
Penipu? Vasa maksudnya?
Liz tersenyum gagu. "Belum sih, cuma akunya udah ikhlas kok Om. Gapapalah, mungkin memang belum rezekinya aku."
"Jangan Om, Devan anak saya, kamu istrinya Devan, jadi panggil saya Ayah aja sama kayak Devan."
"Coba panggil Ayah," Tambah Devan.
Liz diam membeku, bibirnya kelu, tenggorokannya serasa berat untuk mengeluarkan suara itu. Tentu saja hatinya juga tidak ikhlas.
"Aku manggilnya, Tuan Tara aja, kurang biasa." Kilah Liz sebisanya dengan senyuman semanis mungkin.
"Makanya harus di biasain. Toh dia memang Ayah aku, walau bukan kandung. Liz..." Devan menggenggam tangan Liz, tatapan matanya seolah menekan Liz.
"Tidak masalah, toh aku memang bukan Ayah kandung Devan. Jadi kau bisa memanggil Papa pada Arfen nan--"
"Ayah!" Ujar Liz seketika. Mendadak keheningan berat menyapa ruangan itu.
Aku membenci mu... Sangat... Sangat membenci mu. Lanjutnya dalam hati.
Devan tersenyum miring. "Nah bagus."
"Kalau sesulit itu, gak masalah, gak perlu panggil Ayah. Panggil Tuan Tara juga gak masalah, asal kamu nyaman aja." Timpal Tara.
"Gak kok Ayah, Liz gapapa, tadi cuma agak bingung aja. Ini pertama kalinya aku memanggil seseorang dengan sebutan Ayah." Liz mencoba tersenyum.
Devan dan Tara mendadak diam, mereka menatap Liz tidak menyangka.
"Apa? Bagaimana mungkin? Dimana Ayah mu?" Tara mengenyitkan dahinya heran.
"Ayah meninggalkan Mama saat aku masih dalam kandungan, dia pergi mengejar wanita lain, jadi gak pernah punya Ayah sih, hehe."
"Meninggalkan kau dan Mama demi wanita lain?! Pria sialan, Pria berengsek seperti itu gak layak di panggil Ayah! Ya dia juga gak layak punya anak. Kenapa kau gak pernah cerita?!"
"Eh, kau kan gak pernah tanya, ya Ak-"
"Bukannya Ayah mu sudah meninggal sejak kau masih dalam kandungan?"
"Heh, engga sih, itu cuma berita palsu yang aku buat. Yah biar nama baik aku ga rusak."
__ADS_1
Devan memeluk Liz dengan erat. "Lupakan dia, dia gak layak untuk kau panggil Ayah, pria berengsek seperti itu. Kalau mau nang--"
"Aku gak nangis! Aku cuma sesak napas, aku juga gak bodoh, buat apa menangisi orang yang bahkan gak perduli sama ku. Jadi, aku gak perduli." Liz melepas pelukan erat itu.
"Setelah ini, ceritakan segalanya tentang diri mu, masa lalu mu, orang tua mu atau apapun tentang mu, ingat, segalanya." Devan mengeratkan gengaman tangannya pada Liz.
Liz sedikit terkejut. "Eh, iya."
Dongeng lagi deh abis ini...
"Hahaha!!" Mendadak Tara tertawa keras, membuat Devan dan Liz sama-sama bingung. "Ya ampun, kalian ini pasangan baru yang benar-benar manis ya, Ayah gak nyangka kalau Devan akan berubah sedrastis ini."
"Meninggalkan kalian, dan kau yang masih dalam kandungan ya?" Tara diam, pandangannya sendu ke arah bawah, sekilas ingatan Tara terpaku pada Deyna yang tersenyum. "Pasti orang itu sangat merugi, dia pasti sangat menyesal, penyesalan seumur hidup."
Liz menatap sinis Tara tanpa di ketahui siapapun.
Ada apa tuan? Apa kau mulai merasa menyesal? Merasa bersalah? Tapi gak mungkin sih, toh kalau nyesal juga gak guna, aku ga butuh penyesalan mu. Rasa bersalah mu gak bakal bisa mutar waktu dan kembaliin kebahagiaan mama dan aku. Jadi lebih baik, jangan pasang ekspresi menjijikan itu, seolah kau sangat sedih kehilangan kami, padahal kau sendiri yang mencampakkan kami.
