
...***...
Akhirnya Liz dan Robin berhenti di depan pintu yang familiar untuk Liz. Dia ingat itu memang pintunya.
"Terima kasih atas bantuannya tuan Robin, aku akan masuk." Liz mendorong pintu itu. Namun langkah nya terhenti saat Liz sudah melihat Grisha ada di dalam dengan makanan yang banyak di atas meja. Di tambah sepertinya Grisha sedang menyuap Devan.
"Eh?" Liz terdiam sebentar, begitu juga Robin. Dia tidak tau kalau Grisha ada di dalam sedang makan bersama tuan mudanya. Jika Robin tau, dia mungkin tak kan membawa Liz ke sini.
Liz tersenyum gagu, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh-- A-ano eto maaf, aku masuk tanpa mengetuk pintu. Aku akan keluar, jadi lanjutkan saja. A--"
"Nona muda ini es krim yang anda pinta." Tiba-tiba Vin sudah datang membawa es krim yang di minta oleh Liz. Vin menatap ke dalam, sudah ada Grisha yang makan bersama dengan Devan.
Devan hanya diam saja. "Ah kau terlalu lama Liz, aku sudah makan di sini. Kau bisa letakkan itu di meja, aku akan makan sore nanti, jika aku lapar."
Grisha yang mendengar itu menerbitkan senyumannya. Sepertinya dia sudah mendapat dukungan Devan, itulah yang ia pikirkan.
Liz tanpa memudarkan senyumannya, "Oh begitu..., baiklah ak--"
Tiba-tiba sudah Anna yang datang masuk menerobos, dia langsung meletakkan beberapa berkas di meja Devan. Dia menunduk hormat di depan Devan. "Semua berkasnya sudah saya kerjakan, anda bisa memeriksanya, jika ada kesalahan. Bisa panggil saya lagi. Kalau begitu saya permisi." Anna berjalan kembali, namun dia berhenti di depan Liz.
"Nona muda, jika anda butuh ruangan, saya bisa meminjamkannya, silahkan ikuti saya." Anna menarik tangan Liz.
"Ka-kalau begitu aku pergi dulu ya," Liz melambaikan tangannya sembari tertawa gagu.
"Vin, tutup kembali pintu itu, dan kau bisa tunggu di luar." Titah Devan.
Vin mengikutinya, dia menutup pintu itu, dan berjaga di depan.
__ADS_1
"Maaf..., karena kecerobohan ku, Nona muda jadi menyaksikan hal ini. Aku yang mengantarnya ke sini, jika aku tau Tuan muda sedang bersama mantannya, aku tak kan membawa nona muda ke sini." Kata Robin sembari menunduk, wajahnya sedikit kesal.
"Tidak masalah, yang terjadi sudah terjadi, tidak bisa di ubah lagi. Yang terpenting sekarang kau kembalilah bekerja, pasti kau memiliki banyak tugas." Kata Vin tegas, tanpa ekspresi tanpa nada.
Robin berjalan kembali ke ruangannya, namun dia kembali mengingat wajah Liz tersenyum, senyuman manis Liz masih tersimpan hangat di kepala Robin.
Nona Firlizy ya? Padahal sudah melihat kekasihnya makan dengan mantannya, tapi masih bisa tersenyum begitu? Pasti cintanya besar sekali pada tuan Devan, jika cintanya besar, maka rasa sakitnya juga luar biasa hebat bukan?
Sedangkan tuan Devan? Dia sudah memiliki kekasih, tapi masih berhubungan dengan mantannya? Apa dia tidak memikirkan perasaan Nona Liz? Padahal dia tau kalau mantannya itu menindas Nona Liz dulu, tapi sekarang malah-- Ah ga tau lah! Ngapain juga aku mikirin ini itu! Fokus kerja! Kerjaan ku banyak! Cara fikir tuan muda kaya raya memang susah di tebak!!
Robin mengacak rambutnya frustrasi. Ia juga tak mengerti,
Tapi Nona Liz yaa? Dia orang yang sangat polos dengan senyuman manisnya, sebesar apa hatinya?
Robin mengingat senyuman-senyuman hangat Liz yang pernah ia lihat.
