
...***...
Anna:
^^^Aku mau ketemu hari ini, bisa kan? Ada banyak hal yang harus aku ceritain.^^^
Hari ini ga bisa, Devan sinting itu punya banyak banget rapat. Kayaknya juga dia bakal pulang telat deh.
^^^Thanks info, besok gimana?^^^
Oke bisa. Ngomong-ngomong, ga ada masalah yang serius kan? Jangan bilang Devan mau membuang mu? Atau bertindak kasar?
^^^Enggak, udah deh gak ada masalah apa-apa, intinya aku bakal cerita besok.^^^
Liz menutup ponselnya, dia turun dari taxi online. Ya waktu ini masih sore, karna jadwal syutingnya berkurang, Liz jadi bisa pulang lebih cepat.
Penjaga itu membuka kan gerbangnya, namun wajahnya pucat, tangan dan langkahnya sedikit gemetar.
"Loh? Bapak kenapa? Sakit? Kalau sakit istirahat aja dulu pak, minta yang lain gantiin." Usul Liz sedikit khawatir.
"Bu-bukan kok non, saya gak apa-apa masih sehat-sehat aja, kuat kok buat jagain gerbang. Cuma Non kok naik taxi? Kan mobil di rumah banyak, kalo tuan muda tau nona naik taxi, pasti kami bakal di marahin habis-habisan."
"Ohh gitu, gakpapa pak, Devan ga akan marah. Kalau gitu saya masuk dulu ya." Liz melanjutkan jalannya lagi.
Emang Devan sekejam apa sih sampe penjaganya bisa mendadak pucat gitu? Coba inget-inget... Hmm kayaknya dia emang ga pernah lakuin tindak kekerasan loh.
-
-
Liz melemparkan tas nya di sofa, dia membaringkan badan mungil yang cukup kelelahan itu.
Devan:
^^^Suami ku~ Karna jadwal syuting singkat, aku jadi pulang lebih awal. Mau di masakin apa?^^^
^^^Kalau jawabnya apapun yang aku masak ntar tuan suka, awas aja, aku ga bakal jadi masak.^^^
Devan yang dari tempatnya, tersenyum tipis. Oh ayolah, padahal dia lagi rapat sekarang. Memang Devan ini benar-benar...
Tapi apa yang ku inginkan?
Jamu yang rasanya manis.
Liz yang baru menerima balasan pesan itu sedikit ingin menarik rambut Devan.
__ADS_1
Jamu yang rasanya manis katanya?
Pada akhirnya Liz tidak tau apa yang Devan inginkan, namun dia masih tetap ingin memasak untuk orang itu. Liz turun dari kamarnya, dia berjalan ke arah dapur.
"Viona, aku mau masak dong." Kata Liz saat beberapa pelayan berkerumun disana.
Viona mmendekati Liz, sedikit berbisik. "Nona udah berdamai sama tuan muda, kan? Atau ini cara agar tuan muda ga marah lagi?"
Liz juga ikut berbisik. "Kami udah damai kok." Liz tersenyum hangat.
Akhirnya setelah dua jam berlalu, semua masakan yang enak-enak itu sudah di hidangkan di atas meja.
"Apa yang kurang ya?" Liz bergumam sembari terus memperhatikan menu-menu yang di buatnya dengan kerja keras.
"Nona mau tau apa yang kurang?" tanya Viona.
Liz mengangguk, "sepertinya ada yang kurang, tapi apa ya, jamu? Udah sih."
Viona mendekat, dia berbisik pada Liz. "Maaf saya mengatakan ini, tapi menurut nona, bukan kah lebih baik kalau nona mandi lebih dulu. Tuan muda nantinya bakal bilang apa kalau non--"
"Sshhhttt Viona, iya iya kamu bener. Kayaknya aku bakal mandi dulu deh, iya itu yang kurang. Ya udah aku ke atas, kamu siapin yang belum."
"Siiip nona, percayain aja sama Viona. Semua bakal beres kok, Nona mandi terus dandan aja yang cantik. Cantik banget sampe tuan muda liat nona aja rasanya udah kenyang."
