
...***...
Malam ini seperti biasa, Devan hanya duduk di sofa berkutat pada laptopnya saja, dan langsung menyuruh Liz tidur selesai makan.
Liz duduk di depan meja riasnya, dia bersiap untuk menyisir nya. Namun sebuah ide muncul di pikirannya saat melihat pantulan Devan di cermin.
Sejujurnya aku masih bingung sih, dia beneran suka atau ga..., coba tes lagi ah. Tapi kayanya bakal gagal deh.
"Sayang, sibuk?" Liz duduk di meja menatap Devan yang tengah fokus.
"Apa?"
"Sisirin? Tangan aku cape." Liz menyodorkan sebuah sisir itu pada Devan. Ia memasang wajah memelas yang layak dikasihani.
"Apa aku terlalu lembut? Sampai seberani ini?"
Haaaaa~ sudah ku duga gagal.
Liz hanya menghela napas dan bangkit berdiri untuk pergi, namun tangannya mendadak di tarik oleh Devan. "Sini sisirnya."
Liz tersenyum dengan berseri, memberikan sisir itu. "Makasih!!"
Devan perlahan mulai menyisir rambut itu. Ini pertama kalinya dia menyisir rambut gadis lain selain Alreya, kakak kandungnya. Ya meski Devan gak mau, dengan sifat Alreya turunan Nathan, sangat sulit untuk menolaknya.
Devan mulai terbawa suasana, dia mencium rambut gadis itu. Soalnya selain lembut, itu harum sekali.
"Oh ya, karna udah begini. Aku mau kau berhenti bekerja." Ujar Devan yang langsung mendatangkan nuansa hening yang cukup berat.
"Kenapa mendadak? Kan dulu udah setuju aku kerja, gimana sih."
"Kalau mau uang, berapapun aku kasih. Ga usah bahas aku bakal menendang mu dari kehidupan ku, itu ga akan terjadi? Ngerti? Jadi berhenti bekerja mulai besok."
Liz menolah ke arah Devan, dia menatap mata pria itu dengan penuh makna. "Jangan gitu dong. Aku kan jadi bingung."
"Aku akan memberi mu dua pilihan, tetap jadi istri ku dan lepas pekerjaan mu, atau bekerja dan berhenti jadi istri ku?" Sahut Devan dengan tatapan mata yang tak kalah serius. Liz yakin, kali ini Devan tidak main-main.
Tetap tinggal dan akan ku berikan segalanya... Segala yang kau inginkan. Kau tidak butuh pekerjaan.
Devan masih menunggu jawaban itu keluar dari bibir sang gadis favorit.
CURANG!!! WOY SETANNN!!! MANA BISA GINI?!!!
akh kok mendadak sih. Ga bisa, aku udah susah payah berjuang buat Devan. Masa iya hasilnya jadi gini, tapi karir aku juga susah payah ku bangun. Kepala ku sakittttt
__ADS_1
Lagian Devan ini kesambet apa sih, kok mendadak malah nyuruh berhenti, perasaan dulu mah biasa aja.
Aku ga tau mau milih apa! Tunda aja dulu!!
Liz merangkul leher Devan erat. "Boleh kasih aku waktu, tiga hari. Tiga hari buat aku nentuin pilihan aku, bisa ya?"
Devan menaikkan sebelah alisnya. "Sampai besok pagi, kau cuma waktu sampai besok pagi. Saat aku bangun besok, aku harus sudah mendapat jawaban mu."
MATA MU SAMPE BESOK!! ARGHHH DEVANN!!!
Liz tersenyum meski agak sedih. "Iya deh, makasih waktunya aku bakal pikirin malam ini."
Cupp...
Lagi-lagi kening itu menjadi sasaran empuk untuk pria yang lebih tinggi dari Liz itu.
"Tidurlah."
Meski Devan meminta Liz untuk tidur, tapi beban pilihan yang Devan berikan memaksa Liz yang imut untuk begadang malam ini. Liz benar-benar bingung.
Liz tetap tidak tidur, bahkan saat sudah pukul satu. Dan Liz juga sesekali melihat Devan. Pria itu masih terus berkutat pada laptopnya.
