
...***...
Satu minggu sudah berlalu sejak kejadian hari itu, Thifa terus mendatangi Liz setiap hari. Mencurahkan perhatian seorang ibu padanya.
Bagi Liz, omong kosong kalau ibu mertua itu kejam. Ya, itu hanya berlaku untuk Liz ya, entah bagaimana kehidupan menantu di rumah-rumah lainnya.
Dan Liz, meski tidak berbicara, setidaknya dia tidak mengusir Thifa, dan masih ingin mengangguk. Ya, Thifa harus lebih bersabar menghdapi anak itu. Mau bagaimana lagi kan, mental Liz harus di jaga.
Tapi lain halnya dengan Tara saat ini. Setelah seminggu berlalu, Tara baru datang mengunjungi Liz, mungkin dia mengatur emosinya lebih dulu, merangkai kata-kata untuk meminta maaf pada putri semata wayangnya.
Namun Tara sadar, semanis apapun perkataannya, nasi sudah berubah menjadi bubur. Mungkin Tara bisa menerima kebencian Liz, tapi jangan halangi Tara untuk bertemu dengan putrinya.
Kini, Ayah dan Anak itu sedang duduk berhadapan di taman belakang. Sudah sepuluh menit berlalu, hanya ada basa basi canggung dari Tata yang tidak di jawab oleh Liz. Bahkan menggeleng pun tidak.
Tapi Tara bersyukur akan hal itu, dia masih bisa bertemu dengan putrinya. Karna, Tara pikir Liz tidak ingin melihat wajahnya lagi.
"Ayah udah mengerahkan semua yang Ayah bisa untuk menemukan Vasa. Dan hasilnya masih belum di temukan apapun." Tara mencoba membahas soal Vasa. Namun reaksi Liz? Tidak! Liz tidak bereaksi apapun. Dia hanya diam dan bernafas.
Padahal dulu Liz sangat takjub pada Vin yang hamlir totalitas sebagai patung, dan kini Liz hampir menyamai dirinya.
"Kau sudah makan?"
Tidak semudah itu untuk membuat Liz membuka mulutnya. Liz hanya diam memandangi bunga-bunga di hadapannya.
"Kau ingin anak perempuan atau laki-laki. Ah, Ayah harap dia anak perempuan yang cantik seperti mu dan ibu mu." Tara bahkan menyinggung bagian sensitif dari hati Liz, yaitu Ibunya. Tapi respon Liz? Tidak! Liz benar-benar tidak ingin berbicara dengan Tara.
Meski penderitaan Deyna bukan mutlak kesalahan Tara, tapi tetap saja Tara ikut andil dalam penderitaan itu. Dan Liz, tidak mau itu di biarkan begitu saja. Setidaknya, Tara harus menderita.
Tapi, bukankah selama ini Tara juga sudah sangat menderita? Apa Liz tidak mengerti itu semua.
__ADS_1
"Ah, kapan kau akan periksa kehamilan? Ayah akan menemani mu?"
"..."
"Terima kasih, setidaknya putri ku ini tidak mengusir ku pergi. Kalau begitu, Ayah kembali sekarang. Besok Ayah akan datang lagi." Tara bangkit berdiri, tangannya gemetar ingin mengusap kepala Liz. Tapi sayang, Tara tidak seberani itu, dia menarik kembali tangannya. Dia sangat takut kalau Liz tidak ingin melihat wajahnya lagi karna itu.
Tara berjalan perlahan keluar dari taman rumah kaca di sana.
"Dessert, aku suka dessert." Kata Liz saat Ayahnya sudah membalikkan punggungnya.
Jangan tanya betapa bahagianya dia mendengar suara putri tunggalnya, Tara menatap Liz tidak percaya. Matanya berkaca nyaris menangis, Dia benar-benar bahagia, putrinya ingin bicara dengannya.
Terima kasih Deyna, sudah memberikan aku putri seperti ini. Terima kasih.
Meskipun Liz tidak melihat ke arah Tara saat ini, Tara sangat bahagia.
"Ayah akan bawakan dessert paling enak besok, jadi temui Ayah dan tetap sehat. Ayah menyangai mu, sangat sangat sayang, lebih dari apapun di dunia ini!" Langkah riang membantunya mempercepat jalan.