Tersenyum dan berbahagia lah, dengan begitu, aku akan benar-benar puas nantinya menikmati tangis kalian yang tak henti, dan aku adalah orang yang akan tertawa di akhir.
"Tidak masalah, gak ada sosok Ayah, aku juga masih punya Mama, dulu." Sahut Liz mencoba kuat.
"Dulu?" Tara menaikkan sebelah alisnya.
Liz menoleh ke arah Devan. "Loh? Kau tau? Kan aku belum cerita."
"Aku baru ingat aku pernah menyelidiki mu dulu sebelum akhirnya aku menikahi mu." Devan menghindari tatapan Liz.
"Waw... Aku ga tau tuh, ternyata Tuan Devan Arkasa kepoan orangnya, haha."
Devan melirik Liz, Liz hanya mencoba menahan tawanya.
"Orang bilang, cinta tumbuh karna terbiasa, aku rasa itu benar adanya. Meski mungkin saat ini kalian belum merasakan cinta yang begitu besar, saat kalian kehilangan dan berjauhan dengan salah satunya, di saat itu kalian akan sadar, bahwa cinta untuk orang itu lebih besar jauh dari apa yang kalian bayangkan. Dan jika kehilangan, rasanya-- aku harap kalian gak akan mengalami penyesalan itu." Lanjut Tara, tatapannya lagi-lagi masih sendu.
Huwaaa dongeng yang bagus Pak Tua, tapi aku gak perduli. Tipu muslihat yang baik ya~ Kebohongan yang duh duh~
Batin Liz, dia dengan santai memakan cemilan itu. Seolah menyimbolkan dia tidak peduli.
"Ayah udah makan? Liz udah masak banyak, ayo makan bersama. Ayah jangan kaget, makanan istri ku ini sangat enak." Kata Devan mengalihkan pembicaraan. Devan tau sejak kecil, bahwa Tara akan selalu sendu jika mengingat wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu, adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuat Ayah tidak menikah, membujang selama sisa hidupnya, menghabiskan waktunya seumur hidup untuk mencarinya dan anak mereka, yang dia bahkan tidak tau, laki-laki atau seorang perempuan. Aku harap Ayah akan bahagia dan segera menemukan mereka.
Batin Devan, dia tentu tau, karna selama ini, dia lah yang paling dekat dengan Tara.
"Ya, Ayah akan pulang setelah makan nantinya."
-
-
-
Mereka bertiga makan di meja makan, Tara mulai mencicipi sop yang tersaji.
Saat sendok itu masuk ke dalam mulutnya. Dia langsung tersentak. Ingatannya langsung terjatuh pada Deyna, dia sedikit mengingat lagi kebersamaannya dengan Deyna.
Rasa ini... Kayak masakan Deyna, dulu?
"Ada apa? Engga enak ya? Maaf...." Liz tersenyum gagu.
"Eh bukan, ini malah sangat enak sampai aku mengingat masa-masa indah." Tara tersenyum begitu tulus.
Masa-masa indah berbincang pada Thifa. Waw~
"Ayah bisa ke sini setiap ayah ingin. Liz akan memasakkan semua yang Ayah mau." Tambah Devan.
Dih, ogah!
"Oh ya ngomong-ngomong, kalian menikah, apa Arfen dan Thifa tau? Kenapa mereka gak kasih tau Ayah? ayah kan bisa datang dengan memberi hadiah pada menantu."
"Eh itu..."
Liz dan Devan sama -sama diam, mendadak semuanya hening.
"Jangan bilang kalau kalian menikah pun, tanpa sepengetahuan Arfen dan Thifa." Lanjut Tara menatap Devan.
"Ma-maaf, karna situasi ku jadi buru-buru, a--"
"Bukan, ini bukan salah kamu, ini salah Devan. Devan! Katakan sesuatu." Ujar Tara memotong ucapan Liz.
__ADS_1
"Kan sudah aku ceritakan semua Ayah, aku awalnya menikah hanya karna kontrak, Aku pasti akan memberi tau Papa dan Mama, tapi nanti, bisa kah Ayah rahasiakan dulu, sampai Aku sendiri yang menceritakannya pada Papa dan Mama?"
Tara menghela napasnya. "Tidak peduli itu karna kontrak atau bukan, Devan kau harus tetap bersama Liz. Dan segera beritahu orang tua mu, dan kalian harus mengadakan resepsi yang megah. Layaknya pernikahan keluarga Arkasa."