
***
"Apa maksud mu? Kenapa tante Yuli lakuin itu?"
"Karna dia gila, dia benci liat Bibi Deyna. Dia gak waras, dia gak suka liat orang lain bahagia. Terutama kalau itu temannya, kau tau kan? Si Yuli sialan itu teman dari bibi Deyna. Dia tidak suka, kalo bibi Deyna ketemu dengan Tara dan hidup bahagia. Si sialan itu benar-benar."
"Anna, ka--"
"Lalu kalau kau masih ingat tragedi penculikan kita saat masih kecil? Itu semua adalah rencana Yuli, dia ingin kita bertiga mati agar bibi Deyna sengsara."
"Apa?! Apa dia gila?!" Pekik Liz tak habis pikir.
"Memang, bukan cuma gila. Dia itu phsyco parah, untung udah mati." Mulut Anna ini memang benar-benar tidak bisa di bendung.
"Karna itu, masalahnya ada di Vasa. Vasa di tahan oleh penculik yang sama, yang culik kita dulu. Ga tau kenapa mendadak mereka nyulik Vasa begitu. Aku kehilangan jejaknya, kalau ga, aku ga bakal mau ngemis bantuan di sini."
"Arghh...," Kepala Liz mendadak berdenyut, dia bersandar pada Devan.
"Jadi maksud mu, Vasa itu telah di culik? Dan kau mau kami membantu mencarinya?"
Anna menggangguk mantap. "Iya!" Luar biasa mentalnya, entah memang kuat atau dia tidak peduli. Sahabatnya di tawan para psikopat, dan dia masih bisa bereaksi se-enteng itu.
"Devan, aku mohon..., tolong temuin Vasa. Dia itu keluarga ku yang berharga." Ringis Liz serak, dalam dekapannya. Tidak bisa! Devan itu paling tidak bisa kalau melihat istrinya dalam kondisi seperti itu.
__ADS_1
"Ayah! Pasti bakal Ayah temuin! Ayah bakal balas budi atas segala kebaikannya, pasti bakal Ayah temuin." Tara langsung bangkit berdiri. Meskipun begitu, Liz masih tidak ingin melihat wajah pria itu, atau bahkan siapapun. Dia menenggelamkan wajahnya rapat akurat dalam dada bidang suaminya.
"Ayah, Papa, atau Mama, tolong jangan temui atau bicara sama Liz dalam beberapa hari ini. Biarin mental Liz baik dulu, kalian tau kan, Liz sekarang sedang hamil? Aku yakin, dia saat ini sedang stress dan terpukul karna kehilangan sahabatnya. Jadi, aku mohon, jangan bicara dengan Liz. Menatap wajah kalian saja, mungkin Liz sudah tidak baik-baik saja."
Anna terkejut, ini di luar perkiraannya. Sepertinya dia kurang fokus tadi saat Devan menyinggung anaknya dengan Liz.
"Liz, kamu hamil?"
Liz mengangkat wajahnya, dia menatap Anna dengan senyuman. "Iya..., aku harap Vasa juga tau kabar ini."
Anna menempelkan kepalanya, pada kening Liz. Tanpa dirinya sadari juga, dia sudah menteskan air mata. "Tuhan, terima kasih." Anna mengangkat wajahnya, dia memegang wajah Liz, mata Anna menatap yakin pada Liz. "Tenang aja, Vasa bakal baik-baik aja. Aku yakin dia baik-baik aja, jadi Liz jangan stres, jangan terlalu khawatir, aku mohon. Jangan buat janin mu lemah, Vasa juga gak mau itu akan terjadi."
"Bakal aku usahain,"
Suami-able itu dengan sigap menggendong Liz kembali ke kamarnya. Anna tersenyum hangat, menatap keduanya hilang perlahan. Sejujurnya, sejak awal Anna sudah tau, bahwa Liz sudah jatuh hati pada Devan. Namun, Anna tidak ingin mengakui fakta itu. Sejak Anna mengetahui segalanya, dia mulai membuka hati pada hubungan Liz dan Devan, hingga akhirnya dia bisa dengan tersenyum merestui kehidupan mereka.