'Ayah menyayangi mu, sangat! Sangat menyayangi mu, lebih dari apapun di dunia ini!'
Kepalanya dipenuhi suara Tara yang bergema di telinganya. Liz menempelkan pipinya pada meja putih polos itu. Jantungnya berdebar, dia tidak membenci perasaan itu. Ada rasa bahagia dan nyeri yang datang bersamaan.
Tiba-tiba ada satu tangan yang menyapa kepala Liz lembut. "Gapapa Liz, nangis aja. Ikuti aja arusnya, bahagia lah jika kau memang bahagia, dan menangislah jika kau memang bersedih. Jangan tahan perasaan itu, akui saja, kebencian mu sudah sirna kan? Api dendam itu sudah padam kan?"
Ya, orang itu adalah Anna. Sungguh di luar dugaan Liz, Anna bisa berubah sebijak ini dalam beberapa bulan tidak bertemu. Entah tragedi apa yang gadis sadis ini alami selama beberapa bulan belakangan.
"Kau dulu kan, tombak paling depan untuk membalaskan dendam ini?"
"Buat apa? Tara memang salah, tapi tidak sepenuhnya salah, balas dendam yang kita rencanakan adalah demi kebahagiaan. Dari dulu sudah ku katakan, balas dendamlah asal jangan merusak kebahagiaan kita. Apa gunanya balas dendam, kalau pada akhirnya semua orang menderita."
__ADS_1
"Aku..., aku suka waktu dia bilang menyayangi ku lebih dari apapun. Katanya, aku adalah putri berharganya. Aku menyukai itu, aku menyukainya An..., tapi aku masih kesal dengannya."
"Tidak apa-apa, ikuti saja alurnya, jangan melawannya Liz."
Liz kembali duduk dengan tegak, dia mengusap air matanya sendiri. "Apa ada perkembangan soal Vasa?"
"Gak ada."
"Oh ya, tadi pagi aku dapat telepon dari nomor yang ga dikenal, aku ga bisa angkat karna aku di kamar mandi. Tapi, waktu aku ingin menelponnya lagi, mendadak nomor itu tidak aktif."
Anna diam sebentar. "Jadi maksud mu, itu mungkin saja Vasa dan karna dia ketahuan kartunya di buang, begitu?"
Liz diam, dia memijit kepalanya yang frustasi. Tolong kasihani ibu hamil ini, kenapa dia di beri stres dan begitu banyak masalah di masa kehamilannya. "Seenggaknya itu yang ku pikirkan. Aku mau kasih tau Devan nanti malam."
"Terlalu terlambat, ayo kasih tau dia sekarang aja. Kita ke kantornya." Anna menarik tangan Liz.
Liz mengangguk, meskipun awalnya dia agak ragu-ragu karna clue yang di dapat begitu ambigu, dia sadar saat ini waktu sangat berharga, dia tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi. Clue apapun itu harus di diskusikan bersama, sekecil apapun kemungkinannya.
...***...
Saat Liz dan Anna sampai di depan kantor Devan. Petaka dan masalah selalu saja datang, entah dari mana tiba-tiba Ken sudah muncul di hadapan Liz.
Tolong penentu takdir, kasihani lah Liz yang imut ini. Dia sudah di timpa banyak masalah, jauhkanlah lalat-lalat pengganggu darinya.
"Hai Liz, lama tidak ketemu. Apa kabar?" Tanya Ken, seperti biasa menyapa dengan ramah tamah.
Sayang sekali saat ini Liz sudah berbeda, dia tidak tertarik lagi untuk berakting pura-pura ramah di depan semua orang, apalagi dia sudah tidak berminat menjadi artis, jadi jaga image sudah tidak di perlukan.
"Hai senior, aku baik, tapi saat ini aku sedang sibuk, jadi bisa minggir? Aku ingin bertemu suami ku." Jangan salahkan Liz, dia dalam suasana hati yang buruk saat ini.
__ADS_1
Ken terkejut, dia seperti melihat kepribadian lain dalam tubuh wanita yang di cintainya ini.