat ini sudah lumayan ramai. Karna ada Tara saat ini, mereka hanya tinggal menunggu Devan saja.


Entah sudah beberapa kalinya Alreya terus saja mengeluh soal keterlambatan adiknya. Mau bagaimana lagi, jeritan perut Alreya benar-benar tidak bisa di toleransi.


"Kak, laper banget? Mau Liz telponin Devan aja?" tawar Liz. Yap, bagi Liz kakak iparnya yang friendly ini adalah sumber dia menyunggingkan bibirnya beberapa kali.


"Ga usah lah, jangan merepotkan diri sama hal-hal yang gak berguna. Di banding itu...," Alreya melirik Arfen dan Tara yang bercengkrama ria. Akhir-akhir ini suasana hati kedua calon kakek itu tampaknya sedang baik.


"Pa? Spesial buat Reya, makan duluan boleh? Ayolah Pa, kalo nunggu lima menit lagi, bisa-bisa ginjal Reya minggat pa."


"Makan aja, gapapa. Nanti papa bilang ke kakek, perjodohan mu di percepat." sahut Arfen enteng.


Alreya melirik ke arah Thifa. "Ma--"


"Liz? Apa ada yang mau dimakan? Buah-buahan asem gitu?" Thifa langsung mengajak menantu pertamanya ini berbicara.


Liz hanya menggeleng gagu. "Enggak Ma."


"Ayah!!" Teriak Devan masuk menerobos rumah, dia langsung menarik kerah baju Tara kasar. "Apa semua ini?! Kenapa selama ini Ayah ga pernah kasih tau, kalau Ayah itu adalah Ayah biologisnya Liz?!"


Semua orang di sana terkejut, tentu saja terutama adalah Liz. Dia sangat bingung bagaimana Devan bisa mengetahui fakta yang dia sembunyikan rapat-rapat ini.

__ADS_1


__ADS_2