"Mana ada yang begitu, hadehh kau ini ya."
-
-
Kira-kira kapan aku bakal pergi dari Devan ya? Perginya terang-terangan atau diam-diam aja? Terus nantinya aku bakal bilang aku anaknya Deyna gitu? Jadi alasan balas dendam ku karna Mama Deyna. Kalau mereka tau aku anak Mama Deyna, gimana ya, reaksi orang itu. Tara... Gimana?
Ya kalau itu udah jelas, mereka bakal hina dan maki aku kan? Iya sih, mungkin sama Tara juga paling engga aku bakal di usir, dan semoga gak di lenyapin sih.
Ya bodoamat sih, intinya Devan yang bakal paling dalam tersakiti. Apa aku salah? Enggak!! Ini semua karna Devan! Dia yang udah rampas segalanya dari aku!! Ya ya, ini juga karna Tara dan Thifa.
"Devan..." Gumam Liz tanpa sadar.
"Kau merindukan ku tapi malah tidak menyambut ku di pintu, ada apa?" Mendadak Devan sudah ada di sebelah Liz. Kali ini efek melamun Liz benar-benar membahayakan.
"Dev--eh suami ku? Udah pulang? Kapan? Viona kenapa ga bilang kalau tuan muda udah pulang?"
"Nona, Viona udah manggil-manggil nona, tapi nonanya malah ga sadar. Yang ada ngelamun di sini sambil manggil nama tuan muda." Bela Viona seadanya.
"Serindu itu kah? Apa besok kau mau seharian ada di kantor? Melihat ku bekerja? Kalau aku terus ada di depan mu, kau ga perlu menyebut nama ku, kan?"
__ADS_1
Wajah Liz langsung memerah. "Ma-mana ada aku rindu, i-itu cuma... Arghhh ga tau lah. Udah sana ganti baju."
Semua pelayan yang melihat itu mencoba menahan tawanya, dari ekspresi mereka mungkin saja mereka bilang. 'Nona kelihatan sangat imut ya, kalau lagi malu.'
"Tunggu sebentar, aku akan turun nanti." Devan mengecup kening Liz, lalu berjalan naik ke atas.
Para pelayan di sana sekali lagi di buat terkejut oleh tingkah Devan. Mana mereka sangka Devan bisa berlaku semanis itu kan.
Devan berhenti saat dia sudah maju beberapa langkah. Namun dia berbalik, "Aku berubah pikiran, Liz ayo ikut aku."
Liz sedikit terkejut.
"Wah wah nona, aku harap makanan yang kita masak susah payah tidak terbuang sia-sia." Bisik Viona di telinga Liz.
"Viona udah mulai berani ya, awas loh nanti aku laporin Devan."
"Hihihi, maaf Nona,"
Liz berjalan mendekati Devan, dengan santainya merangkul gadis itu. Itu wajar, mereka kan suami istri yang sah loh.
-
-
"Sayang, aku turun duluan ya, mau hangatin jamunya lagi." Ujar Liz pada Devan yang masih di kamar mandi.
"Iyaa!"
Liz berjalan turun perlahan, suasana hatinya hari ini cukup baik sih, perlakuan Devan juga sangat lembut.
Viona?
Liz mempercepat jalannya saat dia melihat Viona mendekat.
"Nona muda, ada tamu yang mencari tuan muda." Kata Viona.
"Tamu? Siapa?" Liz langsung segera turun ke bawah.
Klien Devan kah? Masih ada bisnis yang belum selesai?
Liz bisa melihat seseorang berjas rapi yang duduk di sofa, tapi Liz tidak tau siapa, karna ia melihatnya dari belakang.
"Mohon tunggu sebentar, Devan sebentar lagi akan turun." Kata Liz menyapa tamu itu.
"Oh iya, gak masalah." Sahutnya ramah.
__ADS_1
Liz terdiam seketika, wajah itu, wajah yang paling dia benci saat ini ada di depannya.
Ta-ra?!