"Maaf merepotkan, apa saya bisa tetap tinggal di sini?" Anna menatap ke arah Arfen.
"Kau bisa tinggal di rumah ku." Potong Vin cepat, yang sedari tadi sukses besar menjadi patung pendengar yang baik.
"Jangan, nama mu Anna kan? Tetap tinggallah di sini, seperti kata Devan. Ini bagus untuk pemulihan mentalnya Liz, kami mohon bantuan mu." Sahut Reya tampak cukup serius. Dia peka, situasi ini bukan situasi dimana dia bisa bercanda dengan makanannya.
"Dan untuk kedepannya, Paman Tara tolong jangan mengunjungi Liz." Tambah Reya.
__ADS_1
"Aku gak setuju. Malah Aku pikir lebih bagus buat Tara mengunjungi Liz setiap hari. Setelah kejadian ini, anda malah tidak muncul di hadapannya? Pecundang sekali, apa anda mau Liz menganggap anda begitu?"
"Tapi Liz sedang hamil, ini bernahaya untuk janinnya. Bagaimana kalau Liz sampai stress?!" Bantah Tara. Sejujurnya dia juga sangat ingin bertemu dengan Liz, tapi dia tidak sanggup menerima kabar bahwa karena dirinya, putri dan cucunya akan sakit nantinya.
"Ada aku di sebelah Liz. Ini adalah kesempatan terakhir anda untuk memenangkan hati Liz, lakukan ini atau tidak pernah sama sekali? Dan Liz akan membenci anda salama sisa hidupnya."
"Sekali lagi aku katakan, adik ipar ku sedang mengandung. Aku gak mau ambil resiko, jadi jangan macam-macam." Potong Reya tak suka. Soalnya, di dalam perut adik iparnya itu ada keponakam yang selalu dia nanti-nanti dan tunggu kelahirannya.
"Cobalah mengerti, jika bukan sekarang maka tidak ada kesempatan lagi. Begitu juga dengan anda nyonya Thifa. Kalian berdua, cobalah memenangkan hatinya Liz sekali lagi." Anna menarik napasnya. "Sejujurnya, aku juga berharap kalian menderita seumur hidup. Tapi, jika begitu Liz juga akan menderita di sisa hidupnya, dengan kebencian yang selalu dia bawa dalam hatinya."
Anna berlutut seketika di hadapan Thifa dan Tara. "Aku mohon, menangkanlah hatinya dan hapuskan kebencian dalam dirinya, biarkan dia mengalami sisa hidup yang membahagiakan, tanpa perasaan kotor semacam dendam."
"Tunggu, kena--"
"Memang benar Yuli terlibat besar dalam penderitaan Bibi Deyna dan Liz, tapi kalian juga kan?" Anna menatap putus asa pada Tara.
Tara menarik Anna berdiri. "Kau benar, aku lah yang memulai percikan apinya, hingga apinya membesar, maka aku akan bertanggung jawab memadamkannya. Terima kasih, aku sangat bersyukur Liz memiliki keluarga seperti kau dan Vasa di sisinya. Kali ini..., kali ini aku pasti akan menemukan anak itu, dan akan membawanya ke hadapan Liz. "
Alreya menyunggingkan senyuman menyebalkannya. "Yah, selama adik ipar dan keponakan ku dalam radar aman, aku akan diam saja."
Entah apa yang sudah terjadi pada Anna selama ini, mendadak pemikirannya berubah, pola pikir dan sudut pandangnya lebih bijak. Dia bukan lagi Anna yang menggebu-gebu dengan dendam.
"Ini semua juga salah ku, andai aku bisa bertindak lebih tegas hari itu, a--" Thifa mulai angkat bicara.
__ADS_1
"Ini semua salah Tara, jangan salahkam dirimu sendiri. Salahkan saja dokter gila yang dulu terobsesi pada mu. Ingat Thifa, ini semua bukan salah mu." Arfen mencoba menghibur Thifa itu memang hal wajar, tapi haruskah dia menghibur istrinya dengan menyalahkan orang lain? Yah, walau memang itu semua murni kesalahan dan kebodohan Tara sih.