...***...
Anna membawa Liz ke dalam ruangannya, dia langsung menutup pintu itu rapat akurat.
"Jadi bagaimana? Apa nona muda sakit hati?" Tanya Anna dengan senyuman miring terlukis di sana.
"Hahaha!!" Liz tertawa, ia duduk di sofa. "Jangan bercanda, aku sama sekali tidak peduli dia mau apa dan dengan siapa. Di banding itu, ada hal yang lebih penting yang harus kita bahas. Apa kau sudah menyelesaikan semuanya?"
Anna ikut duduk di depan Liz. "Yaa begitulah, aku sudah membuat jalan Vin buntuh untuk mencari tau soal Vasa. Jadi kau tenang saja, tidak akan ku biarkam terjadi sesuatu pada kalian berdua."
Liz menghela napasnya lega. "Akhirnya~ aku benar-benar lega kau berhasil, aku tidak akan memaafkan diri ku sendiri kalau sampai Vasa terluka. Oh ya, terima kasih, berkat kau dan semua informasi yang kau berikan, aku bisa sampai sejauh ini."
__ADS_1
Itu benar, informan Liz selama ini adalah Anna. Sekretaris utama Devan.
"Di banding itu, aku bersyukur Grisha ada di sana. Aku jadi bisa makan siang bersama mu lagi. Ini masakan mu kan? Harus ku akui ini yang terenak. Sudah lama aku tak merasakan nya." Anna membuka bekal makan siang itu. Hidungnya sangat familiar dengan aroma masakan itu.
"Tentu saja, siapa juru masak terbaik di panti asuhan? Tentu adalah Firlizy Defana. Aaa aku jadi sentimantal, aku merindukan Vasa sekarang, di saat-saat seperti ini. Sudah lama sekali rasanya kita tidak berkumpul bersama, bertiga."
Tukhh
Anna memukul kepala Liz pelan. "Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Kita bertiga akan melalui ini, dan akan berkumpul bersama lagi. Aku janji..., aku akan menjaga kalian dengan segala yang aku punya."
"Hei Anna, melindungi ku konon? Ayolah, jangan lupa kau kalah bertarung silat dengan ku dulu." Ledek Liz.
"Itu dulu, jika saat ini kita baku hantam. Aku yakin aku yang akan menang."
"Tadi katanya mau melindungi, sekarang baku hantam, hey."
Keduanya tertawa ceria, melepas kerinduan masing-masing. Anna, Liz, dan Vasa adalah teman sejak kecil, yang di besarkan di panti asuhan yang sama. Ini adalah saat-saat dimana Liz bisa tersenyum tulus tanpa kepalsuan.
"Oh ya, bagaimana soal rencana balas dendam mu? Apa ada kemajuan hungan mu dengan Devan?" Tanya Anna.
Liz menggeleng. "Tidak ada sepertinya, dia masih seperti di awal, tetap dingin dan sering mengabaikan aku. Mungkin perjuangan ku akan lama, atau aku mungkin akan di campakkan saat mantannya hadir. Kau lihat kan? Dia sangat peduli pada Grisha itu?"
Anna menggangguk mengerti. "Itu artinya Grisha saat ini adalah ancaman terbesar mu. Baiklah, aku akan memikirkan cara agar menyingkirkan dia dari jalan mu."
"Gak usah, aku rasa aku bisa menendangnya dengan cara ku sendiri. Jadi Anna, kau fokus hancurkan bisnis nya, dan aku akan menghancurkan hatinya. Bekerja keras lah."
"Tenang saja, setelah aku mengetahui seluruh dokumen-dokumen rahasia, dia pasti akan bangkrut. Tunggu masanya Devan akan berlutut di depan mu, Tara dan Thifa akan berlutut di depan makam Bibi Deyna. Liz, jangan pikir hanya kau yang memiliki dendam membara untuk mereka."
__ADS_1
Liz tersenyum hangat. "Aku tau, kau dan Vasa pasti sama bencinya dengan ku. Kita akan berjuang bersama-sama membalaskan kemarahan ini." Liz dan Anna saling berpelukan hangat, menguatkan.