Hari ini kerjaan dia banyak banget ya? Udah dong kerjanya, tidur sana. Aku ga terima kalo kau sakit karna kurang tidur. Gak boleh mati cepat, siksaan ku aja belum di mulai.
Jangan bilang dia selalu cium kening ku sebelum tidur? Engga kan? Ga ya kan? Ngapain dia kurang kerjaan gitu?
"Pilih aku dan akan ku berikan segalanya... Segala yang kau inginkan. Jadi tetap lah tinggal." Devan menutup matanya, tangannya merangkul Liz hangat.
Deg deg deg deg
Deguban itu berasal dari Liz yang belum tidur. Dia juga tidak tau entah kenapa dia berdegub begitu kencang.
Mungkin karna aku terlalu senang? Ini beneran kan? Apa ini yang di sebut pernyataan cinta? Iya kan? Arghh ambigu bangettt deh. Ngapain pake kata-kata gitu, tinggal bilang 'Aku mencintai mu Liz, ' kan selesai, ga perlu repot dan di terjemahin.
Arghh bikin pusing aja deh. Apa yang aku lakuin? Aku bahkan belum cerita apa-apa ke Anna dan Vasa karna terlalu sibuk.
Dia udah cinta kah?
Liz mengambil ponselnya, dia langsung mengirim pesan pada Anna saat dia yakin Devan sudah tertidur pulas.
...***...
Matahari pagi ini naik dengan baik, dia memancarkan cahaya hangatnya seolah hari ini akan cerah. Namun, tidak untuk Devan saat dia tak lagi melihat Liz ada di sebelahnya.
__ADS_1
Devan langsung bangkit berdiri. Dia mencari ke kamar mandi dan balkon, tapi dia sama sekali tak menemukan gadis itu.
"Liz!!!" Teriak Devan menggetarkan seisi ruangan.
"Apa? Kenapa? Kesiangan? Aku telat bangunin ya?" Sahut Liz yang baru saja masuk dengan nampan berisi roti dan jus.
"Dari mana?" tanya Devan dingin.
Ga liat aku bawa makanan, ya dari dapurlah. Gimana sih ini...
"Dapur, siapin sarapan buat tuan muda."
"Buat apa? Kan biasanya juga sarapan di bawah."
Liz diam sebentar. "Entahlah, aku juga bingung."
Mendadak aura di dalam ruangan menjadi berat. Tatapan Devan juga sepertinya tidak baik-baik saja.
Moodyan kah? perasaan semalam baik-baik aja deh? Cuma karna telat bangunin semarah ini?
Liz meletakkan sarapannya di meja. "Mandi dulu sana, aku bakal siapin baju kantornya."
Devan diam saja, namun pandangannya masih menusuk bahkan lebih tajam dari sebelumya. "Apa? Aku buat salah kah?"
"Udah pagi ya, mataharinya udah naik." Sahut Devan sedikit melenceng.
Ha ya emang, yang bilang ini malam siapa. Oh! Jangan-jangan!!
Liz langsung merangkul Devan dengan erat. "Selamat pagi suami ku~"
Devan tersenyum miring. Dia menarik Liz untuk duduk. "Kau belum menyisir rambut mu?"
"Belum sih, baru di keringkan doang."
Devan mengambil sisir yang dari kemarin malam ada di atas mejanya, dengan perlahan mulai menyisir rambut Liz.
Dia mengesampingkan rambut gadis itu, melihat leher yang putih dan mulus itu. Ayolah, Devan itu laki-laki normal, dia terbawa suasana dan menicum leher itu.
"Apa kau mulai mencintai ku?" Tanya Liz secara mendadak yang membuat Devan terdiam.
"Ya, aku rasa aku mulai mencintai mu. Mungkin begitu..."
Seketika suasana antara keduanya hening. Mereka sama-sama diam. Devan hanya mampu bersandar pada bahu itu.
__ADS_1
Apa ini saatnya? Ini kah waktunya untuk aku membuang orang ini? Ya kan?